
Malam semakin larut...
Sheila baru saja masuk ke kamar setelah menidurkan Chella. Baru satu langkah memasuki kamar itu, ia sudah dikejutkan dengan suasana kamar. Sheila menatap setiap sudut kamar dengan pencahayaan temaram itu. Saat meninggalkan kamar tadi, tidak ada yang istimewa selain hiasan tempat tidur yang indah. Namun, kini suasana ruangan itu menjadi sangat romantis.
Wangi bunga melati yang menguar melalui lilin aromaterapi terasa begitu memanjakan penciumannya. Kelopak bunga bertaburan di lantai membentuk hati dengan lilin-lilin kecil ditengahnya. Disempurnakan dengan alunan musik yang begitu romantis. Marchel memilih sebuah lagu dari Gary Barlow yang berjudul -Forever love.
Sepertinya Marchel benar-benar tidak ingin kehilangan moment malam keduanya. Laki-laki itu sudah menunggu sejak tadi, duduk bersandar di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Apalagi kalau bukan berkirim pesan dengan sahabatnya. Ia baru saja meminta bantuan Willy untuk menjadikan kamar itu terlihat seromantis mungkin.
"Chella sudah tidur?" tanya Marchel membuat Sheila mengangguk pelan.
Laki-laki itu menyeringai, meletakkan ponsel di atas meja nakas, turun dari tempat tidur dan melangkah mendekat pada sang istri yang masih membeku bersandar di pintu. Sheila tampak sangat gugup. Ia hanya menundukkan kepalanya, sehingga Marchel segera memeluknya. Erat dan bertenaga. Aroma musk yang menguar dari tubuhnya membuat Sheila begitu terhanyut. Ia sangat menyukai aroma tubuh suaminya itu.
"Kak Marchel kenapa kamar ini menjadi seperti ini?" bisik Sheila.
"Ini kejutan untukmu, Sayang. Aku ingin menghabiskan malam ini dengan romantis bersamamu."
"A-apa? Tapi..."
"Stttt!!!" Marchel meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Sheila. "Jangan bicara lagi!"
Sheila membulatkan matanya, ketika wajah Marchel sangat dekat dengannya, sehingga napas mereka saling beradu. Yang ia lakukan hanya meletakkan telapak tangannya di dada suaminya.
__ADS_1
Marchel membawa Sheila menuju tempat tidur dengan menggendongnya, kemudian ikut berbaring di sana dan menjadikan lengannya sebagai bantal untuk Sheila. Wanita itu masih begitu gugup. Membayangkan lima tahun lalu ketika Marchel memaksanya dengan kasar, hal itu masih menimbulkan sisa trauma. Marchel pun masih dapat merasakan tubuh sang istri yang gemetaran dan berkeringat.
"Takut ya?" tanya Marchel dan seketika dijawab anggukan oleh Sheila. Wanita muda itu masih ingat betul betapa sakitnya dipaksa. Saat itu bahkan Marchel tidak peduli walaupun Sheila mengerang kesakitan. "Takut kenapa?"
Dengan malu-malu, Sheila menjawab, "Takut sakit lagi."
"Tidak akan, Sayang!" Satu kecupan mendarat di kening dan beberapa bagian wajah lainnya. "Maafkan aku! Saat itu aku tidak sadar melakukannya. Apa aku sangat kasar memperlakukanmu?"
Sheila hanya menjawab dengan anggukan, sehingga Marchel kembali memeluknya.
"Kalau kau belum siap tidak apa-apa. Masih ada malam berikutnya. Aku akan menunggu."
"Kak Marchel yakin?"
Keduanya saling menatap satu salam lain, Marchel mendekatkan wajahnya, semakin lama semakin dekat sehingga kedua bibir itu menyatu. Diawali dari ciuman singkat dan manis, yang akhirnya menghanyutkan keduanya.
Sheila begitu larut dalam belaian lembut marchel, tidak seperti saat pertama kali mereka menghabiskan malam bersama, dimana Marchel bermain dengan kasar. Hal yang sangat berbeda, karena kini yang ada hanya kelembutan.
Alunan musik yang indah, wangi melati berasal dari lilin aromaterapi yang membangkitkan mood sensual bagi keduanya untuk saling memanjakan, sungguh suasana yang sangat sempurna.
Kini, mereka bergumul di bawah selimut dengan tubuh polos. Marchel yang sudah berada di posisi atas menatap dalam mata sang istri, seakan meminta izin untuk melakukan penyatuan.
__ADS_1
Sheila melirik ke bawah sana dengan malu-malu, sepasang netranya menangkap pedang samurai milik Marchel yang telah siap untuk berperang. Sheila menegang. Ia ingat benda itulah yang yang menyiksanya hingga kesakitan beberapa tahun lalu.
Marchel yang melihat raut wajah sang istri yang memucat segera menenangkannya, memberinya kecupan sayang dimana-mana, berikut sentuhan yang lembut.
"Sayang, tenanglah... Tidak akan sesakit apa yang kau pikirkan. Aku akan berusaha selembut mungkin."
Wanita itu tidak menyahut. Yang dilakukannya hanya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher suaminya itu. Dengan dimulainya aksi pedang samurai yang mencoba menunjukkan kegagahannya. Sheila memejamkan matanya, ketika merasakan benda itu bersarang di singgasananya. Rasanya begitu kuat dan sedikit memaksa, hingga keduanya menyatu dengan sempurna.
Selama beberapa saat, Marchel tak bergerak. Ia membiarkan Sheila melepaskan semua ketakutan dan rasa sakitnya. Satu tangannya pun telah menjelajah ke negeri antah-berantah. Mencari buah-buahan yang membuatnya harus berpuasa selama lima tahun lamanya.
Ketemu! Marchel kegirangan. 😂
Dinginnya hembusan udara dari AC ruangan itu membuatnya semakin bersemangat untuk memulai bertarung. Awalnya perlahan seperti janjinya di awal, namun semakin lama, semakin tak terkendali. Marchel begitu dimabukkan dengan sensasi yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tak ada kata ampun bagi Sheila. Marchel seolah lupa diri.
Kecupan-kecupan lembut terus menghujani wajah Sheila. Wanita itu hanya dapat menggeliat tak karuan, dua tangannya mencakar punggung tegak itu. Keduanya bergumul selama beberapa menit. Di kamar temaram itu hanya ada suara pergulatan dan lenguhan.
Satu sabetan pedang samurai milik Marchel berhasil membuat keduanya memejamkan mata, ketika sesuatu yang hangat dan lengket mengalir di bawah sana.
Dengan napas yang masih memburu dan irama jantung yang berdetak kencang, Marchel mengecup kening Sheila, kemudian turun dari posisinya yang masih membelenggu tubuh Sheila.
*****
__ADS_1
BERSAMBUNG