Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Bulan Madu itu berdua, Bukan bertiga!


__ADS_3

"Memangnya kenapa? Sheila memberimu hadiah?" tanya Willy seraya tertawa pelan.


"Hadiah apa? Pagi-pagi dia sudah marah padaku. Dia bilang aku menyiksanya sepanjang malam."


Willy menutup seringnya dengan jari. Ingin tertawa sekencang-kencangnya namun ditahannya. "Benarkah? Kau ganas juga ya ... Berapa kali?" Bertanya tanpa rasa berdosa.


Marchel hanya memberi lirikan maut pada temannya itu. "Aku benar-benar ingin mencekikmu!"


"Hahaha! Tapi enak kan? Kalau mau aku bisa memberimu obat itu lagi."


"Diam kau!" seru Marchel membulatkan matanya. "Sekarang aku harus apa untuk membujuk Sheila. Dia sepertinya sangat kesal."


"Itu gampang. Membujuk wanita tidak sesulit membujuk anak kecil."


Marchel menatap curiga pada Willy, pikirannya mulai menebak, ide gila macam apa yang akan diberikan sahabatnya itu. Terkadang ide-ide Willy baginya sangat memalukan. Padahal yang sebenarnya adalah, Marchel-lah yang terlalu kaku dalam hal wanita. Sehingga kadang ide cerdas Willy berakhir memalukan. "Memang kau ada ide gila apa?"


Willy menatap Marchel dengan kesal. Sudah tentu Marchel akan kesulitan menjalankan trik Willy dalam menaklukkan wanita. Kedua karakter dokter itu sangat bertolak belakang. Jika Marchel seorang pria kaku, maka Willy seorang playboy yang dengan mudahnya meluluhkan hati wanita.


"Ajak bulan madu saja. Kalian bisa pergi berdua. Bagaimana kalau ke Maldives. Di sana sangat romantis." Willy senyum-senyum tidak jelas, seraya menggerakkan alisnya naik turun, membuat Marchel semakin curiga padanya.


"Kau tidak sedang ingin menjebakku, kan?" tanya Marchel curiga. Willy menghela napas panjang seraya menggeleng tanda frustrasi.


"Kau ini benar-benar tidak tahu terima kasih! Cobalah pergi ke Maldives. Dan nikmati masa-masa bulan madumu di sana."


Marchel menganggukkan kepalanya dengan alis mengerut, pertanda laki-laki itu sedang berpikir. "Lalu bagaimana dengan Chella?"


"Ya jangan dibawa. Kalian sedang berbulan madu. Kehadiran Chella malah akan mengganggu kalian. Chella kan bisa dititipkan pada ibumu dulu."


"Baiklah! Aku akan memikirkannya."


"Aku bisa membantu mencarikan paket bulan madu untuk kalian. Kau tenang saja."


"Baiklah, kalau begitu aku tanyakan pada Sheila dulu. Aku akan memberitahumu kalau dia setuju."


****


Sheila menuruni satu-persatu anak tangga menuju lantai bawah dengan lemas. Sesekali memijat tengkuknya yang terasa menegang.


Di ruang keluarga, ibu sedang bermain dengan Chella. Wanita paruh baya itu memperhatikan wajah Sheila yang tampak sangat letih.


"Sheila... Ada apa? Kenapa wajahmu agak pucat?"


"Tidak apa-apa, Bu! Sepertinya hanya kelelahan." Menjatuhkan tubuhnya di sofa, sambil memperhatikan Chella yang sedang belajar menggambar.


"Ibu buatkan jus ya..."


"Tidak usah, Bu. Jangan repot-repot. Aku akan membuatnya sendiri nanti."

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Sebentar ibu ke dapur dulu."


Wanita paruh baya itu sudah beranjak menuju dapur. Sheila memperhatikan ibu mertua yang kini sudah kembali seperti sejak awal Sheila mengenalnya. Saat Marchel masih berpacaran dengan Shanum, ibu sangat baik dan perhatian pada Sheila. Sangat berbeda dengan sikap ibu setelah menikah. Dan semua itu ternyata hanya karena hasutan Audry semata.


Chella menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu duduk di pangkuan sang bunda.


"Bunda... Chella mau ke kolam ikan raksasa. Ayah bilang mau ajak Chella ke kolam ikan yang ada ikan bebi syalk-nya."


"Kolam ikan raksasa? Dan Ikan apa tadi?" Sheila belum begitu mengerti apa maksud si kecil. Kadang bicaranya masih terdengar belepotan.


"Bebi Syaaaalk."


"Oh, baby Shark... Nanti coba tanya ayah lagi." Sheila mengusap rambut gadis kecilnya itu.


"Mau ke kebun binatang juga. Yang ada gajah sama harimaunya."


"Boleh. Nanti bunda tanya ayah, ya."


Michella tampak sangat bahagia. Kini gadis kecil itu memiliki keluarga lengkap. Om dokter yang tiba-tiba menjadi ayah dan kakak cantik yang tiba-tiba menjadi bundanya, dan juga seorang Oma yang akan menuruti apapun keinginannya. Kejutan demi kejutan manis terus didapatkan bocah berusia empat tahun itu.


"Bunda, tapi Chella boleh minta es krim kan?" tanya-nya dengan wajah memelas. Selama ini, Marchel melarangnya memakan makanan manis seperti es krim, cokelat dan permen.


"Ayah bilang apa?"


Gadis itu menjawab dengan mengerucutkan bibirnya, seraya menggeleng pelan. "Ayah bilang tidak boleh."


****


Hari beranjak sore, Sheila sedang berada di balkon sambil menatap ke arah taman belakang rumah yang luas. Rerumputan hijau dan juga bunga-bunga yang bermekaran sangat indah. Rasanya masih sama persis seperti pertama kali wanita itu menginjakkan kaki di rumah itu.


Tiba-tiba sosok tangan melingkar di perutnya.


"Sayang..." bisik Marchel seraya mengecup leher belakang sang istri.


"Kak Marchel... Bikin kaget saja."


"Sedang apa di sini?"


"Tidak, aku hanya melihat taman saja. Kak Marchel darimana saja? Perginya pagi dan sore baru kembali."


"Dari rumah sakit. Oh, ya... Bagaimana kalau kita mencoba panggilan baru. Kau selalu memanggilku seperti itu. Tidak ada romantisnya."


"Lalu aku harus panggil apa? Om? Haha..."


Marchel mengerucutkan bibirnya dengan lucu. "Ya apa saja. Sayang, Mas, Cinta... Jangan kakak!"


Sepertinya ide itu berasal dari sahabat laknatnya lagi. Sheila sampai keheranan. Selama ini Marchel tidak pernah mempermasalahkan panggilan apapun. Sheila hanya merespon dengan senyuman tipis. "Ada-ada saja."

__ADS_1


"Oh ya ... Aku ada sesuatu untukmu." Marchel mengeluarkan sebuah buku tipis dan memberikannya pada Sheila.


"Apa ini?"


"Itu adalah paket bulan madu. Bagaimana kalau kita berbulan madu ke Maldives? Selama menikah, kita kan belum pernah bepergian berdua."


"Berdua? Lalu Chella?"


"Namanya juga paket bulan madu, Sheila. Mana ada orang berbulan madu bertiga."


"Aku tidak mau kemana-mana tanpa Chella. Kak Marchel ini ayah macam apa? Mau meninggalkan anak sendirian."


Perdebatan pun dimulai. Marchel menghela napas panjang. Ide Willy kembali menjadi dilema bagi laki-laki itu.



"Kata siapa kita meninggalkan Chella sendirian. Kan ada ibu yang akan menjaganya. Dia juga punya tiga orang pengasuh yang akan menemaninya bermain." Marchel mulai membujuk Sheila.


"Tapi kan..."


"Coba lihat ini!" Marchel menunjuk beberapa gambar pemandangan yang indah. "tempat ini sangat indah, kan... Kita akan menghabiskan waktu berdua selama satu minggu di sana."


"satu minggu?"


"Iya ... Ayolah, Sayang! Hanya seminggu. Setelah itu kita akan kembali."


"Tapi Chella ..."


"Dia tidak akan menangis. Sungguh! Aku sudah bicara dengannya tadi. Dia mengizinkan kita pergi berdua."


Sheila menatap curiga pada suaminya itu. Penasaran bagaimana cara Marchel membujuk anaknya yang bahkan tidak pernah mau menjauh dari orang tuanya itu.


"Bagaimana cara Kak Marchel membujuknya?"


Sambil tersenyum Marchel menjawab, "Aku bilang padanya kita ke sana untuk membuatkannya adik bayi. Dan dia setuju." Ucapan Marchel seolah telah menyelesaikan masalah tanpa masalah.


Sheila menganga tak percaya mendengar jawaban dari suaminya itu. Tidak menyangka, jika Marchel menjawab seperti itu pada anak yang masih berusia empat tahun. Dan sudah pasti, ide itu berasal dari otak mesum milik Willy.


"Kak Marchel, bagaimana bisa menjawab seperti itu pada anak yang masih empat tahun!"


"Memangnya kenapa?"


Sheila menepuk dahinya pelan, sambil geleng-geleng kepala.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2