
"Chella, Om Dokter ada urusan penting. Chella sama Ibu Fifi dulu ya..." ucap Marchel berusaha membujuk gadis kecil itu. Biasanya Chella akan menangis jika Marchel meninggalkannya.
"Tidak mau. Chella mau sama Om Dokter." Kedua bola mata yang sayu itu mulai berkaca-kaca, membuat Marchel tidak tega. Laki-laki itu segera meraih tubuh kecil Chella dan membawa ke pangkuannya.
"Baiklah, Om Dokter tidak akan pergi," ucapnya seraya mengecupi puncak kepala gadis kecil itu. Chella melingkarkan tangannya memeluk Marchel. Tidak rela jika om dokter kesayangannya itu pergi.
Marcel menyandarkan Chella di dadanya, sambil terus mengusap kepala dan punggung anak itu hingga mulai mengantuk dan akhirnya beberapa menit kemudian tertidur.
Membaringkan Chella dengan sangat hati-hati agar tidak terbangun, Marchel menepuk punggung gadis kecil itu dengan lembut. Memandangi wajah polosnya yang begitu menggemaskan. Setiap kali menatap wajah Chella, Marchel seakan menemukan kedamaian di sana.
****
Marchel mempercepat langkahnya menuju sebuah ruangan dimana Audry sedang menjalani perawatan akibat sakit yang menderanya. Walaupun kemarahannya atas perbuatan Audry di masa lalu belum dapat dilupakannya, namun Marchel tetap memenuhi permintaan Audry untuk menemuinya.
Audry terlihat sangat lega saat melihat Marchel memasuki ruangan dimana wanita itu sedang terbaring lemah. Marchel pun merasa iba, melihat kondisi Audry yang memperihatinkan, dengan banyaknya peralatan medis yang melekat di tubuhnya.
"Marchel..." panggil Audry dengan suara lemahnya.
"Aku kemari karena Dokter Selma menghubungiku. Katanya kau mau bertemu denganku."
"Iya. Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu. Aku mau mengakui perbuatanku. Tolong duduklah."
Marchel duduk di sebuah kursi di sisi pembaringan Audry. "Kalau kau hanya ingin minta maaf atas perbuatanmu di masa lalu. Maka lupakanlah! Aku benar-benar tidak ingin mengingatnya."
Audry pun mulai menangis mendengar ucapan Marchel. Teringat beberapa tahun lalu, saat dirinya dengan begitu jahatnya membuat Sheila jatuh dari tangga sehingga harus mengalami persalinan prematur.
"Aku tahu aku tidak layak dimaafkan. Tapi aku ingin mengakui sesuatu padamu, Marchel. Dosa besarku di masa lalu. Dosa yang kusesali sampai hari ini."
Marchel terdiam. Tidak ada kata yang terucap dari bibirnya. Pikirannya hanya tertuju pada Sheila dan juga bayi kecilnya yang harus menjadi korban.
__ADS_1
"Dosaku sangat besar. Aku sudah membuat ibu benar-benar membenci Sheila. Aku menghasut ibu dengan berbagai cara. Hari itu aku mengajak ibu menemui Sheila di rumah itu. Ibu sama sekali tidak bersalah. Akulah yang sudah sengaja membuat Sheila jatuh dari tangga. Saat itu ibu juga sangat marah padaku."
Marchel memejamkan matanya, tangannya terkepal di bawah sana. Selama empat tahun belakangan ini, Marchel benar-benar menghukum wanita yang telah melahirkannya itu.
"Hari itu, saat aku datang bersama ibu, saat kau pergi, aku mendengar beberapa perawat sangat panik, saat seorang bayi tidak bisa diselamatkan. Beberapa dari mereka pergi ke ruangan Dokter Willy dan sebagian ke ruangan Dokter Irene untuk melaporkan keadaan bayi itu. Aku masuk ke dalam, saat semua perawat yang berjaga sedang keluar. Aku melihat seorang bayi perempuan yang sudah tidak bernyawa. Dan satunya masih dalam keadaan lemah. Aku telah menukar bayi itu, dan menggunting gelang pengenalnya. Dan tidak ada satupun dari mereka yang menyadari apa yang aku lakukan."
Seketika seluruh tubuh Marchel gemetar mendengar ucapan Audry. Air matanya lolos begitu saja. "Apa maksudmu Audry? Apa yang kau lakukan?" Sudah terlihat menggeram. "Ka-kau menukar anakku dengan bayi yang meninggal?" tanya Marchel dengan suara bergetar diikuti setitik air matanya yang terjatuh.
Sambil menangis, Audry mengangguk pelan. Kembali mengakui perbuatannya. "Aku bersalah, sudah menukar anakmu dengan bayi yang meninggal itu. Aku sangat menyesali perbuatanku. Saat itu aku gelap mata, karena ingin memilikimu dan menyingkirkan Sheila. Dokter Willy dan petugas lainnya sama sekali tidak menyadari bahwa aku sudah menukar bayi itu. Aku memindahkan anak yang meninggal itu ke pembaringan anakmu, sehingga mereka mengira yang meninggal itu adalah anakmu. Aku keluar dari sana tanpa ada yang melihatku.
Beberapa bulan setelahnya aku kemari dan menanyakan pada petugas dimana anak yang lahir hari itu. Tapi mereka tidak mau memberikan info pasien rumah sakit. Akhirnya aku memutuskan untuk berusaha agar diterima bekerja di rumah sakit ini. Karena aku ingin mencari info tentang anak yang aku tukar itu. Tapi sampai sekarang, aku belum bisa menemukan keberadaan anakmu. Aku tidak tahu apakah dia masih hidup atau tidak. Tolong maafkan aku, Marchel. Aku sedang berusaha mencari informasi mengenai keberadaan anak itu saat aku tahu bahwa aku sedang mengidap kanker darah. Aku tidak berani mengakuinya padamu, karena kau pasti akan membenciku. Aku ingin menebus kesalahanku dengan mengembalikan anakmu. Tapi sampai sekarang, aku tidak menemukan informasi mengenai keberadaannya." Audry kembali menangis sejadi-jadinya, sedangkan raut wajah Marchel sudah berubah.
Tanpa sepatah katapun, Marchel keluar dari ruangan itu, menuju ruangan Willy. Meninggalkan Audry yang masih menangis meratapi penyesalannya.
Setibanya di ruangan Willy, Marchel segera menceritakan apa yang barusan diakui oleh Audry. Willy pun begitu terkejut mendengar ucapan Marchel.
****
Dokter Irene, adalah seorang dokter anak yang juga ikut menangani anak Marchel saat itu.
Marchel membeku, berusaha menyimpulkan segalanya. Sedangkan Willy, berusaha mengingat kejadian hari itu.
"Aku hanya ingat saat tiba di ruangan bayi, anak Marchel sudah dinyatakan meninggal. Dan memang benar, bayi yang satunya adalah bayi yang ibunya meninggal itu," ujar Willy.
"Ya, itu benar. Marchel, bukankah kau yang memberi nama pada anak itu?" tanya Dokter Irene. "Tapi tunggu! Kalau memang anak itu ditukar, kenapa kau tidak mengenali wajah anakmu?"
Marchel diam membisu. Seluruh tubuhnya terasa bergetar hebat. Hingga Willy menepuk bahu sahabatnya itu.
"Aku belum sempat melihat wajahnya saat itu, karena aku menemani Sheila. Aku baru ke sana, setelah kau memberitahuku bahwa anakku tidak bisa bertahan."
__ADS_1
"Aku yang menangani bayi itu. Tapi aku kurang memperhatikan wajahnya. Maafkan aku, Marchel," ucap Willy.
Dokter Irene menggeleng pelan. Ikut prihatin dengan apa yang terjadi pada Marchel. "Ya Tuhan... Ini benar-benar sulit dipercaya."
Marchel mengusap air matanya yang berjatuhan. "Michella... Artinya Michella adalah anakku yang telah ditukar oleh Audry."
Teringat wajah polos seorang anak yang selama ini telah dianggapnya bagai anak sendiri. Entah mengapa sejak awal, Marchel memiliki ketertarikan dengan gadis yang sangat mengingatkannya pada Sheila itu. Tidak hanya karakter yang sangat mirip dengan Sheila. Riwayat kesehatan Michella pun sama persis seperti Sheila.
"Jika Dokter Audry mengakui telah menukar seorang bayi, berarti benar, bahwa bayi itu adalah anak yang dibawa ke panti asuhan Pelita Harapan. Aku hanya tidak menyangka, Dokter Audry bisa tega melakukan semua itu. Dia adalah seorang dokter yang baik," ucap Dokter Irene.
Ada rasa bahagia yang tak terhingga di hati Marchel, mengetahui bahwa ternyata putri kecilnya masih hidup. Laki-laki itu segera mengusap air mata, dan berdiri dari duduknya.
"Willy, aku harus segera ke panti asuhan. Aku mau melihat Michella."
"Tunggu, Marchel! Aku akan ikut denganmu!" ucap Willy ketika Marchel hendak melangkah. "Dokter Irene, terima kasih bantuannya."
Dokter Irene hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
***
"Will, kenapa aku sebodoh ini. Kenapa aku tidak pernah menyadari bahwa Michella adalah anakku? Padahal aku merasakan sesuatu yang lain saat sedang bersamanya. Apa kau tahu, anak itu sangat mengingatkanku pada Sheila."
Sambil menyetir, Willy mencoba tetap menenangkan Marchel yang sejak tadi gelisah.
"Tenanglah, Marchel..."
"Anakku... Anakku masih hidup. Cepat sedikit, Wil, aku ingin segera sampai." Rasanya Marchel sudah sangat tidak sabar, untuk memeluk putri kecilnya itu.
****
__ADS_1
BERSAMBUNG