
"Kau tidak beritahu Sheila tentang ini?" tanya Willy seraya menyetir mobil.
"Aku akan menemuinya nanti."
"Sheila pasti akan sangat bahagia, mengetahui anaknya masih hidup. Kenapa kau tidak minta bertemu di panti asuhan saja?"
"Nomorku diblokir. Aku tidak bisa menghubunginya. Aku akan meminta Bu Fifi menghubunginya."
Sambil menggelengkan kepala, Willy berdecak heran. "Aku ikut prihatin. Kalian bertiga terpisah begitu lama. Sheila ke Jerman, kau menikmati kesendirianmu, dan anak kalian di panti asuhan."
Kedua bola mata Marchel kembali berkaca-kaca. "Aku baru akan mengadopsi Michella dan membawanya bersamaku. Tadi aku sudah minta izin Bu Fifi. Anakku, aku ingin sekali memeluknya."
Willy menginjak pedal gas dalam, membuat mobil melaju kencang. Berselang dua puluh menit, mereka tiba di panti asuhan milik keluarga Darmawan itu. Dengan langkah tak sabar, Marchel memasuki rumah itu. Segera menuju sebuah kamar dimana dirinya tadi meninggalkan Chella.
Menatap pintu kamarnya saja, Marchel sudah menjatuhkan air matanya. Samar-samar terdengar suara tangisan seorang anak yang sangat dikenali olehnya. Tangisan yang membuat hatinya ikut merasa berdenyut saat mendengarnya.
Marchel mendekat ke arah pintu dengan Willy yang mengekor di belakangnya. Dari sana terlihat Bu Fifi sedang menggendong sambil berusaha menenangkan Chella yang terbangun dari tidurnya. Wajah wanita itu pun berbinar, saat menoleh dan melihat Marchel berdiri di ambang pintu.
"Dokter Marchel, syukurlah! Chella terbangun dan menangis mencari Dokter. Dia sudah menangis sejak tadi," ucap Bu Fifi mengusap punggung Chella. "Chella sayang, itu Om Dokternya sudah datang."
Tangis gadis kecil itupun terhenti, namun masih terdengar sesegukan. Langsung menoleh ke arah pintu mencari seseorang yang sejak tadi dicarinya. Matanya bahkan telah sembab karena menangis begitu lama. Wajah mungil itu seketika berbinar. Meminta diturunkan dari gendongan Bu Fifi. Pelan-pelan mengayunkan langkah lemahnya ke arah Marchel.
Marchel berjongkok, merentangkan tangannya ketika Chella telah berada di hadapannya. Laki-laki itu pun tak kuasa membendung air matanya, memeluk putri kecilnya itu seerat-eratnya. Tidak ada kata yang dapat menggambarkan betapa bahagianya Marchel telah menemukan buah hatinya yang selama ini dipikirnya telah tiada.
Anakku, maafkan ayah, Nak... Tidak bisa menjagamu dengan baik sehingga mereka memisahkan kita seperti ini. batin Marchel.
__ADS_1
Hingga beberapa saat berlalu, Marchel masih terdiam memeluk Chella. Tak ada kata yang terucap. Hanya air mata haru yang terus-menerus mengalir. Dan hal itu membuat Bu Fifi merasa heran. Mengapa sang dokter menangis sambil memeluk Chella.
Willy pun ikut merasa terharu. Melihat pertemuan ayah dan anak itu. Pertama kalinya melihat Chella setelah dinyatakan membaik setelah sebulan lamanya dirawat di ruang Nicu-- membuat Willy yakin bahwa Chella memang anak Marchel yang ditukar oleh Audry.
"Bu Fifi, bisa kita bicara sebentar?" ucap Willy ketika melihat raut wajah bingung wanita pengurus panti asuhan itu.
"Ya, Dokter! Tentu saja."
Mereka kemudian meninggalkan Marchel dan Chella berdua, menuju ruang tamu yang tak jauh dari kamar itu. Di sana Willy menjelaskan pada Bu Fifi tentang fakta yang baru saja mereka temukan. Tentang Chella yang sebenarnya ditukar seseorang yang tidak bertanggung jawab di rumah sakit, beberapa jam setelah kelahirannya. Juga Fakta tentang Marchel dan Sheila yang merupakan orang tua kandung Chella.
Bu Fifi mengusap air matanya, bahagia sekaligus haru mengetahui kenyataan itu. "Ikatan batin antara orang tua dan anak memang sangat kuat. Chella tidak pernah mau dekat dengan orang yang baru ditemuinya. Tapi pertama kali bertemu Sheila, Chella seperti tidak mau berpisah darinya. Dengan Dokter Marchel pun begitu. Saat Dokter Marchel meninggalkannya dalam keadaan tertidur, dia akan menangis saat terbangun dan tidak melihatnya."
"Ya itu benar, Bu. Dan melihat wajah Chella saja, aku sudah yakin dia memang anak Marchel dan Sheila," ucap Willy menyadari ada kemiripan antara Chella dan Marchel.
"Sepertinya belum. Dia masih marah pada Marchel, sehingga tidak bisa menghubunginya."
"Kalau begitu aku saja yang menghubunginya." Bu Fifi menuju sebuah pesawat telepon yang terletak di atas meja di sudut ruangan itu, hendak menghubungi Sheila. Namun, setelah beberapa kali mencoba, panggilannya tak juga terhubung.
"Nomor teleponnya tidak aktif. Mungkin Sheila sedang sibuk," ucap Bu Fifi meletakkan kembali gagang telepon.
"Dia juga tidak ada di rumah sakit," timpal Willy.
"Kalau begitu aku akan mencoba menghubungi telepon rumahnya. Mungkin saja Sheila ada di rumah." Bu Fifi segera meraih sebuah buku dan mencari nomor telepon rumah Sheila. Namun, seorang wanita yang menjawab pun tidak mengetahui keberadaan wanita muda itu. "Dia tidak ada di rumah," ujar Bu Fifi.
****
__ADS_1
"Chella kenapa menangis?" tanya Marchel sesaat setelah melepaskan pelukannya dan membawa Chella ke dalam pangkuannya. Bahkan gadis kecil itu masih sangat lemah dan terlihat memucat, sehingga Marchel menyandarkan Chella di dadanya.
"Mau ikut Om Dokter!" jawabnya polos.
Marchel kembali memeluk gadis kecil itu, lalu mengecupi seluruh bagian wajahnya. Mengusap wajah mungil itu dengan sayang. "Chella mau ketemu ibu kan?"
"Ibu siapa?" tanya Chella tak mengerti. .
"Ibunya Chella. Kakak cantik itu ibunya Chella." Marchel berusaha menjelaskan walaupun Chella terlihat bingung.
"Ibu?"
"Iya. Dan Om Dokter, ayahnya Chella."
"Ayah?" Chella kembali bertanya dan dijawab anggukan oleh Marchel. Tentu saja, bocah berusia empat tahun itu tidak akan mengerti tentang Om Dokter yang tiba-tiba menjadi ayahnya, dan juga kakak cantik yang menjadi ibunya.
"Iya, jadi mulai sekarang Chella panggil om dokter ayah."
"Kenapa?"
"Karena om dokter adalah ayahnya Chella." Pelan-pelan, Marchel menjelaskan pada anaknya itu. Sementara Chella masih terlihat bingung, membuat Marchel kembali memeluknya.
Tidak akan ada lagi yang akan memisahkan kita. Setelah ini kita akan menjemput ibumu, Nak. Dan kita bisa bersama kembali.
*****
__ADS_1