
Malam itu, di lantai teratas gedung rumah sakit...
Sheila sedang merenungi perbuatannya beberapa bulan terakhir. Setelah berhasil dengan tujuannya menghancurkan hidup orang-orang yang menyakitinya di masa lalu, bukannya mendapat kebahagiaan, Sheila malah merasa menjadi manusia terjahat di muka bumi.
Yang ada hanyalah kegelapan malam yang terasa menyempurnakan penyesalannya. Bahkan dirinya pun merasakan penderitaan yang sama, melihat orang lain menderita karena perbuatannya. Wanita itu mengusap air matanya yang berjatuhan membasahi wajahnya.
Kenapa sesakit ini? Seharusnya aku bahagia melihat Audry dalam keadaan terpuruk seperti sekarang. Seharusnya aku puas melihat Maya termakan oleh kesombongannya sendiri, bersama kedua orang tuanya. Dan seharusnya, aku senang melihat ibu menunduk malu saat bertemu denganku. Aku seharusnya bahagia melihat Kak Marchel menderita selama empat tahun ini. Tapi kenapa malah aku yang sakit? Melihat mereka semua hancur, kenapa membuatku ikut merasa hancur? Apakah aku sudah melakukan kesalahan? Apa aku tidak layak membalas perbuatan mereka?
Di tempat sunyi itulah, Sheila menangisi penyesalannya. Ia baru menyadari, bahwa sejatinya tidak ada yang indah dari pembalasan dendam. Yang di sisakan hanyalah rasa sakit.
Hingga sesosok tangan menariknya dan membawanya ke dalam pelukannya. Tangis penyesalannya pun semakin menjadi-jadi. Seolah ingin melepaskan semua perasaan sakit yang selama ini menggerogotinya.
"Menangislah sepuasmu dan lepaskan semua bebanmu," ucap Marchel seraya mengusap rambut dan punggung wanita yang masih berstatus istrinya itu. "Menangislah!"
Sheila membenamkan wajahnya di dada bidang itu. Ia menumpahkan seluruh bebannya dalam pelukan suaminya itu.
"Kak Marchel, apa aku terlalu jahat? Aku merasa sangat sakit melihat mereka semua hancur karena perbuatanku."
"Itu bukan salahmu, Sheila! Aku yang salah. Aku bukan seorang suami yang baik. Karena kesalahanku kau menjadi seperti ini. Jika saja aku bisa menjaga perasaanmu, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Ya, ini salahku, bukan salahmu. Maafkan aku!" bisik Marchel.
Sheila tidak menjawab. Selama beberapa saat ia hanya menangis dan terus menangis hingga merasa puas.
Marchel menangkup wajah Sheila, menatap dalam-dalam mata sembabnya. "Maukah kau memaafkanku dan memberiku kesempatan lagi? Mari kita lupakan semuanya. Kita akan memulai segalanya dari awal bersama Michella. Aku ingin membayar semua kesalahanku, dengan membahagiakanmu dan Chella."
"Apa aku masih layak? Aku hanya seorang wanita pendendam."
"Bukan kau... Akulah yang harus banyak belajar, untuk bisa layak berdiri di sisimu."
Selama beberapa saat, kedua orang itu saling menatap satu sama lain, seolah tatapan itu mampu menjelaskan perasaan cinta diantara keduanya. Marchel meraih tangan Sheila, dan meletakkan di dadanya.
"Sheila... Maukah kau menikah denganku?"
Sheila membeku, irama jantungnya terasa lebih cepat. Ada rasa yang sulit dijelaskan mendengar ucapan Marchel.
"Menikah?" Sheila tampak bingung. "Menikah bagaimana lagi? Kita kan sudah menikah lima tahun lalu."
Marchel tersenyum tipis, "Aku ingin memulai semuanya dari awal. Lagipula waktu itu kita menikah secara rahasia. Mari kita mulai semuanya dari menikah. Setelah Michella membaik tentunya. Kau mau kan?"
__ADS_1
"Aku..."
"Iya atau iya?"
"Kak Marchel..."
"Jawab iya, atau aku akan menciummu!"
Sheila diam membisu, namun kebisuannya telah menjawab segalanya, sehingga Marchel kembali menariknya ke dalam pelukannya. Cukuplah perpisahan selama empat tahun. Kini keduanya hanya ingin saling membahagiakan.
******
Hari yang cerah....
Setelah seminggu lamanya dirawat di rumah sakit, hari itu Michella kecil diizinkan pulang. Ia terlihat sangat bahagia. Terlebih, selama seminggu berada di rumah sakit kedua orang tuanya terus menemaninya.
Sheila sedang memasukkan beberapa pakaian Chella ke dalam sebuah koper kecil.
"Bunda ... Chella sama Bunda mau pulang ke rumah ayah, kan?"
"Iya, Sayang!"
"Jadi Michella mau tinggal sama ayah, atau sama bunda?"
Bingung! Gadis kecil itu mematung, tidak mengerti mengapa harus tinggal dengan ayah atau bunda saja.
"Mau sama ayah sama Bunda..." jawabnya polos.
Sheila meraih tubuh gadis kecilnya itu dan membawa ke pangkuannya. Membelai rambutnya dengan sayang. "Chella... nanti Chella tinggal di rumah ayah dulu. Minggu depan baru tinggal di rumah Bunda. Chella mengerti, kan?"
"Mau sama Bunda..." lirih Chella.
"Kalau begitu Minggu ini di rumah bunda, Minggu depan di rumah ayah. Bagaimana?"
"Mau sama ayah juga..." Mata gadis kecil itu sudah mulai berkaca-kaca kembali. Mengira akan ditinggalkan oleh salah satu orang tuanya.
Tidak lama kemudian, Marchel masuk ke dalam ruangan itu. Segera mendekat ketika melihat Chella mulai terisak. "Chella kenapa?"
__ADS_1
"Ayah... Chella mau tinggal sama ayah, sama bunda juga." Menarik-narik lengan kemeja yang digunakan oleh ayahnya itu.
Marchel melirik Sheila sekilas, "Lihat, kan? Sepertinya harus dipercepat. Kalau tidak Michella akan menangis setiap malam kalau tidak melihat salah satu dari kita." Marchel mengusap puncak kepala Chella. "Coba tanya bunda, kenapa ayah sama bunda belum boleh tinggal bersama."
Dengan polosnya Chella menatap Sheila dengan mata berkaca-kaca. "Bunda, Chella mau tinggal sama Bunda dan Ayah..."
Marchel senyum-senyum sendiri, sepertinya sekarang menemukan cara untuk membujuk Sheila agar mempercepat pernikahan mereka. Tentu saja, Chella adalah senjata ampuh agar Sheila setuju.
*****
_
_
_
_
Sebuah mobil berhenti tepat di depan sebuah rumah megah bak istana. Marchel mengantar Sheila pulang setelah membawa si kecil Michella pulang ke rumahnya terlebih dahulu. Sesuai kesepakatan, Chella akan tinggal bersama Marchel, agar dapat memantau perkembangan kesehatan anaknya itu.
"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Sheila seraya membuka pintu mobil.
"Tunggu, Sheila..." panggil Marchel.
"Ada apa?"
"Aku akan kemari secepatnya bersama ibu dan Chella untuk melamarmu. Katakan pada ayah dan juga kakak laki-lakimu yang galak itu. Kalau mereka menolak, aku akan menculikmu! Mengerti?"
Sheila menganga tak percaya mendengar ucapan Marchel. Biasanya Marchel adalah sosok pendiam dan pembawaannya tenang. Namun, beberapa hari belakangan, Marchel sangat intens mendekati Sheila. Layaknya seorang pria yang sedang mendekati gadis yang disukainya. Bahkan tak jarang kalimat rayuan keluar dari bibirnya.
"A-ku akan memberitahunya," jawab Sheila gugup.
"Baiklah, sampai jumpa." Sambil menerbitkan senyum menawannya.
Tanpa sepatah kata pun Sheila turun dari mobil dan masuk ke rumah itu. Sedangkan Marchel masih duduk bersandar di mobil. Mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menghubungi sahabatnya, Willy.
Jika Marchel pandai merayu, sudah pasti itu adalah hasil belajar dari sahabatnya yang playboy itu, Dokter Willy tentunya. Rasanya Marchel akan gila menuruti semua ide konyol Willy untuk mendekati Sheila.
__ADS_1
***
Bersambung