Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Ingin Mengadopsi


__ADS_3

"Bu Fifi, aku mau membuat pengajuan untuk mengadopsi Michella. Apakah Ibu tidak keberatan?" tanya Marchel sembari menyuapi makan Chella.


Sore itu, Marchel menyempatkan diri menjenguk si kecil Chella yang beberapa hari ini kurang sehat. Dan seperti biasa, ibu Fifi akan segera menghubungi Marchel. Karena hanya Marchel seorang yang dapat membujuk jika Chella menangis.'


"Dokter Marchel mau mengadopsi Chella?" Bu Fifi terlihat terkejut.


Marchel mengangguk pelan, "Iya, Bu. Aku akan keluar negeri minggu depan. Tapi aku merasa berat meninggalkan Chella. Karena itulah, kalau diizinkan, aku ingin mengadopsinya. Chella juga bisa sekalian berobat di sana."


Ada raut wajah bahagia sekaligus sedih tergambar di wajah Bu Fifi. Untuk pertama kalinya ada yang ingin mengadopsi anak asuh kesayangannya itu.


"Aku akan sangat senang kalau Chella diadopsi oleh seseorang yang sangat menyayanginya seperti Dokter Marchel. Walaupun berat untuk melepasnya, tapi Chella butuh keluarga. Dan dia bukanlah tipe anak yang bisa dekat dengan sembarang orang. Hanya Dokter Marchel dan Sheila saja yang bisa membujuk anak itu."


"Karena itulah aku ingin mengadopsinya, Bu. Aku sudah mengaggap Chella seperti anakku sendiri," ujar Marchel.


"Baiklah kalau begitu. Kita bisa mengurus segalanya mulai sekarang," ucap Bu Fifi diikuti anggukan oleh Marchel. "Chella pasti akan sangat bahagia tinggal bersama Dokter Marchel."


"Aku juga akan sangat senang, setiap hari bisa bertemu Chella."


"Om Dokter, sudah kenyang..." ucap Chella seraya memegangi perutnya, membuat Marchel tersenyum dan mengusap rambut anak itu.


"Benar? Chella sudah kenyang? Ini kan belum habis."

__ADS_1


"Tapi Chella kenyang. Ini perutnya besar." Menunjuk perut kecilnya.


"Mana? Coba Om Dokter lihat!" Marchel mengusap perut Chella, "sepertinya belum. Ini perutnya masih kempes."


"Tapi isinya banyak."


"Baiklah, Nona kecil." Marchel meletakkan kembali mangkuk itu ke atas meja, lalu memberi segelas air putih pada Chella. "Kalau begitu Om Dokter mau tanya. Chella mau ikut sama Om Dokter tidak?"


"Ikut kemana?"


"Tinggal di rumah Om Dokter. Nanti Chella bisa ketemu Om Dokter setiap hari. Chella mau kan?"


"Mau. Tapi nanti kita ke kebun binatang ya. Mau lihat jerapah sama gajah." Suara bocah kecil itu terdengar sangat menggemaskan, sehingga Marchel segera memeluknya. Dan setiap kali memeluk Chella, seakan Marchel tidak ingin melepasnya.


"Baiklah, Sayang. Nanti kita akan ke kebun binatang."


"Sama kakak cantik?" Wajah Marchel pun berubah, mengingat kakak cantik yang dimaksud Chella adalah Sheila. Marchel hanya dapat tersenyum kepada bocah balita itu.


"Chella suka sama kakak cantik?" tanya Marchel.


"Suka. Kakak cantik kasih Chella boneka ini." Menunjukkan sebuah boneka lucu yang diberikan Sheila saat pertama kali bertemu dengannya.

__ADS_1


"Nanti kita ajak kakak cantik juga. Tapi sekarang, Chella harus minum obat. Chella kan mau cepat sembuh. Supaya nanti kita bisa ke kebun binatang." Bagai seorang ayah, Marchel begitu memperhatikan Chella.


Bu Fifi begitu terharu melihat interaksi antara Chella dan Marchel. Merasa beruntung, di tengah kondisi kesehatan Chella yang tidak begitu baik, ada seorang dokter yang mau merawat bocah kecil itu dengan ikhlas.


Sesaat kemudian, ponsel milik Marchel berdering tanda panggilan masuk. Laki-laki itu segera mengeluarkan benda pipih berwarna hitam itu dari saku celananya. Di layar tertera nomor Dokter Selma, salah seorang rekan kerjanya. Marchel mengerutkan alisnya, dalam benaknya ada pertanyaan mengapa sampai sang dokter menghubunginya.


"Selamat sore, Dokter Selma," ucap Marchel saat panggilan itu terhubung.


'"Selamat sore, Dokter Marchel, maaf aku mengganggu waktumu. Tapi ini sangat penting."


"Ada apa, Dokter?"


"Kondisi Dokter Audry memburuk. Kalau Dokter Marchel ada waktu, Dokter Audry meminta bertemu. Katanya ada hal penting yang harus dibicarakan dengan Dokter Marchel. Aku juga sudah menghubungi Nona Sheila. Tapi sampai sekarang, Nona Sheila belum juga datang."


"Baiklah, aku akan segera ke sana."


Marchel menghela napas panjang. Prihatin dengan apa yang terjadi pada Audry. Namun, jika mengingat perbuatan Audry yang menyebabkan Marchel kehilangan buah hatinya, membuat laki-laki itu menggeram.


"Hal penting apa yang ingin dia bicarakan denganku. Dia juga memanggil Sheila." gumamnya.


****

__ADS_1


__ADS_2