
Malam itu Sheila sedang menidurkan Chella di kamarnya. Sebelum tidur, gadis kecil itu terus menanyakan banyak hal yang membuatnya penasaran. Kadang Sheila bingung menjawab pertanyaan yang dilontarkan anak gadisnya itu.
"Bunda..."
"Iya, Sayang..."
"Di perut Bunda sekarang ada Dede bayi, ya?" tanya Chella dengan polosnya.
"Apa? Siapa yang bilang?"
"Ayah!" jawabnya. Sheila sampai tidak tahu harus menjawab apa pada peri kecilnya itu. "Ayah bilang, nanti di perut Bunda ada Dede bayinya. Kalau Chella suka nangis, nanti Dede bayi-nya tidak mau keluar."
"Ayah bilang begitu?" tanya Sheila dan dengan cepat Chella mengangguk.
"Iya. Jadi Chella tidak mau nangis lagi. Biar Dede bayi cepat keluar dari perut Bunda." Chella mengusap perut rata bundanya, benar-benar mengira sudah ada adik bayi di sana.
Dan, jawaban polos Michella membuat Sheila tertawa. Ia memberi kecupan sayang di seluruh bagian wajah gadis kecilnya itu. "Chella mau punya adik bayi?"
"Mau, Bunda. Dede bayi yang botak seperti Upin-Ipin."
Sheila memandangi wajah anaknya itu dengan mata berkaca-kaca.
Ya ampun, anakku. Betapa menggemaskannya dia. Malaikat kecilku yang lucu. Aku telah kehilangan masa-masa pertumbuhannya. Bagaimana dia tumbuh, bagaimana dia belajar berjalan. Kalimat apa yang pertama kali keluar dari mulutnya. Bagaimana dia menjalani harinya saat sedang sakit...
Chella menatap bundanya heran, "Bunda kenapa menangis?" tanya-nya seraya menghapus setitik air mata yang mengalir di wajah Sheila.
"Tidak apa-apa, Sayang." Memeluk tubuh gadis kecil itu dengan erat sambil mengecup puncak kepalanya. "Bunda sayang sama Chella."
__ADS_1
"Chella juga sayang Bunda." Mereka saling memeluk. Sheila mengusap punggung gadis kecilnya itu hingga terasa mengantuk. Ia menyanyikan sebuah lagu sampai Chella tertidur pulas.
Hingga beberapa saat kemudian, ketika Sheila sudah hampir terlelap, Marchel masuk ke kamar itu dan ikut berbaring di samping sang istri.
"Sayang..." bisik Marchel.
"Hemm..." Menjawab dengan deheman serak pertanda wanita itu sudah sangat mengantuk.
"Chella sudah tidur, kan? Ayo kita ke kamar!" ajak Marchel.
"Aku mau tidur di sini saja bersama Chella."
"Lalu aku bagaimana?" Mendaratkan kecupan di mana-mana.
"Kak Marchel kan sudah biasa tidur sendiri." Sheila sudah mulai memejamkan matanya.
"Ayolah, kita ke kamar kita saja. Aku tidak akan macam-macam." Marchel menaikkan dua jarinya ketika melihat Sheila membuka matanya dengan malas.
"Sayang... dosa tahu menolak suami."
"Tapi kalau suami memaksa istri juga dosa kan."
Marchel mengerutkan alisnya mendengar ucapan Sheila. "Aku kan tidak memaksa, aku meminta baik-baik. Ayolah, kita ke kamar saja. Tidak akan lebih dari sekedar peluk dan cium. Itu saja."
Dan akhirnya, Sheila menyerah. Rengekan manja suaminya itu membuatnya tidak tega. "Baiklah, tapi janji kan tidak berbuat apa-apa."
"Janji! Sepanjang tidak khilaf tidak akan terjadi apa-apa."
__ADS_1
"Apa?" Sedikit mengeraskan suaranya.
"Sttt!! Pelan kan suaramu. Nanti Chella terbangun." Marchel bangkit dari posisi berbaring, meraih tubuh Sheila dan menggendongnya menuju kamar mereka melalui sebuah pintu yang menghubungkan kamar mereka dengan kamar Chella.
******
Pencahayaan kamar yang redup, wangi lavender dari lilin aromaterapi membuat suasana semakin romantis.
"Sayang, kemarilah! Aku kan sudah bilang tidak akan lebih dari peluk dan cium," bujuk Marchel ketika Sheila menggeser tubuhnya menjauh. Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebal. Satu tangan Marchel menarik pergelangan tangan Sheila, sehingga wanita itu kembali mendekat dan menempelkan tubuhnya pada sang suami.
Marchel membelai rambut istrinya itu, turun ke wajah. Satu kecupan sayang mendarat mulus di kening, berikut bagian wajah lainnya hingga Sheila kembali terbuai.
Dan entah siapa yang memulai, keduanya telah larut dalam ciuman mesra. Dengan tangan Marchel yang kembali menjelajahi negeri antah-berantah. Sheila hanya dapat memejamkan matanya seraya meremass piyama yang dikenakan Marchel ketika merasa terhanyut oleh sentuhan itu.
Marchel kembali menyerang dengan kecupan-kecupan sayang, membuat Sheila merasa menginginkan lebih. Kali ini sepertinya Sheila telah masuk ke dalam perangkap Marchel. Ya, lagi-lagi ide brilian dari Willy.
Sentuh dia, dan buat menggantung! Dia sendirilah yang akan minta lebih padamu tanpa kau paksa! bisikan gaib Willy terngiang di benak Marchel.
"Baiklah, sudah cukup! Tidurlah, Sayang!" ucap Marchel menyeringai misterius.
Sheila tersadar, wajahnya memerah. Ingin meminta lebih, namun malu berkata. Wanita itu hanya dapat mengerucutkan bibirnya. Merajuk.
"Cuma begini saja?" ucap Sheila malu-malu. Terlihat jelas di wajahnya raut kekecewaan.
"Kan aku sudah bilang tadi. Tidak akan lebih dari peluk dan cium."
Jeduaaaarrr!!!!
__ADS_1
*****
Waduuhhh!!si Duo Dokter jahil juga yakk!!! bakalan tidur diluar kau Marchel?!!!