
"Huwaaaaa Ayah...!!" Terdengar suara tangisan Michella yang baru saja terbangun dari tidurnya, sepertinya gadis kecil itu sedang bermimpi buruk. Ibu yang sedang berbaring di sisinya langsung terbangun dan mengusap punggung gadis kecil itu.
"Chella kenapa?" tanyanya, seraya meraih tubuh Chella dan membawa ke pangkuannya.
"Ayah ... hiks hiks ...."
"Ayah sedang menjemput ibu, Nak! Chella sama Oma saja, ya?" Ibu berusaha membujuk cucunya itu agar berhenti menangis, namun semakin lama, tangis gadis kecil itu semakin menjadi-jadi.
"Mau ayah!" lirihnya.
Ibu menggendong Chella keluar kamar, sambil beberapa kali mencoba membujuk cucunya itu agar berhenti menangis. Namun tangisnya tak kunjung berhenti. Wanita paruh baya itu melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, namun Marchel tak juga kembali.
"Kenapa Marchel belum juga pulang? Bukankah dia hanya pergi menjemput Sheila. Apa jangan-jangan Sheila tidak mau kemari," gumam wanita itu.
"Ayah ... Ayah ...." Sambil menangis Chella terus memanggil sang ayah. Suara tangisannya bahkan membuat beberapa pelayan di rumah itu terbangun, sehingga segera menuju ruang tengah dimana majikannya berada.
"Nyonya, ada apa dengan Nona kecil? Kami mendengarnya terus menangis," ucap salah seorang wanita.
"Entahlah, dia tiba-tiba terbangun dan mennagis. Tolong kau gendong Chella sebentar. Aku mau menghubungi ayahnya. Entah kenapa dia belum pulang, padahal ini sudah larut malam." Menyerahkan Chella pada salah satu dari beberapa pelayan itu, kemudian mencoba menghubungi Marchel. Namun, setelah beberapa kali mencoba, panggilan itu tak terhubung juga. Sementara Chella sangat sulit untuk ditenangkan. Gadis kecil itu terus menerus menangis hingga merasa dadanya sesak. Salah seroang pelayan itu terlihat panik, melihat Chella seperti kesulitan bernapas.
"Nyonya!" panggil wanita itu dengan paniknya. "Nyonya ada apa dengan Nona Chella? Kenapa dia sesak napas?"
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Ibu segera meraih tubuh Chella, memperhatikan wajahnya yang tiba-tiba memucat. "Ya Tuhan, ada apa dengan cucuku." Merasa panik, wanita itu menangis melihat Chella mengerang memegangi dadanya sambil berusaha menarik napas dalam. "Chella kenapa, Nak?"
Ibu mencoba menenangkan Chella dengan duduk di sofa dan mengusap dadanya beberapa kali. Namun, semakin lama, Chella semakin kesulitan bernapas. Bahkan suara tangisannya sudah terputus-putus.
"A-ay-ah..." lirih suara Chella membuat air mata wanita itu semakin deras. Dan, sesaat kemudian, gadis kecil itu mulai kehilangan kesadarannya, wajahnya yang pucat semakin membuat ibu dan beberapa orang yang ada di sana menjadi semakin panik.
"Chella!" panggil ibu sambil menepuk pelan wajah cucunya itu. "Chella, bangun, Sayang!"
"Nyonya, Nona Chella tidak sadarkan diri. Lebih baik kita cepat membawanya ke rumah sakit," ucap seorang pelayan.
"Baiklah, cepat minta sopir menyiapkan mobil! Yuni tolong kau cepat ambilkan selimut kecil di lemariku!"
Pelayan itu segera menuju kamar sang majikan dan mengambil selimut kecil. Sementara ibu masih terus berusaha membangunkan Chella.
***
Setengah berlari, ibu menggendong Chella menuju mobil yang sudah menunggu di depan sana. Ibu juga meminta salah seorang ART-nya untuk ikut dengannya membawa Chella ke rumah sakit. Sepanjang jalan, wanita paruh baya itu terus menangis sambil mencoba menghubungi nomor telepon Marchel. Namun, panggilannya tak terhubung juga. Ibu pun segera menghubungi sahabat Marchel, Dokter willy dan memberitahu kondisi Chella.
"Michella... Bangun, Sayang." Sambil mengusap rambut cucunya itu, ibu terus berusaha membangunkannya. "Tolong lebih cepat lagi!" pinta ibu pada sang sopir.
Berselang dua puluh menit, mereka tiba di sebuah rumah sakit. Dokter Irene, yang merupakan seorang dokter anak dan beberapa petugas lain sudah menunggu di depan setelah diberitahu oleh Willy.
__ADS_1
Dengan sigap, para petugas medis itu membawa Chella menuju ruang IGD untuk mendapatkan penanganan.
Sementara ibu masih menangis di depan ruangan itu ketika Willy datang dan menghampirinya.
"Ibu ... apa yang terjadi?" tanya Willy.
"Entahlah, Wil. Chella tiba-tiba terbangun dan menangis mencari Marchel. Dia tiba-tiba sesak napas dan akhirnya pingsan. Ya, Tuhan ... Cucuku ...."
Willy pun berusaha menenangkan wanita yang telah dianggapnya bagai ibu sendiri itu. "Tenanglah, Bu. Chella sedang ditangani dokter terbaik di rumah sakit ini. Dia pasti akan baik-baik saja."
"Marchel, kemana dia?"
"Aku sudah mencoba menghubunginya, Bu. Tapi tidak terhubung," ucap Willy menyandarkan wanita itu di bahunya. "Tadi aku hanya mengantarnya pulang bersama Chella, lalu aku segera kembali ke rumah sakit."
"Marchel pergi ke rumah Sheila untuk memberitahu tentang Michella. Tapi sudah beberapa jam, Marchel tidak juga kembali. Aku tidak tahu harus menghubungi siapa."
"Ke rumah Sheila?" tanya Willy diikuti anggukan oleh ibu. "Tenangkan diri ibu duli, aku akan segera menghubungi nomor telepon rumah Sheila. Dia tinggal bersama Pak Arman sekarang."
****
BERSAMBUNG
__ADS_1