
Terdengar tangisan histeris dari sebuah ruangan. Marchel baru saja memberitahu Sheila tentang anak mereka yang tidak dapat bertahan, beberapa jam setelah Sheila tersadar dari pengaruh obat bius. Sheila menangis sejadi-jadinya membuat Marchel memeluknya dengan erat.
Ibu pun masih berdiri di sudut ruangan itu dengan berderai air mata. Menyesali semua perbuatan buruknya pada Sheila. Setelah mengetahui anak Sheila adalah darah dagingnya sendiri, ibu dipenuhi rasa bersalah, telah terhasut oleh Audry dengan mudahnya.
"Kembalikan anakku, Kak Marchel. Kalau tidak mau mengakuinya kenapa membunuhnya? Dia anakku, bukan anakmu. Kak Marchel tidak berhak mengambilnya dariku." Dengan gerakan yang sangat lemah Sheila berusaha bangkit, namun Marchel menahannya. Wanita itu tidak mempedulikan lagi rasa sakit yang teramat perih pada bekas sayatan di perutnya. Kenyataan kehilangan anaknya lebih sakit dari apapun. Bahkan rasanya lebih baik mati saja.
Marchel masih memeluk Sheila yang masih terbaring lemah. "Maafkan aku, Sheila, aku bersalah. Aku mohon bersabarlah."
Sheila semakin menjerit, memukul-mukul dada Marchel dengan tenaganya yang tersisa. Gumaman lirih kembali terucap. "Kembalikan anakku! Kembalikan!"
"Sayang, dengarkan aku... Kita masih bisa punya anak lagi. Kita akan mulai lembaran baru, aku berjanji akan membuatmu bahagia. Kita akan meninggalkan semuanya dan tinggal di rumah baru, hanya berdua. Hanya kau dan aku. Aku mencintaimu, Sheila! Sangat!"
Seakan kata-kata itu tidak berarti lagi bagi Sheila, yang diinginkannya hanya anaknya. "Bawa anakku padaku. Aku mau melihatnya." Isakan demi isakan Sheila terus menggema di ruangan itu.
Marchel keluar dari ruangan itu menuju ruang perawatan bayi dimana jasad anaknya berada. Sementara Sheila masih terus menangis pilu. Ibu mendekat, mencoba menenangkan Sheila. Namun, baru akan menyentuh bahunya saja Sheila sudah berteriak.
"Jangan sentuh aku! Kalian semua pembunuh! Kalian sudah membunuh anakku!" Teriakan histeris kembali menggema. Ibu hanya dapat menunduk.
Wanita paruh baya itu mundur beberapa langkah kebelakang sambil mengusap air matanya. "Maafkan ibu, Sheila! Semua ini salah ibu."
Sheila terus menangis, tidak mempedulikan lagi ucapan ibu mertua yang baginya terlampau jahat itu. Hingga saat Marchel masuk ke dalam ruangan itu dengan membawa bayi kecil yang sudah tak bernyawa. Sheila terdiam, sendi-sendinya terasa lemas. Tangannya gemetaran, mengulur meminta Marchel menyerahkan bayi itu padanya.
Marchel pun meletakkan bayi perempuan itu di pangkuan Sheila. Air mata wanita muda itu semakin tidak tertahan melihat tubuh bayi kecilnya yang sudah membiru di beberapa bagian. Sheila mengecup wajah pucat itu beberapa kali, lalu memeluknya dengan erat.
"Anakku... maafkan ibu. Ibu tidak bisa melindungimu dari orang-orang jahat itu. Apa salah kita pada mereka? Kenapa mereka lakukan semua ini pada kita." Sheila kembali menatap wajah bayi mungil itu, dalam dan lama. Dengan derai air matanya yang semakin deras. Sesaat kemudian memeluk kembali tubuh sang bayi. Berteriak histeris.
Marchel segera memeluk Sheila dan mencoba menenangkannya. Bahkan rasanya, Sheila tidak ingin disentuh oleh Marchel. "Jangan sentuh aku! Pergi kalian semua. Kalian pembunuh! Kalian sudah membunuh anakku."
__ADS_1
Sheila terus berteriak sambil memanggil anaknya yang telah tiada, hingga Dokter Willy masuk ke ruangan itu dan memberinya suntikan penenang.
"Apa itu?" tanya Marchel menatap Willy.
"Ini hanya penenang. Sheila butuh itu," jawab Willy. Ia menatap iba pada Sheila. Rasanya tak tega melihat wanita muda itu begitu menderita. Perlakuan ibu dan Audry, berikut ketidakpercayaan Marchel benar-benar tidak adil bagi Sheila.
Dengan sisa-sisa kesadarannya, Sheila masih bergumam-gumam kecil, meminta Marchel menghidupkan kembali anaknya.
"Kembalikan anakku Kak Marchel. Tolong, kembalikan anakku!" Hingga ibu muda itu merasa pusing dan akhirnya kembali tertidur di dalam pelukan Marchel.
Marchel segera meraih anaknya yang masih dipeluk erat oleh Sheila. Sementara Willy, menepuk bahu Marchel. Mencoba menguatkan sahabatnya itu.
"Bersabarlah! Semua akan baik-baik saja. Lebih baik segera memakamkan putrimu," ujar Willy diiringi anggukan oleh Marchel.
"Baiklah! Terima kasih, Wil."
****
Sore hari, di sebuah kompleks pemakaman. Marchel terlihat menangis di atas sebuah makam yang masih baru. Tangis penyesalannya seakan tiada gunanya lagi. Ia telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya. Begitu pun dengan ibu yang terus menangis pilu. Akibat kesalahannya, cucunya sendiri menjadi korban.
Beberapa kerabat yang ikut dalam prosesi pemakaman itu telah pergi satu-persatu, setelah mengucapkan bela sungkawa pada Marchel.
Willy kemudian menepuk bahu sahabatnya itu, "Ayo Marchel... Hari sudah sore. Kau harus temani Sheila di rumah sakit. Dia bisa saja kembali histeris saat terbangun."
Marchel tidak menyahut. Tatapannya kosong. Sementara ibu duduk di sisi makam yang satunya. Isakannya masih terdengar pilu.
"Ibu, pulanglah! Aku akan kembali ke rumah sakit." Marchel berdiri dari posisi berjongkoknya.
__ADS_1
Dengan berderai air mata, ibu bersimpuh di bawah kakinya anaknya itu. Memohon ampunan. "Ini semua salah ibu, Marchel. Ibu yang sudah menyebabkan semua ini."
Marchel memejamkan matanya kasar, air matanya kembali mengalir. "Kalau mau minta maaf, minta maaflah pada Sheila, Bu! Bukan padaku. Aku tidak melaporkan Audry ke polisi karena ibu ikut terlibat. Tapi, kalau Sheila menginginkannya, maka akan aku lakukan."
Setelah mengucapkan kalimat itu, Marchel beranjak meninggalkan ibu yang masih duduk bersimpuh di sisi makam itu. Bersama Willy, Marchel menuju sebuah mobil yang terparkir di depan gerbang pemakaman itu.
"Aku harus bagaimana, Wil? Sheila tidak akan memaafkanku. Dia akan membenciku." Marchel menyandarkan punggungnya, sementara Willy mulai melajukan mobil.
"Seiring berjalannya waktu, Sheila akan melupakan semuanya. Ini masalah waktu. Lagipula kalian masih punya kesempatan untuk punya anak lagi. Sheila masih sangat muda."
"Ya, tapi aku sudah membuatnya menderita. Aku meninggalkannya begitu saja selama tujuh bulan. Aku akui itu kesalahan terbesarku. Dan saat kembali aku malah tidak mempercayainya dan meragukan anakku sendiri."
"Sudahlah! Yang terpenting sekarang kesehatan Sheila, dan menyembuhkan luka hatinya. Minta maaflah padanya dan akui perasaanmu. Aku tahu kau sangat mencintainya, kan? Jangan pura-pura lagi."
"Kau benar. Aku terlambat menyadarinya."
Berselang tiga puluh menit, mereka tiba di rumah sakit. Marchel dan Willy mempercepat langkahnya menuju ruangan dimana Sheila berada.
Hingga tiba di depan sebuah ruangan, Willy menepuk bahu sahabatnya itu. "Temuilah Sheila dan minta maaf. Bujuk dia dengan lembut. Dia pasti akan memaafkanmu!"
Marchel menjawab dengan anggukan, sementara Willy sudah beranjak menuju ruangannya.
Pintu terbuka, Marchel melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan . "Sheila..." panggilnya.
****
Bersambung
__ADS_1