Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
EPILOG


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian ....


Kehadiran anak dalam rumah tangga adalah dambaan setiap pasangan yang telah menikah. Anak adalah bentuk penyatuan dari kedua orang tuanya. Anugerah yang tak ternilai harganya. Kehadiran seorang anak menjadi penyempurna kebahagian dalam bahtera rumah tangga. Dan kehadirannya pula mampu mempererat hubungan antara pasangan suami istri. Pada anaklah, setiap orang tua menggantungkan harapan dan keinginannya. Maka berbahagialah mereka yang memiliki anak dalam pernikahannya.


Di sebuah ruangan terdengarlah tangis melengking seorang bayi mungil menggema ke setiap sudut ruangan, sesaat setelah kelahirannya. Marchel mengusap setitik air matanya yang jatuh, menatap tubuh kecil bayi berjenis kelamin laki-laki itu. Ada rasa bahagia yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Berbeda dengan kelahiran anak pertamanya yang penuh ketegangan dan drama panjang yang berakhir dengan perpisahan selama bertahun-tahun.


Kini kebahagiaannya telah lengkap. Menjadi ayah dari dua orang anak adalah sebuah berkah baginya.


"Selamat, ya. Sekali lagi kau menjadi seorang ayah." Willy memeluk sahabatnya itu sambil menepuk punggungnya dengan keras.


"Terima kasih. Kau harus segera menikah, supaya kau tahu rasanya menjadi seorang ayah."


"Aku belum siap direpotkan dengan urusan membujuk anak kecil yang sedang marah. Haha!" Bermaksud menyindir Marchel yang selalu saja menjadi korban saat anaknya sedang merajuk.


Di luar sana ada ibu, Chella dan juga Rayhan, Maya dan Pak Arman yang sedang duduk menunggu dengan harap-harap cemas. Sudah dua jam operasi berlangsung namun belum ada seorang pun yang muncul dari balik pintu kaca itu. Chella sudah tidak sabar menunggu adik yang disebutnya baby boy itu. Bocah yang kini berusia lima tahun itu sangat bahagia saat mendengar akan memiliki seorang adik laki-laki.


"Opa, kenapa Dede bayi nya lama?" tanya Chella yang sedang duduk di pangkuan Pak Arman.


"Tunggu sebentar lagi," jawabnya sambil mengusap kepala gadis kecil itu.


"Chella mau masuk ke dalam. Mau lihat bunda sama ayah." Matanya sudah berkaca-kaca pertanda akan menangis.


"Belum boleh. Anak kecil tidak boleh masuk ke sana," ucap Pak Arman mencoba menjelaskan.


Rayhan yang melihat itu langsung menyela, "Di dalam itu banyak jarum suntik, gunting, sama pisau. Chella tidak takut sama jarum suntik. Dokter itu suka suntik anak kecil yang cengeng," ujar Rayhan dengan santainya membuat Pak Arman menghadiahinya sebuah lirikan maut. "Aku tidak salah kan, Ayah! Di dalam memang banyak jarum suntik dan gunting dan pisau." Rayhan mengulang lagi kalimat yang membuat Chella menunduk takut. Cubitan gemas dari Maya pun mendarat di perutnya.


"Auh ... apa yang kau lakukan? Tanganmu itu seperti kepiting saja!"


"Lihat kau menakutinya."


"Biar saja. Daripada dia menangis minta masuk ke sana."


Tidak lama kemudian, pintu kaca itu terbuka. Marchel keluar dari sana dengan pakaian berwarna hijau. Raut wajahnya penuh dengan senyum pertanda laki-laki itu sangat bahagia. Chella langsung berlari ke arahnya.


"Ayah, mana Dede bayinya?" tanya Chella.


"Sebentar lagi juga keluar," ucapnya sambil mengecup wajah gadis kecilnya itu.


"Bunda mana?"

__ADS_1


"Bunda juga masih di dalam. Nanti Chella boleh sama bunda kalau keluar dari sana ya. Sekarang belum boleh."


Mereka yang sejak tadi menunggu bergantian memberi ucapan selamat pada Marchel atas kelahiran anak keduanya.


Dua orang perawat keluar dari ruangan itu dengan mendorong sebuah box bayi, membuat mereka yang sejak tadi menunggu saling berlomba untuk melihat bayi kecil itu. Begitu pun dengan Michella yang sejak tadi sudah tidak sabar untuk melihat adik kecilnya.


*****


Sheila sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Setelah selesai menjalani operasi ia tertidur selama beberapa jam. Di sisinya ada ibu yang tidak pernah beranjak dari sana. Sejak tadi wanita paruh baya itu menunggu menantu kesayangannya.


Chella pun tidak beranjak dari ruangan itu. Dengan di gendong Rayhan, ia menatap bayi kecil yang terbaring di dalam box bayi.


"Wah dia mirip sekali dengan Kak Marchel ya. Benar kan?" ucap Rayhan pada Maya.


"Iya. Aku juga merasa begitu. Bibirnya saja yang seperti Sheila."


"Dede bayi nya mirip Chella!!" Gadis kecil itu cepat-cepat menyela. Tidak rela jika paman kesayangannya itu menyebut adik bayinya mirip sang ayah. Padahal diri nya pun sangat mirip dengan ayahnya.


"Iya, mirip Chella. Chella kan juga mirip ayah."


"Tidak! Chella mirip bunda."


"Ya sudah mirip semua. Tapi lebih mirip ayah."


Di sudut sana, Sheila baru saja membuka matanya. Ibu segera mendekat ketika mendengar suara lenguhan kecil dari sana.


"Kau sudah bangun, Sheila," ucap Ibu seraya mengusap rambutnya.


"Bagaimana anakku, Bu? Dimana dia?" tanya Sheila dengan suara serak.


"Dia sehat. Itu di sana, dia masih tidur." Ibu menunjuk sebuah box bayi dimana Rayhan, Maya dan Chella berada. Senyum mengembang di wajahnya, mendengar anaknya dalam keadaan baik-baik saja.


"Syukurlah. Kak Marchel dimana?"


Belum sempat ibu menjawab, Marchel sudah muncul dari balik pintu dengan membawa seikat bunga mawar putih. Melihat Sheila sudah terbangun, Marchel segera mendekat padanya.


"Sudah bangun ya?"


Sheila menyahut dengan anggukan diiringi senyum tipis yang menandakan ia masih merasa lemah setelah menjalani operasi.

__ADS_1


****


_


_


_


_


_


Malamnya Marchel sedang menidurkan Chella dengan mengusap punggungnya seperti biasa. Gadis kecil itu menolak pulang karena tidak ingin meninggalkan adik kecilnya, sehingga mau tidak mau, Sheila meminta petugas rumah sakit mengganti pembaringan pasien dengan tempat tidur ukuran yang lebih besar--agar muat mereka berempat.


Sheila baru saja selesai menyusui anaknya. Ia memandangi wajah bayi mungil yang sedang tertidur di pangkuannya dengan seulas senyum bahagia.


"Dia mirip aku kan?" ucap Marchel dengan senyum kebanggaan, sementara tangannya masih mengusap punggung anak gadisnya yang telah terlelap.


"Tidak! Dia mirip Chella."


"Memang Chella mirip siapa? Kan mirip aku juga," timpal Marchel.


"Oh, ya ... kita belum memberinya nama."


Marchel mengecup kening Michella setelah yakin gadis kecilnya itu sudah tidur nyenyak. Ia kemudian mengambil anak lelakinya dari pangkuan Sheila, dan mengecupi wajah lembut bayi mungil itu.


"Marcello. Chella bilang, dia mau adiknya diberi nama Chello. Biar mirip dengan namanya."


"Nama yang bagus. Aku suka nama itu."


"Ya, aku juga suka. Jadi kalau kita punya anak lagi akan di beri nama Chilla, Chulla, Chillo, Chili..."


Marchel tidak melanjutkan ucapannya lagi karena sudah dihadiahi pelototan mata oleh Sheila. Belum kering sayatan bekas operasinya, Marchel sudah memikirkan untuk punya anak lagi.


"Ya maaf, aku kan cuma menyarankan."


Sheila menyandarkan kepalanya di bahu Marchel. Rasanya sangat damai. Walaupun pernikahannya dengan Marchel berawal dari keterpaksaan, namun seiring berjalannya waktu, benih-benih cinta mulai tumbuh di antara keduanya. Dan, walaupun perpisahan selama empat tahun menggoreskan luka yang mendalam, namun takdir kembali mempersatukan mereka.


Lengkap sudah kebahagiaan Sheila, memiliki Marchel dan dua anak yang lucu-lucu merupakan sebuah hadiah dari yang kuasa. Tidak ada lagi yang diinginkan wanita itu. Ia hanya ingin menghabiskan seluruh hidupnya dengan bahagia bersama orang-orang terkasihnya.

__ADS_1


Sedangkan Marchel, baginya tidak ada yang lebih penting dari Sheila dan anak-anaknya di dunia ini. Ia telah berjanji untuk menjalani hidupnya dengan membahagiakan Sheila dan kedua anaknya.


**** TAMAT*****


__ADS_2