Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Penculikan Part 2


__ADS_3

"Apa kau tahu, seharusnya masalah seperti ini tidak perlu ada, jika saja ayahku... Ah maaf, kakekmu tidak mencari masalah denganku. " Pak Herdian mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan Sheila.


Sheila terdiam. Matanya melirik beberapa pengawal yang berjaga di depan sana.


"Kau pasti sudah tahu kenapa mereka menyembunyikan keberadaanmu sampai berusia 21tahun, kan?" Pak Arman kembali melanjutkan. "Itu karena selama keturunan Darmawan masih ada, mereka tidak akan memberikan Darmawan Group padaku. Arman sialan itu yang menjadi walimu sebelum kau berusia 21tahun. Dia yang menguasai seluruh harta Darmawan Group. Bukankah itu tidak adil untukku? Karena itulah aku merencanakan pembunuhan pada kalian. Kecelakaan yang terjadi tujuh belas tahun lalu itu adalah kesengajaan. Aku yang sudah menyabotase mobil ayahmu. Sayangnya kau selamat dan aku tidak tahu. Karena mereka berhasil menyembunyikanmu dengan baik."


Wajah Sheila sudah menggeram, seluruh tubuhnya terasa terbakar oleh kemarahan. "Pembunuh!"


"Ya, aku memang pembunuh! Aku juga yang sudah merencanakan kecelakaan Shanum. Anak sulung Arman. Dan juga kecelakaan yang terjadi pada Rayhan. Sayangnya saat itu aku tidak tahu kalau Qiandra adalah anak culun yang selalu bersama Rayhan." Gelak tawa Pak Herdian kembali menggema di ruangan luas itu.


"Aku tidak akan memaafkanmu." Cairan bening sudah menggenangi kelopak mata Sheila. Mengingat Shanum yang terluka parah saat kecelakaan di tempatnya bekerja.


"Bagus. Jangan maafkan aku! Karena sekarang giliranmu yang akan menyusul mereka. Aku akan mengirimmu ke tempat ayahmu dan Shanum berada." Laki-laki itu berdiri dari duduknya. Menoleh pada seorang pria yang berdiri di sana. "Bawa berkasnya kemari dan buka ikatan tangan kanannya."


Seorang pria mendekat dengan membawa sebuah map dan segera melepas ikatan di tangan kanan Sheila.


"Cepat kau tanda tangan di sini!" Bentak Pak Herdian.

__ADS_1


Sheila melirik berkas yang merupakan perjanjian pemindahan kepemilikan Darmawan Group itu. Namun dirinya enggan untuk tanda tangan. "Aku tidak akan tanda tangan! Kau bawa saja itu pergi."


Geram, Pak Herdian mengeluarkan senjata api dan menodongkannya ke kepala Sheila. "Tanda tangan atau aku akan membunuhmu!"


Sheila tertawa mengejek sambil melirik Pak Herdian. "Apa kau pikir aku sebodoh itu? Tembak saja aku! Dan kau akan kehilangan segalanya."


Pak Herdian semakin menggeram melihat tingkah Sheila yang baginya sangat sombong. Ia menempelkan ujung senjatanya ke kepala Sheila. "Tanda tangan! Atau kau berakhir di sini!"


"Siapa yang akan berakhir di sini? Aku atau kau?"


Tiba-tiba wajah Pak Herdian telah berubah ketika menyadari apa yang terjadi di sana. Beberapa anak buahnya malah menodongkan senjata ke kepalanya. Dan sebagian lain menodongkan senjata pada anak buahnya yang lain. Salah satu diantaranya segera membuka tali yang menjerat tubuh Sheila. Pak Herdian menatap satu persatu orang suruhannya dengan tatapan geram. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa beberapa anak buahnya ternyata berkhianat.


"Bukan pengkhianat! Beberapa di antara mereka adalah orang setiaku. Dan lainnya adalah orang-orangmu. Tapi sayangnya mereka terlalu bodoh," ujar Sheila seraya meraih sebuah senjata api yang baru saja diberikan oleh seorang pria. Sambil memainkan senjata itu di tangannya.


Pak Herdian dengan cepat menembak satu pengawal Sheila sehingga terjadi kekacauan di sana. Perkelahian antara beberapa orang pun tak terhindarkan. Sheila dengan cepat melayangkan tendangan ke tangan Pak Herdian, sehingga senjata di tangannya terjatuh. Tanpa belas kasih, Sheila menyerang beberapa pengawal Pak Herdian yang hendak menangkapnya hingga tersungkur. Keadaan di ruangan itu pun kembali berada di bawah kuasa wanita muda itu. Bahkan Pak Herdian dibuat tercengang oleh kemampuan bela diri Sheila.


Sheila melirik beberapa anak buahnya yang memegangi anak Buah Pak Herdian, "Bawa sampah-sampah itu keluar dari sini! Karena aku akan menyelesaikan pekerjaanku!" titahnya.

__ADS_1


Beberapa pria kemudian menyeret anak buah Pak Herdian keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana? Ini menarik, kan? Sekarang kau tidak bisa lolos lagi." Sheila menengadahkan tangannya, membuat salah satu pria segera mendekat dan meletakkan sebuah benda di tangannya. Sebuah alat perekam suara yang telah mereka semua pengakuan laki-laki itu. "Dan ini adalah bukti keterlibatanmu. Sekarang, kau yang akan mati di tanganku."


Senjata makan tuan! Itulah peribahasa yang cocok untuk pria paruh baya itu. Dalam pikirannya bertanya-tanya bagaimana Sheila bisa memutar keadaan menjadi berbalik padanya.


Sheila menodongkan senjata api ke tubuh paman tirinya itu. "Bagaimana kalau sekarang aku juga menghabisimu? Seperti yang kau lakukan pada ayahku dan juga pada kakakku, Shanum. Apa kau tahu kalau Shanum adalah segalanya bagiku? Dan kau telah membunuhnya tanpa belas kasih." Sheila menjatuhkan air matanya. Teringat pada kakak kesayangannya itu. Seseorang yang rela mengorbankan apapun demi dirinya. Kemarahannya pada Pak Herdian sudah menembus ubun-ubunnya.


Pak Herdian terdiam. Seluruh tubuhnya sudah gemetar melihat kemarahan di wajah Sheila. "Ja-jangan Sheila! Kau pun akan dipenjara kalau sampai membunuhku!" ujar Pak Herdian mencoba mengulur waktu.


Seketika tawa Sheila memenuhi ruangan itu.


"Dipenjara? Aku tidak peduli. Aku sudah mati! Aku sudah kehilangan segalanya!" teriaknya menggelegar. "Pertama kau membuatku kehilangan ayahku, lalu kakakku. Aku juga sudah kehilangan suamiku. Dan terakhir anakku... Aku sudah kehilangan semua yang kumiliki. Dan apapun sekarang tidak ada artinya bagiku. Yang aku inginkan hanya kematianmu saja!" Sheila mengarahkan senjatanya pada tubuh paman tirinya itu dan hendak menarik pelatuknya.


"Jangan Sheila!" Terdengar suara seorang pria yang sangat dikenali olehnya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2