
Sheila menoleh ke sumber suara. Melihat Marchel dan Rayhan berada di sana dengan todongan senjata di kepala Bima. Sementara Bima semakin gemetaran melihat Sheila menodongkan senjata pada ayahnya.
"Jangan Sheila. Jangan kotori tanganmu!" Marchel maju beberapa langkah, namun segera dicegah oleh Sheila.
"Jangan mendekat!" teriaknya. "Memangnya kenapa kalau aku mau membalasnya? Dia tidak lebih dari seorang pembunuh. Dia membunuh ayahku dan Kak Shanum."
"Aku tahu Sheila... Tapi bukan kau yang harus menghukum mereka. Aku mohon jangan lakukan ini. Ayo kita pulang." Marchel berusaha melembutkan suaranya.
"Pulang?" Sheila menjatuhkan air matanya. "Pulang kemana? Karena perbuatan jahat mereka semua aku sudah kehilangan segalanya. Aku tidak punya apapun sekarang selain kebencian!"
"Itu tidak benar, Sheila. Aku mohon dengarkan aku dulu."
"Apa yang harus aku dengar darimu?" Bentaknya, kemudian kembali menatap tajam pada Pak Herdian di sana.
Sementara Rayhan masih terdiam di ambang pintu dengan memegangi kerah kemeja Bima, melirik ke bawah sana dimana sudah ada genangan air.
"Dasar bodoh!" gumam Rayhan.
Marchel masih berusaha menenangkan Sheila yang sedang dikuasai kemarahan. Pelan-pelan melangkahkan kakinya.
__ADS_1
"Berhenti di situ!" Teriak Sheila ketika Marchel semakin dekat dengannya. Hanya tersisa jarak beberapa meter saja.
"Sheila, tenangkan dirimu. Ayo kita pulang. Anak kita membutuhkanmu."
Sheila mengalihkan pandangannya pada Marchel, dengan air mata berjatuhan. Tubuhnya pun terasa meremang, mendengar ucapan laki-laki yang masih berstatus suaminya itu.
"Anak?" lirih Sheila
Marchel mengangguk dengan cepat. "Iya, anak kita. Dia tidak meninggal. Michella adalah anak kita yang ditukar oleh Audry di rumah sakit. Aku juga baru mengetahuinya dari Audry."
"Michella..." Teringat seorang anak perempuan menggemaskan yang begitu menarik perhatiannya sejak pertama kali melihatnya. Sheila yang tidak tahu apapun tentang dunia anak-anak begitu merasakan sesuatu yang berbeda dengan Michella.
"Iya. Ayo kita pulang! Michella membutuhkanmu."
Marchel mendekat, mencoba meraih tubuh Sheila, namun dengan cepat Sheila mendorongnya. "Jangan sentuh aku! Apa kau pikir aku akan percaya padamu? Dulu kau membohongiku dengan cinta palsumu. Sekarang kau gunakan anak tidak berdosa seperti Chella untuk menghentikanku!" Sheila melirik Pak Herdian yang mencoba mencari kesempatan, namun wanita itu segera melepaskan tembakan ke sembarang arah. "Jangan mencoba macam-macam denganku!"
Pak Herdian menghela napas, mengangkat tangannya sejajar dengan dada.
"Aku tidak membohongimu. Kau lihat sendiri kan, Michella sangat dekat denganmu bahkan saat pertama bertemu denganmu. Dia memiliki ikatan batin yang kuat denganmu. Kau juga tahu dia memiliki karakter sepertimu dan juga riwayat kesehatannya. Semuanya sangat mirip denganmu. Michella adalah anak kita, Sheila."
__ADS_1
Sheila melirik Rayhan sejenak. Dan dengan cepat Rayhan mengangguk. "Itu benar Sheila. Apa yang dikatakan Kak Marchel benar."
Seketika pertahanan yang dibangun wanita itu runtuh juga. Sheila menangis, mengingat Michella yang ternyata adalah anaknya. Senjata yang berada di genggamannya pun terjatuh. Marchel meraih tubuh Sheila. Memeluknya dengan erat.
"Michella... Michella adalah anakku."
"Iya. Dia anak kita. Mari kita pulang. Sejak tadi dia mencarimu."
Tanpa disadari oleh siapapun, Pak Herdian menggunakan kesempatan itu. Ia segera meraih senjata api miliknya yang tadi terjatuh karena di tendang Sheila. Secepat kilat mengarahkan senjatanya pada Sheila. Rayhan dan Bima yang melihat Pak Herdian berteriak bersamaan.
"Jangan!!"
_
_
_
Dor Dor Dor!
__ADS_1
Tiga kali tembakan terdengar menggema di ruangan itu.
*** Bersambung