
Waktu terus bergulir tanpa terasa. Dalam hidup ada kalanya manusia berada di atas, dan ada kalanya berada di titik terendah dalam hidupnya. Tiga bulan sudah Sheila menjalani hari-harinya dengan kebencian yang semakin menggunung di hatinya.
Hari itu kepanikan terjadi di sebuah rumah sakit dimana seorang pria paruh baya baru saja tiba dalam keadaan sudah tidak sadarkan diri. Isak tangis terjadi antara dua wanita yang sedang saling berpelukan di depan ruangan Unit Gawat Darurat. Ayah Maya, yang merupakan kepala sekolah SMA Pelita mengalami serangan jantung akibat masalah yang sedang menimpa keluarganya.
Ibu Maya, yang saat ini masih berstatus kepala rumah sakit duduk di sebuah kursi sambil menangis. Sang suami telah diberhentikan sebagai kepala sekolah. Kini tinggal menunggu dirinya diberhentikan dari posisinya.
Maya mendekati sang ibu dan berlutut di depannya. "Maafkan aku, Bu. Ini semua salahku. Seandainya saja sejak awal aku tidak menyombongkan status ayah dan ibu, dan tidak menjahati orang lain karena merasa aku di atas, semua ini tidak akan terjadi. Apa yang terjadi pada keluarga kita sekarang adalah buah dari perbuatanku di masa lalu."
"Sudah, Maya. Bukan saatnya menyalahkan siapa-siapa. Ini kesalahan kami. Sebagai orang tua tidak bisa membimbingmu dengan baik sehingga kau melakukan kesalahan itu."
"Sekarang aku sudah menerima balasannya, Bu. Aku sudah hancur. Ayah dan ibu kehilangan pekerjaan, dan aku kehilangan semuanya. Dikeluarkan dari kampus, semua temanku menjauhiku. Dan serang ayah dalam keadaan seperti ini." Tangis Maya semakin menjadi-jadi. Menyesali semua perbuatannya di masa lalu.
"Apa kau sudah minta maaf pada Nona Qiandra?" tanya ibu.
"Aku sudah menemuinya beberapa kali, Bu. Tapi dia tidak mau memaafkanku. Aku sudah berlutut di hadapannya memohon maaf. Aku mengerti kalau dia sangat marah padaku. Apa yang sudah kulakukan padanya dulu Memang sangat keterlaluan. Dan aku menyadarinya, Bu."
Wanita paruh baya itu menyeka air matanya, "Ibu yang akan menemuinya nanti dan memohon maaf."
Maya segera menggelengkan kepalanya, yang menandakan dirinya melarang sang ibu menemui Sheila. "Jangan, Bu! Nona Qiandra bukan Sheila yang dulu. Biar aku saja. Aku tidak mau Ibu merasakan hukuman karena kesalahanku."
"Tapi ini juga kesalahan ibu. Jadi ibu akan menanggungnya juga." Kedua wanita itu kembali berpelukan sambil menangis.
Tanpa mereka sadari, di balik sebuah dinding, Sheila mendengarkan pembicaraan mereka sejak tadi. Seulas senyum kepuasan terbit di wajah wanita muda itu. Namun, ada pula cairan bening yang menandakan kepedihan, yang jatuh membasahi pipinya. Sheila menguap air matanya dengan jari.
"Tidak! Aku sangat puas membalas mereka. Aku tidak sedih dan tidak akan menyesal. Mereka pantas mendapatkan ini," gumam Sheila. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia sangat bahagia sudah bisa membalas Maya. Namun, hati kecilnya tetaplah tidak dapat berbohong. Bahwa melihat orang lain menderita karena perbuatannya pun membuat hatinya terluka.
Sheila beranjak meninggalkan tempat itu, menuju ruangannya. Sebuah ruangan yang disulap menyerupai kamar hotel yang mewah.
****
__ADS_1
_
_
_
Duduk selonjoran di atas sofa panjang yang empuk, Sheila memikirkan rencana selanjutnya. Pembunuh orang tua dan juga kakak kesayangannya masih berkeliaran di luar sana.
"Sekarang aku tinggal membantu Kak Rey mengumpulkan bukti kejahatan mereka. Merekalah yang membuatku harus tinggal jauh dari kehidupanku yang sebenarnya. Begitu semua bukti terkumpul, maka mereka akan berakhir di penjara."
Tidak lama kemudian, terdengarlah suara ketukan pintu, yang membuyarkan lamunan wanita muda itu.
"Masuklah!" ucap Sheila. Pelan-pelan pintu terbuka. Tampak Audry berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat pasih.
"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Audry.
Sheila memutar bola matanya pertanda malas. "Mau apa kau?"
"Apa itu?"
"Ini adalah surat pengunduran diriku. Aku mohon disetujui. Aku akan segera pergi dari kota ini."
Sheila tertawa sumbang mendengar ucapan Audry. "Ada apa? Bukankah kau sangat bekerja keras untuk bisa diterima bekerja di rumah sakit ini? Supaya kau bisa dekat dengan Dokter Marchel. Lalu kenapa kau mau mundur? Bukankah perjuanganmu akan sia-sia?"
"Maaf..." Hanya itu yang dapat terucap dari bibir Audry.
"Maaf? Apa hanya itu yang bisa kau ucapkan?"
"Nona, saya mohon. Saya harus pergi sekarang."
__ADS_1
Tanpa banyak bicara Audry melangkah hendak keluar. Namun, baru di ambang pintu, wanita itu mendadak sangat pusing. Darah kembali menetes dari hidung. Audry terhuyung ke lantai dalam keadaan sudah tak sadarkan diri.
Melihat Audry tiba-tiba terjatuh, Sheila pun panik. Ia segera bangkit dari duduknya, menghampiri Audry.
"Dokter Audry...!" panggil Sheila seraya menepuk wajah wanita itu. "Kenapa dia berdarah? Apa dia sakit?"
Sheila mengedarkan pandangannya kesana-kemari, berharap ada orang yang sedang melintas, lalu kemudian berteriak meminta tolong. Beberapa petugas yang berlalu segera menuju ruangan itu ketika mendengar suara teriakan meminta tolong.
"Cepat kalian bawa dia ke ruangan IGD!" perintahnya pada beberapa petugas itu.
Salah seorang diantaranya segera mengambil pembaringan pasien untuk segera membawa Audry menuju ruang IGD. Meninggalkan Sheila yang masih mematung di tempatnya. Ada pertanyaan di benaknya tentang apa yang terjadi pada Audry yang tiba-tiba saja mimisan.
Hingga seseorang datang dan membuyarkan lamunannya.
"Sheila... Em... Maaf maksudku, Nona Qiandra."
Sheila menoleh pada sumber suara. Tampak Dokter Willy berdiri di sana dengan seulas senyum tipis.
"Kak Willy..." ujarnya . "Tolong jangan panggil aku seperti itu. Aku lebih suka dipanggil Sheila. Ada apa, Kak?"
Jika Sheila sangat judes saat berbicara dengan Marchel, maka tidak dengan Dokter Willy. Sheila bahkan sangat ramah pada sahabat Marchel itu.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Willy.
"Soal apa?" tanya Sheila penasaran.
"Aku mau membicarakan sesuatu yang penting. Bagaimana kalau kita ke kafe saja."
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG