
Marchel duduk merenung di kamarnya, menyandarkan punggungnya di tempat tidur. Tatapannya kosong, dengan mata sembab. Pikirannya hanya tertuju pada Sheila yang tiba-tiba menghilang dari rumah sakit secara misterius.
Dua Minggu sudah Sheila menghilang. Dia pergi entah kemana. Bahkan Marchel telah melaporkan hilangnya Sheila ke polisi. Namun, sang istri hilang bagai ditelan bumi. Tak ada tanda-tanda keberadaannya.
Sejak kepergiannya, dunia Marchel seakan kembali terhenti untuk kedua kalinya. Namun, Kepergian Sheila lah yang teramat menyakitinya, melebihi saat kepergian Shanum. Kini, laki-laki itu hanya dapat berharap segera menemukan sang istri dalam keadaan baik-baik saja.
Laki-laki itu meraba tempat kosong di sebelahnya. Teringat Sheila yang beberapa bulan lalu masih menemaninya di kamar itu.
Bayang-bayang Sheila pun bermunculan di benaknya. Betapa manis dan lugunya seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang dia bawa pulang ke rumah itu sebagai istri.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu yang membuyarkan lamunannya. Ibu membuka pintu setelah tak mendapat sahutan apapun. Masuk ke dalam kamar itu dengan membawa nampan berisi menu sarapan untuk anaknya itu.
"Marchel..." panggil ibu.
Marchel tak bergeming. Tatapannya masih kosong.
"Ibu bawa sarapan untukmu. Makanlah dulu, Nak! Sejak kepergian Sheila kau sama sekali tidak makan dengan benar."
"Bagaimana aku bisa makan, Bu! Istriku di luar sana sendirian. Entah apa yang terjadi padanya, dimana dia, dan apakah dia baik-baik saja."
"Tapi kau harus menjaga kesehatanmu untuk bisa mencari Sheila."
Marchel menghela napas, memejamkan matanya sesaat. "Aku ingin sendiri, Bu. Tolong keluarlah!"
Wanita paruh baya itu menyeka setitik air matanya. Belum pernah sebelumnya melihat anak lelakinya begitu patah hati. Saat kepergian Shanum, Marchel masih dapat hidup dengan baik dan terlihat biasa-biasa saja. Namun, kepergian Sheila benar-benar menghancurkannya, seakan langit runtuh menimpanya.
__ADS_1
Bangkit dari pembaringan, Marchel menyambar handuk yang menggantung di sudut ruangan itu. Tak berselang lama, dia keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian.
****
Pagi itu cuaca sangat cerah.
Marchel baru tiba di sebuah kompleks pemakaman milik keluarga besarnya. Selama dua minggu ini, hampir setiap hari dia mengunjungi makam putri kecilnya.
Dengan membawa seikat bunga mawar putih, Marchel mendekati sebuah makam yang masih basah. Berjongkok di sisi makam itu. Sebuah nisan terbuat dari kayu jati bertuliskan nama Angel terukir indah di sana.
Sesuatu menarik perhatian Marchel. Di atas pusara anaknya terdapat bunga mawar putih dan juga sebuah boneka beruang kecil seperti baru saja diletakkan di sana.
"Siapa yang kemari? Apakah Sheila?" gumamnya.
Marchel segera bangkit dari posisi berjongkoknya, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat yang luas itu. Tak ada tanda-tanda keberadaan manusia lain di sana selain dirinya, dan beberapa penjaga makam.
"Pak, siapa yang barusan kemari?" tanyanya pada seorang pria penjaga makam.
Pria itu seperti sedang berpikir, mengingat-ingat sudah berapa orang yang berkunjung ke kompleks pemakaman itu.
"Ada beberapa orang. Tapi hanya satu orang yang aku tidak kenal," jawab pria itu sambil menggaruk kepalanya.
"Bagaimana orangnya, Pak? Dan dia bilang apa saat kemari?"
"Seorang gadis muda. Dia bilang mau ke makam Angel. Dia membawa boneka beruang dan juga seikat bunga mawar putih. Dia baru saja keluar saat Dokter Marchel masuk. Mungkin orangnya masih di luar."
Tanpa banyak bertanya, Marchel segera berlari keluar mencari sosok yang dia duga adalah Sheila. Namun, saat telah tiba di depan sana, tidak ada siapapun. Hanya ada sebuah mobil super mewah yang melaju menjauh dari tempat itu.
__ADS_1
"Sheila!" teriak Marchel memanggil nama sang istri. Hingga beberapa kali meneriakkan nama itu, tak juga muncul sosok yang dipanggil.
Laki-laki itu berkeliling mencari, namun tak menemukan tanda-tanda keberadaan sang istri.
"Aku yakin itu pasti Sheila. Ya, pasti dia yang membawa boneka beruang kecil itu."
Sesaat kemudian, Marchel kembali ke pos penjaga, mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan pada pria penjaga makam itu.
"Apa ini orangnya, Pak?" tanyanya sambil menyodorkan ponselnya.
Laki-laki itu meraih ponsel milik Marchel, alisnya mengerut menatap foto seorang gadis berkacamata di layar ponsel itu.
"Bagaimana, Pak? Apa ini orangnya?" Marchel bertanya sekali lagi.
"Iya, ini orangnya. Dia yang datang tadi membawa boneka dan bunga mawar putih." Dia memperhatikan kembali foto itu, meyakinkan bahwa dirinya tidak salah ingat. "Iya, ini orangnya. Benar!"
Marchel menghela napas, antara lega dan khawatir. Setidaknya Sheila masih hidup dan baik-baik saja.
***
Marchel melangkah keluar dari pemakaman itu dengan membawa sebuah boneka beruang kecil yang tadi diletakkan oleh Sheila di makam anaknya. Dia naik ke mobil dan duduk bersandar di sana, memandangi boneka beruang kecil itu.
"Sheila... Kau dimana? Aku harus mencarimu kemana? Aku tahu kau masih sangat marah dan kecewa padaku. Tapi aku akan terus mencarimu, dan menunggu sampai kapanpun kemarahanmu mereda. Dan kita akan memulai semuanya dari awal lagi."
****
Bersambung
__ADS_1