
Setelah bicara dengan Sheila dan sepakat akan melakukan tes DNA, malam itu, Marchel menemui sahabatnya, Dokter Willy.
Marchel masih begitu syok dengan kenyataan bahwa sang istri sedang berbadan dua. Dan, kenyataan pahit baginya adalah ketidaktahuannya tentang ayah dari anak yang dikandung istrinya itu.
Bahkan Sheila menolak ikut pulang ke rumahnya dan memilih tinggal di rumah kontrakannya yang sangat sempit dan sederhana.
"Kau sudah tidak waras, Marchel! Kau butuh seorang dokter, walaupun kau ini juga seorang dokter," ujar Willy meledek.
"Aku tidak punya pilihan lain, Will... Sheila bersikeras kalau anak yang dia kandung adalah anakku. Tapi bagaimana mungkin?"
Willy tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala. "Mungkin kau pernah melakukannya secara tidak sadar. Di penginapan itu saja kau bisa melakukannya dalam keadaan tidak sadar. Bahkan dengan seorang gadis asing."
Marchel melempar Willy dengan bantalan kursi dengan kesalnya. "Diam kau!"
Melihat Marchel kesal, malah membuat Willy tertawa terbahak-bahak.
"Sheila bilang padaku, gadis yang bersamaku di penginapan malam itu adalah dirinya."
Willy pun terkejut mendengar ucapan Marchel, kerutan di dahinya semakin dalam. "Maksudmu, gadis yang kau paksa itu adalah Sheila? Begitu?"
"Iya. Dia bilang padaku teman-temannya membawanya ke club malam itu. Tapi bagaimana mungkin, Will? Aku benar-benar yakin gadis itu bukan Sheila. Dia sangat berbeda dengan Sheila."
"Tunggu-tunggu! Sheila tahu kau pergi ke club malam itu. Artinya gadis yang bersamamu Memang benar-benar Sheila, kan?"
"Tidak Will... Dia mengatakannya setelah aku mengakui perbuatanku malam itu. Aku bilang padanya, aku sudah mengkhianatinya dan tidur dengan gadis lain. Dan aku tidak tahu siapa gadis itu. Aku katakan padanya, aku akan menerima anaknya sebagai penebusan dosaku malam itu. Dan dia tiba-tiba saja mengaku sebagai gadis itu." ucap Marchel seraya menggelengkan kepalanya. "Sheila masih labil. Dia tidak tahu apa yang dia katakan."
"Kau kan suaminya. Kenapa kau tidak mencoba untuk percaya pada istrimu sendiri."
"Bagaimana aku bisa mempercayainya? Aku tahu betul gadis yang bersamaku bukan Sheila," ujar Marchel dengan yakinnya. "Sheila hanyalah seorang gadis polos. Bahkan dia tidak tahu cara berdandan. Dan gadis yang bersamaku itu... Dia seorang gadis yang sangat cantik."
"Jadi kau akan tetap melakukan tes DNA?" tanya Willy diiringi anggukan kepala oleh Marchel. "Tapi kau tahu, kan... Tes DNA pada anak yang belum lahir itu beresiko?"
"Aku tahu..Tapi aku tidak punya pilihan lain. Beberapa kali aku menanyakan pada Sheila, siapa ayah dari anak yang dia kandung. Aku berjanji padanya tidak akan marah. Tapi dia tetap bilang itu anakku."
"Dan apa yang akan kau lakukan kalau ternyata anak yang dikandung Sheila bukan anakmu? Apa kau akan menceraikannya?"
Marchel memejamkan matanya kasar. "Tidak! Aku sudah berjanji padanya akan berusaha menerima anak itu. Walaupun dia bukan anakku. Tapi ibuku mungkin tidak akan mau menerima Sheila dan anaknya. Jadi aku akan pindah. Aku sedang mencari sebuah rumah untuk kami berdua tinggal. Aku tidak bisa membiarkan Sheila terus tinggal di rumah sewanya itu."
__ADS_1
"Ya, itu lebih baik. Kalian memang butuh tempat baru." Willy menyeruput secangkir kopi yang baru saja dibawakan asisten rumah tangganya. "Bawalah Sheila ke rumah sakit, dan kita akan melakukan tes DNA."
"Baiklah. Secepatnya aku akan membawanya ke rumah sakit."
***
_
_
_
_
Hari yang ditunggu akhirnya tiba. Pagi itu, Marchel membawa Sheila menemui Dokter Willy dan seorang ahli genetika untuk melakukan tes DNA melalui prosedur amniosentesis yang mengambil cairan amnion atau cairan ketuban.
Dokter Willy pun menjelaskan beberapa hal pada pasangan suami istri itu terkait proses pengambilan sampel DNA. Melihat raut wajah Sheila yang begitu sedih, membuat Willy tak tega. Sheila hanya dapat menundukkan kepalanya, tak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya. Namun, dari wajahnya sangat terlihat jelas gurat kesedihan.
"Hasilnya akan keluar setelah 14 hari," ujar Dokter Willy sesaat setelah mengambil sampel darah Marchel.
"Baiklah. Kabari aku saja," Marchel berdiri dari duduknya. "Ayo Sheila, aku Antar pulang."
"Kasihan anak itu. Di usianya yang masih sangat muda harus mengalami semua ini. Dia pasti sangat tertekan. Suaminya sendiri tidak percaya padanya. Tapi kenapa dia bersikeras mengatakan anak di dalam kandungannya adalah anak Marchel, sedangkan Marchel begitu yakin kalau itu bukan anaknya," gumam Dokter Willy.
***
Marchel menggenggam jemari Sheila dengan erat. Sudah beberapa menit mereka berada di dalam mobil, namun Marchel belum juga melajukan mobilnya. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.
"Sheila, aku minta maaf untuk semua yang terjadi padamu belakangan ini. Semua ini salahku. Aku akan membeli sebuah rumah baru untuk kita tinggal. Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Kau mau kan?"
Sheila tidak menyahut, hanya matanya yang berkaca-kaca, sehingga Marchel menariknya ke dalam pelukannya. Sheila meresapi hangatnya pelukan itu. Naluri kemanjaannya sebagai seorang wanita hamil yang kadang merindukan sosok suami membuatnya merasa begitu sedih. Tidak bisa dipungkiri olehnya, bahwa kadang ia sangat merindukan pelukan suaminya itu.
"Aku mau pulang ke kontrakan saja. Tolong antar aku."
Marchel mengecup kening Sheila, sambil membelai rambutnya. "Baiklah, tapi setelah aku menemukan rumah yang cocok untuk kita, kau mau ikut denganku kan?"
Lagi-lagi tidak ada sahutan. Sheila terdiam, menahan air matanya.
__ADS_1
*****
Sementara itu, di sebuah kamar, seorang pemuda tampak duduk di atas kursi roda, menatap lurus ke depan sana. Pikirannya telah melayang jauh, memikirkan seorang gadis yang selama beberapa bulan dilindunginya.
Setelah kecelakaan yang menimpanya, pemuda itu mengalami kelumpuhan yang menyebabkannya harus duduk di kursi roda selama berbulan-bulan.
Tepukan lembut mendarat di bahunya, dia mendongakkan kepalanya. Sang ayah baru saja tiba di rumah.
"Ayah, apa sudah ada petunjuk keberadaan Qiandra?" tanya Rayhan.
"Belum. Joe belum bisa melacak keberadaannya. Sampai sekarang kita tidak tahu dimana dan bagaimana keadaannya."
Rayhan menghela napas berat, menyesali keadaannya sekarang yang bahkan tidak dapat berbuat apa-apa.
"Dia sendirian di luar sana, Ayah! Dia sedang hamil. Siapa yang akan menjaganya di luar sana." Rayhan mulai gelisah.
"Tenanglah, Rey! Kita pasti akan menemukannya. Joe bilang suaminya sudah kembali. Dia pasti akan mencarinya juga."
"Aku yang akan pergi mencarinya."
Ucapan Rayhan membuat ayahnya mengerutkan alis. "Rey... Cobalah untuk tenang. Keselamatan Qiandra bisa terancam jika mereka sampai curiga. Kita tidak bisa melibatkan banyak orang untuk mencarinya. Mereka terus mengawasi kita. Salah satu langkah saja, nyawa Qiandra taruhannya. Sudah cukup kakakmu yang menjadi korban. Mereka membunuh Shanum dengan cara yang sangat halus. Dan kau juga hampir menjadi korban."
"Tapi bagaimana dengan Qiandra, Ayah? Kenapa Kak Joe begitu lamban? Kenapa mencari satu orang saja tidak becus?"
"Mengertilah, Rey! Joe sudah berusaha sebaik mungkin. Kita tidak punya petunjuk apapun. Nomor teleponnya tidak aktif dan dia tidak punya teman selain dirimu. Joe sudah menyisir kota ini, tapi dia belum ditemukan. Sekarang kita hanya bisa terus mencarinya."
Rayhan mengusap wajahnya kasar, berusaha mengurangi pikiran buruk di benaknya.
"Kenapa aku harus lumpuh seperti ini, Ayah?"
Pak Arman mengusap bahu anak lelakinya itu. "Pergilah ke Jerman untuk berobat. Kau akan lebih cepat sembuh di sana."
"Lalu bagaimana dengan Qiandra kalau aku pergi? Aku sudah berjanji pada Kak Shan akan menjaga Qiandra. Ayah tahu kan, Kak Shan sangat menyayangi Qiandra."
"Iya. Dia rela berkorban apapun demi Qiandra. Tapi kau harus bisa berjalan kembali, barulah kau bisa menjaga Qiandra."
Rayhan terdiam. Separuh hatinya berkata tidak, namun dia sangat menginginkan kesembuhan agar bisa kembali menjaga Qiandra, walaupun hanya dari jauh.
__ADS_1
****