Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Siapa dirimu?


__ADS_3

Sheila melirik Maya dengan tatapan sinis. Seolah meremehkan gadis cantik itu. "Dokter Audry, kau tidak jelaskan padanya siapa aku?"


"Kau juga tidak tahu siapa aku, kan? Jadi jangan coba-coba menyombongkan diri di hadapanku. Memangnya kau pikir kau siapa?" ujar Maya melirik Sheila dengan ekor matanya.


"Nona Qiandra Sheila Darmawan," ucap Audry ketus. "Maya, aku harap kau segera minta maaf pada Nona Qiandra!"


Seketika kedua bola mata Maya terbelalak mendengar nama yang barusan disebut oleh Audry. Menyadari gadis di depannya adalah pemilik Darmawan Group.


"Nona Qiandra?" Gadis itu langsung menundukkan kepalanya.


"Kenapa? Kenapa kau langsung diam saat Dokter Audry menyebut namaku? Kemana kesombonganmu yang tadi?" Sheila menatap Maya dari ujung kaki ke ujung kepala.


"Ma-af, Nona Qiandra... saya benar-benar tidak mengenali Anda," ucap Maya dengan nada bergetar.


"Tidak mengenaliku?" Sheila berdecih, membuat lutut Maya terasa lemas. "Maksudmu kalau bukan aku yang kau tabrak, kau bisa menyombongkan diri, begitu? Aku jadi ingin tahu siapa kau." Sheila melirik Audry, "Dokter Audry... Siapa gadis sombong ini?"


"Dia mahasiswa yang sedang praktek di rumah sakit ini. Dia juga putri dari kepala rumah sakit ini."


Sheila pun berpura-pura terkejut. "Benarkah? Dia anaknya kepala rumah sakit ini? Artinya dia juga anak dari kepala sekolah SMA Pelita, kan?" tanya Sheila diikuti anggukan oleh Audry. "Jabatan kecil orang tuamu saja bisa membuatmu sesombong ini." Sambil tersenyum menghina.


"Maaf, Nona..."


"Kalau aku mau, aku bisa memecat kedua orang tuamu sekarang juga," ancam Sheila.


Raut wajah Maya sudah memucat, dengan tangannya yang gemetar. "Saya mohon, maafkan saya, Nona. Saya tidak akan mengulanginya lagi. Tolong jangan pecat orang tua saya."

__ADS_1


"Baiklah, akan aku pikirkan. Kalau begitu, kau harus melakukan sesuatu untuk menebus kesalahanmu, kan?"


"Baik, Nona... Apapun itu."


Sheila tersenyum penuh kepuasan. "Bawakan tasku ke ruanganku. Mulai sekarang, kau akan melakukan apapun yang aku mau, sama seperti Dokter Audry. Anggap saja, itu untuk menebus kesalahanmu hari ini." Sheila meletakkan tasnya ke tangan Maya dengan kasar. Lalu beranjak meninggalkan Audry dan Maya begitu saja.


****


Di dalam sebuah ruangan khusus yang disulap bagaikan sebuah kamar hotel berbintang, Sheila duduk selonjoran di sebuah kursi. Di bawah sana, Maya sedang memijat kakinya, sementara Audry menyisir rambutnya. Sheila benar-benar memperlakukan Maya dan Audry layaknya seorang budak.


Ini baru permulaan. Kalian berdua akan merasakan yang lebih pahit dari ini.


Sheila melirik tajam pada Maya. Teringat kembali saat-saat masih sekolah dulu, dimana Maya terus-terusan menghinanya. Sampai saat ketika Maya dan teman-temannya membawanya ke sebuah klub malam dengan tujuan jahat. Sehingga malam itu Sheila mengalami kekerasan oleh Marchel. Walaupun yang melakukannya adalah suaminya sendiri, namun kejadian itulah yang mengawali segala penderitaan Sheila.


Tidak lama kemudian, terdengarlah suara ketukan pintu.


Tanpa banyak bicara, Maya beranjak menuju pintu. Rasa benar-benar sebuah hinaan. Selama ini dirinya dilayani bagai seorang putri, malah harus diperbudak oleh seorang gadis bernama Qiandra.


Dan, alangkah terkejutnya gadis itu melihat Rayhan berdiri di ambang pintu.


"Rey..." Maya kembali terbelalak, namun seperti biasanya, Rayhan sangat dingin, tidak ada sahutan sama sekali. "Rey, ini benar-benar kau? Kau darimana saja selama ini?"


"Itu bukan urusanmu!"


Maya membeku, setelah empat tahun tidak bertemu, Rayhan muncul kembali. Terakhir kali bertemu adalah saat Sheila diusir dari sekolah, dan setelahnya, Rayhan menghilang bagai ditelan bumi. Bahkan Maya belum mengetahui identitas Rayhan yang sebenarnya.

__ADS_1


Sheila melirik ke arah pintu dan melihat Rayhan masih di sana. "Kak Rey... Masuklah!"ucapnya seraya memberi kode pada Audry dan juga Maya untuk segera keluar dari ruangan itu.


Rayhan masuk ke ruangan itu, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. "Ruanganmu lumayan juga. Ngomong-ngomong kau sedang apa?" tanya Rayhan menjatuhkan tubuhnya di sofa panjang itu.


"Aku hanya sedang bermain bersama mereka, Kak. Oh ya, sepertinya Maya sangat terkejut melihatmu."


"Si bodoh itu. Apa dia masih menyebalkan seperti dulu?"


"Sepertinya begitu. Aku baru saja memulai permainanku dengannya."


Rayhan mengacak rambut Sheila yang baru saja dirapikan oleh Audry. "Hentikan Kak Rey! Aku sudah repot-repot menyuruh Dokter Audry merapikan rambutku. Iya kan berantakan lagi." Dengan bibir mengerucut Sheila meraih sisirnya.


"Heh, anak kecil! Permainan macam apa lagi yang kau lakukan? Kau benar-benar sengaja mau membalas mereka, ya..." ujar Rayhan.


"Ini tidak sebanding dengan perbuatan mereka," sahutnya seraya menyisir kembali rambutnya yang diacak-acak Rayhan.


"Baiklah! Lakukan sesukamu. Aku kemari untuk mengingatkanmu kalau minggu depan ulang tahun perusahaan, bersamaan dengan ulang tahunmu. Jadi akan dirayakan bersamaan. Ayah memintaku memberitahumu."


Sheila tersenyum senang mendengar ucapan Rayhan. "Ulang tahun?"


"Iya, akan ada banyak tamu penting yang hadir. Kebetulan yang bagus kan? Hari kelahiranmu bertepatan dengan ulang tahun perusahaan."


Sepertinya aku akan memanfaatkan moment itu dengan baik. Ya, aku akan menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya di acara itu. Aku ingin lihat bagaimana reaksi mereka saat tahu bahwa Qiandra adalah Sheila.


"Apa yang kau pikirkan? Ide jahat apa lagi yang terlintas di benakmu?" ucap Rayhan menatap curiga Sheila.

__ADS_1


"Ah, tidak! Aku tidak berencana apa-apa."


***"


__ADS_2