
Pernikahan...
Satu kata indah yang menjadi impian setiap wanita. Dimana dimulainya babak baru dalam hidup.
Adalah upacara pengikatan janji antara sepasang anak manusia di hadapan Tuhan untuk saling menerima satu sama lain.
Pernikahan menjadi jembatan penyatuan dua insan berbeda karakter yang saling mencintai.
Sheila dan Marchel dua insan dengan karakter berbeda yang disatukan oleh takdir dalam ikatan pernikahan. Tanpa rencana, dan tanpa cinta. Namun, kebersamaan akhirnya membawa keduanya menuju cinta yang sebenarnya.
Malam itu, setelah melalui ujian panjang terpisah selama bertahun-tahun. Sheila dan Marchel kembali disatukan dalam janji suci pernikahan.
Dengan balutan gaun berwarna putih tulang, Sheila melangkah dengan anggun memasuki sebuah gedung yang telah dihias dengan indah. Disisinya Marchel yang terlihat tampan dengan setelan tuxedo-nya.
Di belakang ada si kecil Michella yang berhasil merebut perhatian banyak orang dengan gaun berwarna senada dengan sang bunda.
Dengan senyum merekah, Chella memegangi gaun panjang yang dikenakan oleh bundanya sambil melambaikan tangan pada beberapa orang yang berdiri di samping.
Alunan biola yang terdengar begitu merdu menghanyutkan siapapun yang mendengarnya.
__ADS_1
Keindahan kelopak bunga berwarna putih bertaburan dimana-mana yang memanjakan mata, mengiringi langkah kaki sepasang suami isteri itu menuju singgasana semalamnya. Sheila dan Marchel bagaikan raja dan ratu untuk semalam.
Jika pernikahan pertama Sheila dan Marchel dilakukan dengan diam-diam dan rahasia, maka pernikahan kali ini digelar dengan konsep super mewah. Beberapa stasiun tv menayangkan acara yang digadang-gadang menelan biaya fantastis itu. Doorprize sebuah mobil mewah dan beberapa benda berharga yang akan diundi telah siap di sudut sana.
Ibu mengusap setitik air mata yang mengalir, lalu melambaikan tangan pada sosok malaikat kecil kesayangannya itu. Begitu pun dengan Maya yang kini bersahabat dengan Sheila. Ia menjadi salah seorang yang mengambil bagian dalam persiapan pernikahan itu bersama Rayhan dan Bima.
Tampak pula Audry yang menghadiri acara malam itu. Duduk di sebuah kursi roda dengan beberapa dokter yang menemaninya.
"Kenapa mereka membuat pesta semewah ini? Bukankah akan lebih baik kalau sederhana saja?" bisik Marchel di telinga Sheila.
"Aku juga tidak tahu tentang ini. Ayah dan Kak Rey yang menyiapkan semuanya."
Dengan senyum cerah, keduanya menyalami para tamu penting yang berdatangan. Rasa penasaran orang-orang akan sosok dokter yang menjadi suami tuan putri di kerajaan Darmawan terbayar sudah. Marchel pun menjadi pusat perhatian malam itu.
"Selamat ya... Akhirnya kau menikah juga... Aku pikir kau akan menyendiri sampai mati," ujar Willy memeluk sahabatnya itu.
Marchel melayangkan satu kepalan tangan di bahu Willy. "Terima kasih. Kau juga harus secepatnya menikah. Jangan pacaran terus."
"Diam kau! Aku belum menemukan yang pas." Willy melirik seorang gadis yang datang bersamanya malam itu. Seorang pacar sementara. Willy hanya berpacaran dengan seseorang paling lama tiga bulan, setelahnya entah apa yang terjadi.
__ADS_1
Melirik ke sebelah sana dimana seorang peri kecil yang cantik berdiri di sisi ayahnya.
"Hey, peri cantik..."
"Halo Om..." Seulas senyum manis terbit di wajah gadis kecil yang cantik itu.
"Chella senang kan, sekarang ayah sama bunda akan tinggal bersama," ucap Willy mengusap rambut gadis itu.
"Senang."
"Malam nanti jangan biarkan ayah berdua dengan bunda. Kalau tidak, nanti bundanya Chella akan diambil sama ayah. Chella nanti tidur sendiri." Bisikan gaib sepertinya sedang meracuni jiwa polos gadis kecil itu.
Marchel menghadiahi Willy sebuah lirikan maut. Seolah Willy sedang menebarkan aroma peperangan. Tentu saja Marchel ingin menghabiskan malam berdua saja dengan sang istri tanpa gangguan dari siapapun termasuk Michella. Dan untuk mewujudkannya, laki-laki itu akan melakukan apapun.
"Kau jangan meracuni pikiran anakku!" seru Marchel kesal diikuti cekikikan dari Willy.
Michella terdiam, dari wajahnya sudah terlihat bingung menatap sahabat ayahnya itu.
"Ayah..." Meraih pergelangan tangan sang ayah, menariknya pelan-pelan. "Chella tidak mau tidur sendiri. Mau sama ayah, sama bunda juga."
__ADS_1
Marchel hanya merespon dengan senyuman pasrah, lalu melirik tajam pada Willy. Sepertinya buka puasa malam ini akan gagal total karena mulut tak berperasaan milik Willy.
*****