
Jika Dokter Willy sedang menikmati patah hatinya ditinggal seseorang yang dicintainya, maka di sisi lain ada Marchel yang sedang berbahagia. Lima tahun menjalani pernikahannya dengan Sheila yang dramatis. Akhirnya untuk pertama kalinya mereka melakukan perjalanan bulan madu yang romantis.
Maldives merupakan destinasi wisata dengan panorama alam dan pantai yang menakjubkan. Di tempat itulah Sheila dan Marchel kini berada. Mereka akan menginap di sebuah resort terbaik dan mewah di Maldives selama beberapa hari ke depan. Keduanya sedang dimanjakan oleh indahnya pemandangan laut yang indah. Siang itu, mereka sedang berjalan-jalan di tepi pantai. Semilir angin laut begitu menyejukkan.
"Willy benar! Tempat ini sangat indah," ucap Marchel menggenggam tangan sang istri. "Kau suka tempat ini?"
Sheila mengangguk pelan. "Suka. Tapi lain kali kita ajak Michella ya. Dia pasti senang kalau kita ajak kemari."
"Baiklah. Kalau sekarang giliran kita dulu. Aku kan harus menepati janjiku pada Chella."
"Janji? Kak Marchel berjanji apa pada Chella?" tanya Sheila penasaran. Kedengarannya sangat menarik mengetahui ada perjanjian di antara ayah dan anak itu.
"Aku bilang padanya kita kemari untuk memberinya seorang adik. Dia bilang mau punya adik baby boy. Aku tidak enak mengecewakannya." Marchel menjawab dengan seringai menggoda, membuat Sheila menunduk malu.
"Dasar mesum!" Sheila mencubit gemas pinggang suaminya itu. .
"Auh... Cubitannya enak juga! Bagaimana kalau kita main cubit-cubitan malam ini." Marchel merangkul Sheila, membuat wanita itu merinding. Terkadang, ia masih sangat malu saat Marchel menggodanya dengan bahasa-bahasa yang sensual.
"Kak Marcheellll!!!" Sheila memberi cubitan yang lebih keras, membuat Marchel meringis. Namun, ada tawa kecil di sana. Sejak bersama kembali, Marchel banyak berubah. Tak seperti dulu di awal pernikahan mereka dimana Marchel sangat dingin dan kaku. Kini Marchel menjelma menjadi seseorang yang hangat dan romantis. Berguru pada Willy telah membuahkan hasil rupanya.
"Sayang, kapan kau akan merubah panggilan mu untukku? Panggilan kakak itu tidak ada romantisnya." Untuk kedua kalinya, Marchel memprotes panggilan Sheila yang baginya tidak romantis.
"Memangnya kenapa? Aku lebih suka memanggil Kak Marchel"
"Coba panggil aku sayang!"
Mendadak wajah Sheila merona malu. "Tidak mau!" Melangkah lebih cepat meninggalkan Marchel.
"Kenapa?" Marchel mensejajarkan langkahnya mengikuti Sheila.
"Karena aku tidak mau! Lagipula sejak kapan Kak Marchel keberatan dengan panggilan. Dulu Kak Marchel tidak pernah protes."
"Sekarang kan semuanya berbeda. Lagi pula sudah ada Michella di antara kita. Jadi panggilannya harus lebih romantis."
__ADS_1
****
Hari beranjak senja. Beberapa menit lagi, Mentari akan tenggelam. Beberapa kali Sheila terlihat berpose, meminta Marchel mengambil gambar dengan kamera.
"Kak Marchel" panggilnya.
"Hemm..." Menjawab dengan deheman malas sebagai bentuk protes dari panggilan kakak. Sheila mengerti betul apa isi kepala suaminya itu.
"Sayang..." Walaupun geli namun, berusaha merubah panggilannya, sehingga wajah Marchel yang tadinya tertekuk berubah senang.
"Nah, begitu kan enak!" ujar Marchel membuat Sheila mengerucutkan bibirnya.
"Besok pagi aku mau berenang ya..." Sheila membujuk dengan bersandar di lengan Marchel.
"Boleh, asal jangan pakai bikini," ucap Marchel membelai rambut sang istri.
"Kenapa memangnya?"
Marchel meneliti tubuh Sheila dari ujung kaki ke ujung kepala. "Kau mau berenang dengan bikini?" Wajah Marchel sudah terlihat gusar.
"Ya ampun! Sayang, ini Maldives. Ada aturan memakai pakaian saat berenang. Bikini dilarang di tempat terbuka. Lagipula kau tidak malu memakai bikini di tempat umum? Walaupun diizinkan, aku akan tetap melarangmu! Aku tidak rela ada orang yang memandangimu."
"Hehe, aku hanya bercanda. Siapa juga yang mau memakai bikini."
Marchel mendengus kesal. "Baiklah, ayo kita kembali ke penginapan. Hari sudah mulai gelap."
*****
Makan malam yang romantis dengan konsep candle light dinner membuat bulan madu Sheila dan Marchel semakin indah. Willy benar-benar menyiapkan semuanya dengan baik, seolah ingin bulan madu itu berkesan untuk sepasang suami istri yang lama terpisah itu.
Di sela-sela makan malam, ponsel milik Marchel berdering tanda pesan masuk.
{Willy : Bagaimana bulan madumu?}
__ADS_1
{Marchel : Mantap!!!!}
{Willy : Aku tidak percaya. Kau selalu menghancurkan ide romantis yang sengaja ku siapkan untukmu.}
{Marchel : Memang aku sebodoh itu?}
{Willy : Mana foto bulan madumu? Aku mau lihat!}
Marchel menghela napas panjang, lalu segera membuka galeri fotonya. Mengirimkan beberapa foto kemesraannya dengan Sheila. Bermaksud membuat iri sahabatnya itu agar secepatnya mencari pasangan untuk menikah.
Kau pasti akan iri melihat foto-foto ini. Haha dasar Playboy kurang kerjaan! batin Marchel.
Di sebuah kamar, Willy tersenyum menatap foto yang baru saja dikirim Marchel. Laki-laki itu ikut senang melihat kebahagiaan sahabatnya itu. Empat tahun hidup dalam pencarian bukan sesuatu yang mudah bagi Marchel. Willy tahu betul betapa perjuangan Marchel tidak mudah untuk menemukan kembali istrinya.
{Willy : Romantis sekali! Kalian terlihat seperti ayah dan anak 😝😝!!!}
Willy tertawa puas setelah mengirim pesan pada Marchel. Ia benar-benar senang mengejek sahabatnya itu.
Di belahan bumi lain, Marchel terlihat cukup kesal setelah membaca pesan yang dikirim Willy. Ia segera membalas pesan itu dengan makian.
{Marchel : Brengsekk!!}
balasan yang singkat, padat dan jelas.
****
Bersambung
__ADS_1
Edisi garing. Tolong, akohhh sedang berada di titik bosan!