
Para tamu mulai berdatangan memadati ballroom sebuah hotel berbintang. Tampak juga beberapa awak media yang akan mengabadikan acara penyambutan untuk seorang gadis bernama Qiandra Sheila Darmawan itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam, namun sang tuan putri yang digadang-gadang sangat cantik itu belum juga menampakkan diri di dalam ruangan yang telah di dekorasi seindah mungkin itu.
Di sudut sana, ada dua orang dokter yang sedang duduk bersama. Marchel diam membisu, sementara Willy, rasa penasarannya terhadap bos barunya begitu menggunung. Sejak tadi melirik kesana-kemari.
"Kenapa dia belum datang juga?" gumam Willy seraya melirik Marchel yang sedari tadi hanya melamun. "Marchel!! Apa yang kau pikirkan?"
Marchel hanya membalas lirikan dengan ekor matanya, kemudian kembali menatap layar ponselnya dimana potret Sheila menjadi wallpaper-nya.
"Tadi pagi aku ke makam anakku. Sheila juga habis dari sana." Ucapan Marchel membuat Willy mendelik. Antara percaya dan tidak dengan ucapan Marchel. Setelah empat tahun lamanya menghilang bagai ditelan bumi, Sheila muncul ke permukaan.
"Maksudmu kau bertemu dengannya di makam anakmu?"
Marchel menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak! Dia sudah pergi saat aku datang. Di sana ada bunga mawar putih dan juga boneka kecil seperti saat pertama kali Sheila ke makam Angel."
"Lalu?" Willy semakin penasaran sampai lupa dengan tujuan utamanya datang ke acara itu.
"Aku bertanya pada penjaga makam. Katanya yang datang bukan gadis berkacamata tebal, melainkan gadis lain. Tapi aku sangat yakin itu Sheila." Marchel terus menerus menatap layar ponselnya tanpa rasa bosan.
"Artinya Sheila masih berada di kota ini. Tapi kemana dia. Kau sudah empat tahun mencarinya tapi jejaknya saja tidak kau temukan."
"Setidaknya aku bisa lega. Istriku masih hidup. Dan semoga saja dia dalam keadaan baik-baik saja."
Willy menepuk pundak sahabatnya itu. Melihat Marchel hancur untuk ke dua kalinya membuat Willy tidak tega. "Kalau kau masih berjodoh dengannya, kalian pasti akan bertemu suatu hari nanti. Jodoh tidak akan kemana-mana. Dia akan tetap kembali padamu."
Tiba-tiba, ruangan yang tadinya ramai oleh suara orang-orang yang sedang asyik mengobrol menjadi sunyi senyap. Seiring dengan semua orang yang sudah berdiri dari duduknya. Willy yang menyadari bahwa sang tuan putri telah tiba segera berdiri dari duduknya. Sementara Marchel masih betah memandangi foto Sheila di ponselnya. Tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya.
Mata semua orang di dalam ruangan itu hanya tertuju pada sosok gadis cantik yang baru saja memasuki ruangan itu dengan dikawal oleh beberapa pria bertubuh besar. Melangkah dengan anggunnya di atas karpet merah, membuat semua berdecak kagum. Tidak hanya kaum lelaki, para wanita pun dibuat terpana oleh pesonanya. Willy sampai tidak berkedip menatapnya.
Marchel yang baru saja tersadar dari lamunannya, segera berdiri dari duduknya dan menghampiri Willy yang sudah sedari tadi berdiri di sana.
"Lihat! Itu Qiandra Sheila Darmawan. Bukankah dia sangat cantik dan masih muda?" bisik Willy pada temannya itu.
Marchel tidak menjawab. Tatapannya terpaku pada sosok gadis yang dieluh-eluhkan beberapa waktu belakangan ini.
Seorang pria paruh baya terlihat menyambut gadis itu dengan senyum sumringahnya.
"Selamat datang, Nak! Aku benar-benar senang, kau sudah kembali ke tengah-tengah kami, " ujar Pak Herdian, seraya merangkul bahu Sheila.
"Terima kasih, Ini penyambutan yang luar biasa," jawabnya dengan nada sedikit judes.
Beberapa petinggi Darmawan Group pun mendekat, memberi ucapan selamat datang pada sang tuan putri itu.
Sementara Willy dan Marchel masih membeku di tempatnya berdiri. Keduanya masih terpaku memandangi gadis itu. Yang membuat Marchel terkejut adalah sosok lelaki yang dikenalinya bernama Rayhan, sedang berjalan di depan gadis itu. Seseorang yang setahunya adalah teman baik Sheila semasa sekolah dulu. Bahkan Marchel sempat mengira Rayhan adalah orang yang menghamili Sheila.
"Kau tidak mau memberinya ucapan selamat datang?" tanya Willy.
__ADS_1
"Untuk apa?"
Willy melirik Marchel dengan ekor matanya, kemudian menggeleng pelan. "Dia bos kita. Kau sebagai bawahan seharusnya menyambutnya dengan ucapan selamat datang."
"Aku tidak tertarik, kau saja." Marchel mundur perlahan, menuju meja tempatnya duduk tadi. Kembali mengeluarkan ponsel dari saku jas yang dikenakannya, kemudian memandangi foto Sheila yang berada di layar ponselnya.
Willy memperhatikan Marchel yang kembali murung hanya dapat berdecak heran. Prihatin dengan nasib sahabatnya itu. Willy pun segera menyusul dan duduk di samping Marchel. Memperhatikan nona muda itu dari tempatnya duduk.
"Bukankah Nona Qiandra itu sangat cantik? Dia seperti bidadari," ucap Willy penuh semangat.
"Biasa saja." Marchel menjawab singkat.
Willy menghela napas sambil menggeleng, "Ya, bagimu yang cantik itu hanya Sheila, kan?"
***
Sheila sudah duduk di sebuah meja khusus di depan sana bersama Pak Arman dan juga Rayhan. Acara itu pun dimulai dengan penampilan dari beberapa penyanyi papan atas yang sengaja diundang malam itu.
Sheila melirik tajam beberapa orang yang memberinya ucapan selamat datang. Baginya mereka hanyalah sekelompok penjilat saja, terutama Pak Herdian yang sedang berjalan ke arahnya bersama seorang pemuda.
"Qiandra... Kenalkan, ini Bima. Dia adalah anak Om, dia kakak sepupumu," ujar Pak Herdian seraya mendorong punggung anaknya agar mendekat pada Sheila.
Sheila berdiri dari duduknya, menyambut uluran tangan Bima. "Senang bertemu denganmu, Bima."
"Aku juga senang kau sudah kembali," ucap Bima dengan senyum lebarnya.
Sementara Rayhan menatap tajam pada Bima. Langsung bangkit dari tempat duduknya, dan berdiri membelakangi Sheila, sehingga posisinya berhadapan dengan Bima.
Rayhan melirik Sheila yang berada di belakang punggungnya dengan ekor matanya, "Qiandra, duduk di tempatmu!" perintahnya pada Sheila, lalu kembali menatap Bima. "Dan kau... Kembali ke tempatmu, atau aku akan menendangmu keluar dari ruangan ini!" ucapan Rayhan yang terdengar santai namun bermakna mengancam serius, membuat bulu kuduk Bima merinding.
Tidak ingin malu sendiri, Bima segera menjauh dan kembali ke tempatnya. Sementara Rayhan kembali duduk di sebelah Sheila.
Marchel dan Willy yang melihat keadaan itu hanya diam membisu.
"Sepertinya Nona kecil itu akan menjadi rebutan para pria, ya! Lihat, pemuda itu tidak memberi ruang bagi Bima untuk mendekat padanya, tapi siapa yang bersamanya itu? Aku belum pernah melihatnya," tanya Willy panjang lebar.
"Sepertinya dia anaknya Pak Arman. Tadi aku dengar dia memanggilnya ayah. Aku juga terkejut. Dia adalah temannya Sheila di sekolah dulu," jawab Marchel.
"Benarkah?" tanya Willy diikuti anggukan oleh Marchel.
"Ya, dia satu-satunya anak yang mau berteman dengan Sheila."
Di sana, Sheila masih terlihat bersalaman dengan beberapa orang yang menghampirinya untuk sekedar berbasa-basi mengucapkan selamat datang. Walaupun merasa risih, namun wanita muda itu masih berusaha tetap tersenyum ramah.
Hingga matanya tertuju pada seorang wanita cantik yang sedang berjalan ke arahnya. Seketika ruangan itu terasa panas bagi Sheila. Wanita itulah yang membuatnya sampai kehilangan anaknya.
"Nona Qiandra, aku adalah Dokter Audry. Salah satu dokter yang bekerja di rumah sakit Cipta Harapan. Aku ucapkan selamat datang," ucap Audry dengan ramahnya.
__ADS_1
Sheila melirik tajam Audry dari ujung kaki ke ujung kepala, seolah tatapannya mengandung celaan. Dia menyambut uluran tangan Audry.
"Terima kasih."
"Aku senang sekali bisa berkenalan dengan Nona. Aku tidak menyangka jika pewaris Darmawan Group ternyata masih sangat muda dan cantik. Semoga kita bisa berteman dengan baik."
"Ya, tentu saja. Kebetulan sekali aku juga belum mengenal siapapun di sini," balas Sheila.
Audry tersenyum lebar. Baginya sebuah keberuntungan jika bisa dekat dengan Nona bos ini. Itu akan menguntungkan baginya. "Baiklah, terima kasih, Nona."
Aku ingin lihat sampai mana kau bisa menjilatku. Dulu kau menghinaku habis-habisan. Dan sekarang kau tidak lebih dari seorang penjilat. ucap Sheila dalam batin.
Sheila tersenyum penuh arti setelah berkenalan dan berbincang singkat dengan sosok wanita yang sangat dibencinya itu. Duduk kembali di tempatnya, sambil melirik Rayhan. "Bukankah ini permulaan yang bagus?" Rayhan hanya menyahut dengan senyum.
*****
Serangkaian acara malam itu pun berlanjut dengan lancar. Sheila kembali duduk bersama Rayhan setelah naik ke atas panggung dimana dirinya diperkenalkan pada masyarakat luas. Acara itu ditayangkan secara live di beberapa stasiun tv dan menjadi trending topik dimana-mana.
Kedua bola mata Sheila berkeliling di dalam ruangan besar itu. Ribuan manusia yang berada di sana nyatanya tidak cukup untuk mengisi kekosongan di dalam hati Sheila. Dia tetap merasa sendiri di tengah keramaian. Hingga tepukan di bahu membuyarkan lamunannya.
"Kenapa kau diam saja dari tadi? Apa kau sesedih itu karena Dokter Marchel ternyata tidak mengenalimu?" ledek Rayhan membuat Sheila membulatkan matanya.
"Kak Rayhan ini bicara apa? Aku tidak apa-apa." Sheila memutar bola matanya malas, membuat Rayhan kembali menggodanya.
"Haha, ini cukup rumit. Dia benar-benar tidak mengenalimu. Ya, kau menjelma dari Sheila menjadi Qiandra, siapa yang dapat mengenalimu? Tapi kan secara hukum dia masih suamimu. Apa kau tidak punya perasaan lain, saat pertama kali bertemu dengannya lagi?"
Sheila menatap Rayhan dengan kesal. "Tidak! Aku tidak peduli dengannya."
"Hmm... Baiklah, Nona! Aku percaya padamu. Kau tidak peduli padanya. Kalau begitu berhentilah melirik ke sana."
Rayhan kembali meledek Sheila, sejak tadi dirinya memperhatikan Sheila yang sudah beberapa kali melirik sembunyi-sembunyi ke arah Marchel.
Kekesalan di wajah Sheila semakin terlihat jelas, karena Rayhan tak berhenti menggodanya. Tidak ada yang bisa dilakukan Sheila selain mengerucutkan bibirnya.
****
Diam-diam, Sheila keluar dari ballroom hotel itu, berjalan-jalan seorang diri di taman belakang. Menghirup banyak-banyak udara. Dadanya terasa sesak berada di antara ribuan orang itu. Ingatan masa lalu yang menyakitkan terus menari-nari di benaknya.
Setitik air mata lolos begitu saja, membasahi wajah cantiknya. Walaupun Sheila berusaha untuk tampil sekuat mungkin, pada kenyataannya bertemu Marchel tetap membuatnya merasa menjadi lemah.
Antara kebencian yang menggunung, dan juga rasa cintanya yang masih terpendam untuk Marchel bercampur menjadi satu.
Kak Marchel juga tidak mengenaliku. Dia sama saja seperti mereka semua. Kenapa hatiku harus selemah ini. Bukankah seharusnya aku membenci Kak Marchel? Tapi kenapa rasanya begitu sulit bagiku? Aku ingin membuatnya merasakan penderitaanku, tapi kenapa aku malah tenggelam dalam kesedihanku sendiri?
Sheila masih merenung sendiri, ketika tiba-tiba sesosok tangan menarik tubuhnya, dan memeluk dengan erat. Sheila membeku, menghirup aroma tubuh yang sangat dikenalinya itu.
****
__ADS_1
BERSAMBUNG