Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Hukuman


__ADS_3

Sheila memejamkan matanya, merasakan tangan yang membelenggu tubuhnya. Sheila sudah berusaha melepaskan dirinya, namun semakin erat tangan itu memeluknya. Keduanya terdiam selama beberapa saat.


"Kau begitu marah padaku sampai pergi selama ini. Apa kau tahu, selama empat tahun ini aku terus mencarimu kemana-mana seperti orang gila. Aku sangat merindukanmu. Apakah hukumanku belum selesai? Apa kau belum selesai menghukumku?" bisik Marchel di telinga Sheila.


Sheila kembali membeku. Namun, sesaat kemudian ia tersadar. Kemarahan kembali merasuk ke hatinya.


"Lepaskan!" Sheila berusaha memberontak, namun semakin erat pelukan Marchel.


"Tidak akan!"


"Lepaskan aku! Kau pikir siapa dirimu?" teriak Sheila seraya mendorong tubuh Marchel, sehingga laki-laki itu mundur selangkah. "Siapa kau? Kau tidak punya hak menyentuhku!" Mengusap-usap bagian tubuhnya yang baru saja disentuh oleh Marchel.


"Sheila..."


"Aku bukan Sheila!!" teriaknya dengan suara menggelegar. "Sheila sudah mati empat tahun yang lalu."


Marchel memejamkan matanya. Ada rasa bahagia sekaligus sedih telah menemukan Sheila, namun Sheila yang di hadapannya bukanlah seorang gadis polos. Melainkan seseorang yang berbeda, dengan tatapan kebencian yang terlihat jelas di matanya.


"Aku tahu aku bersalah. Aku mengabaikanmu dan pergi meninggalkanmu. Aku sangat menyesal Sheila ... Maafkan aku!"


"Apa penyesalanmu bisa mengembalikan anakku?" tanyanya seolah sedang menyindir. "Aku mungkin bisa memaafkanmu kalau kau bisa mengembalikan anakku."


Marchel terdiam, tidak ada hal yang lebih menyedihkan dari kehilangan istri dan anaknya.


"Dia juga anakku, Sheila. Bukan kau saja yang menderita karena kehilangannya."


"Anakmu? Setelah meragukannya dan menuduhku, kau baru mengakuinya ..."


"Sheila... aku..."


"Apa Kak Marchel tahu apa yang terjadi padaku? Aku mengalami apa yang tidak seharusnya terjadi. Aku dihina, aku diusir, aku diperlakukan seperti wanita murahan. Pada saat mereka semua menghinaku karena tuduhan hamil tanpa suami, tidak ada seorang pun yang membelaku. Karena suamiku memilih pergi meninggalkanku sendirian. Aku diusir dari rumah suamiku sendiri dan hidup menyedihkan. Apa kau tahu semua itu? Kau dimana pada saat aku benar-benar membutuhkanmu? Aku menjalani masa kehamilanku dengan menyedihkan. Apa Kak Marchel pernah memikirkan itu? Tidak, kan?"


"Beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku, Sheila..."


Sheila menggeleng pelan, dengan wajah menggeram. "Tidak akan ada kesempatan untukmu. Karena rasa yang kumiliki untukmu hanya kebencian. Dan ingat, aku bukan Sheila! Aku bukan lagi istrimu."


Marchel menjatuhkan setitik air matanya. "Tapi bagiku kau tetap Sheila-ku yang polos."


Ucapan Marchel membuat Sheila berdecih. "Sheila? Seorang gadis culun dan berkacamata tebal maksudmu? Dia sudah mati. Sekarang kau lihat siapa yang ada di hadapanmu!"


"Aku tahu itu."

__ADS_1


"Sekarang kau tahu bedanya, kan? Kalau begitu tinggalkan aku sendiri!"


Marchel kembali mendekat pada Sheila, mengusap puncak kepalanya. Namun, secepat kilat Sheila menepis tangan Marchel.


"Aku bilang jangan sentuh aku! Pergilah, seperti caramu meninggalkanku saat itu."


"Baiklah, Sheila. Tapi aku akan tetap menunggumu sampai kapanpun."


Setelah mengatakan itu, Marchel pergi meninggalkan Sheila seorang diri di sana. Tinggallah Sheila seorang diri merenung. Hingga tepukan lembut mendarat di bahunya.


"Nona manis... Aku kan sudah bilang padamu, jangan pernah menyendiri. Kau masih punya pundak ku untuk bersandar," ujar Rayhan mencoba menenangkan gadis yang sudah dianggapnya bagai adik sendiri itu.


Tidak ada sahutan. Sheila hanya terus terus terdiam dengan tatapan dinginnya. Sehingga Rayhan memeluknya.


"Apa kau begitu sedih hanya karena Dokter Marchel tidak mengenalimu. Apa itu benar-benar menyakitimu?"


Lagi-lagi tidak ada sahutan, Rayhan segera melepas pelukannya. Menatap dalam-dalam wajah adik kesayangannya itu. Namun, Sheila berusaha mengendalikan perasaannya. Ia beberapa kali menghela napas.


"Dia mengenaliku Kak Rey ... Dia tahu aku adalah Sheila."


"Dokter Marchel bisa mengenalimu?" tanya Rayhan diikuti anggukan oleh Sheila.


"Kak Rey, kenapa dia tidak menikah lagi saja? Bukankah aku sudah empat tahun pergi?"


"Aku sangat membencinya, Kak Rey... Aku benci dia!"


Rayhan mengusap rambut panjang Sheila. "Baiklah aku mengerti kau masih sangat marah padanya. Sekarang jangan sedih lagi. Semua akan membaik."


Rayhan merangkul Sheila masuk kembali ke dalam hotel, bersamaan dengan Marchel yang baru saja keluar dari dalam sana. Dengan tatapan dingin, sang dokter melewati Sheila dan Rayhan begitu saja. Tidak ada sapaan atau pun senyum. Seolah Marchel tidak peduli, walaupun wanita muda yang berpapasan dengannya adalah pemilik rumah sakit tempatnya bekerja.


"Kau harus kuat, Sheila. Jangan pernah menunjukkan sisi lemahmu di hadapan orang lain," ujar Rayhan.


Acara itu pun berlanjut dengan penutupan dan hiburan. Beberapa orang juga terlihat masih menyalami Sheila, sebelum acara itu benar-benar selesai.


*****


Marchel baru saja tiba di rumah, disambut oleh sang ibu. Seperti biasa, Marchel terlihat enggan bicara dengan wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Kau sudah pulang, Marchel?"


"Iya, Bu."

__ADS_1


Ibu mendekat pada Marchel yang sedang melepas sepatunya. Wanita paruh baya itu menyeka setitik air matanya. "Bagaimana dengan Sheila? Apa sudah ada petunjuk tentang keberadaannya?"


Setiap hari, saat kepulangan anaknya ke rumah, ibu akan menanyakan menantunya itu.


"Belum, Bu... Tapi aku akan terus mencarinya." Marchel melangkah meninggalkan ibu, menuju kamarnya yang berada di lantai atas. Sedangkan ibu masih mematung.


Sejak kejadian menyedihkan itu, Marchel yang dulu sangat menghormati sang ibu menjadi sangat dingin. Bicara dengan ibu hanya seperlunya saja. Ibu pun merasakan hukuman dari Marchel atas perbuatan jahatnya pada Sheila.


***


Pagi itu, aktivitas di sebuah rumah sakit berjalan seperti biasanya. Marchel kembali disibukkan dengan banyaknya antrian pasien hingga menjelang siang.


TOK TOK TOK!!


Terdengar ketukan pintu yang membuat Marchel menghentikan sejenak aktivitasnya.wngarahkan pandangannya pada pintu dimana Dokter Willy sedang berdiri. Seperti biasa, Willy akan mengajak Marchel makan siang.


"Ada apa? Kau terlihat sangat murung." Willy masuk ke dalam ruangan itu dan menjatuhkan tubuhnya di kursi.


"Aku tidak apa-apa."


"Apa kau tahu, Nona Qiandra itu sedang berkunjung di rumah sakit ini. Aku baru saja bertemu dengannya. Dia itu benar-benar cantik, ya..."


Marchel terlihat enggan merespon ucapan Willy. Dia sibuk merapikan mejanya.


"Apa menurutmu, dia sudah punya pacar?"


Marchel melirik Willy dengan ekor matanya, "Dia sudah punya suami."


Ucapan Marchel bagaikan sambaran petir bagi Willy. "Kau jangan bercanda. Jelas-jelas dia itu masih gadis, Marchel. Dia belum menikah."


"Dia adalah Sheila."


Willy membulatkan matanya, sangat terkejut mendengar ucapan Marchel. "Tentu saja, dia memang Sheila. Qiandra Sheila Darmawan. Iya kan?"


"Dia benar-benar Sheila, Will. Pertama kali melihat wajahnya semalam, aku bisa mengenalinya. Wajah itu adalah wajah yang sama dengan gadis yang bersamaku malam itu."


Willy masih membatu, keterkejutannya membuat sang Dokter Obgyn itu tidak dapat berkata-kata.


"Kau bercanda kan? Mana mungkin Qiandra adalah Sheila?"


"Aku sudah bicara dengannya semalam. Dia bilang padaku, dia hanya bisa memaafkanku jika aku bisa mengembalikan anaknya. Sheila sedang menghukumku."

__ADS_1


*****


__ADS_2