Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Persetan dengan Willy dan Segala Ocehannya!


__ADS_3

Kau jangan terlalu menunjukkan kalau kau yang agresif. Santailah sedikit! Kalau kau langsung menyerang segitiga Bermuda, sama saja bunuh diri, Bodoh! Ucapkan kata sayang dan belai. Dengan begitu dia akan menyerahkan segitiga Bermudanya padamu dengan sukarela.


Bisikan gaib terngiang kembali di benak Marchel. Laki-laki itu sedang duduk bersandar menunggu Sheila yang masih berada di kamar mandi.


Tak berselang lama, Sheila muncul dengan setelah piyamanya. Marchel hanya melirik dengan ekor matanya. Pura-pura cuek. Sesekali melirik Sheila yang sedang menyisir rambut panjangnya.


Sabar, Marchel!!! Kata Willy wanita akan lama jika sedang berhadapan dengan cermin. Tapi kita kan mau tidur, untuk apa dia berdandan coba?


Detik-demi detik dihitung Marchel, rasanya begitu lama Sheila di depan cermin namun tak kunjung selesai. Marchel bahkan sudah merasa bosan menunggu.


"Sheila apa yang kau lakukan di depan cermin kenapa lama sekali?" celetuk Marchel tanpa sadar. Ia segera membekap mulutnya dengan telapak tangan.


"Apa? Memangnya kenapa?" Sheila menoleh dengan tatapan penuh tanya.


"Em.. hehe, tidak! Maksudku kau sedang apa di depan cermin?"


Sheila menunjukkan sisir di tangannya. "Sedang sisir rambut."


Sisir rambut saja lama. Dasar wanita.


Berdiri dari duduknya, Marchel menghampiri Sheila yang masih betah di depan cermin. Tanpa sepatah kata pun ia menggendong Sheila dan membawanya ke tempat tidur.


Persetan dengan Willy dan segala ocehannya. Aku tidak peduli lagi!!!!


*****

__ADS_1


Mentari mulai menampakkan sinarnya, ketika di dalam sebuah kamar sepasang suami istri masih terbalut selimut tebal. Sepertinya Sheila masih enggan terbangun dari tidurnya, rasa lelah akibat memenuhi kewajibannya sebagai istri masih terasa.


Seakan tiada bosannya, Marchel terus menerus menatap wajah wanita yang dipeluknya. Tangannya terus bermain di atas wajah yang baginya sangat menggemaskan itu. Kecupan demi kecupan pun terus mendarat di wajah mulusnya.


Sheila menggeliat pelan, merentangkan tangannya ke atas. Aroma musk yang menguar dari tubuh Marchel seakan menjadi candu dan membuatnya berada dalam posisi ternyaman.


"Selamat pagi, Sayang." Kecupan lembut di kening membuat Sheila kembali menutup matanya.


"Ehmm... Aku masih mau tidur," ucap Sheila dengan suara serak. Bahkan saat Marchel menjelajahi negeri antah-berantahnya, Sheila masih enggan membuka mata. Ia semakin membenamkan wajahnya di dada Marchel.


"Matahari sudah mulai meninggi. Katanya mau berenang."


"Sebentar lagi! Aku masih lelah," ucap Sheila dengan mata masih terpejam. Ia merasakan tangan Marchel yang menjelajah sesukanya. "Tangannya tolong kondisikan Kak Marchel...!"


Marchel menyeringai, namun tangannya tak berhenti menjelajah, ia menyentuh benda apapun yang diinginkannya. "Tanganku tidak ada rem-nya. Bagaimana ini?"


****


Hampir seminggu pasangan itu menikmati keindahan Maldives. Malamnya Sheila sedang merapikan pakaiannya dan memasukkan ke dalam koper. Mereka akan kembali keesokan paginya.


Terdengar ponsel berbunyi nyaring pertanda panggilan masuk. Sheila segera meraih benda pipih berbentuk persegi panjang itu. Tampak di layar nama pemanggil ibu yang sedang melakukan panggilan video.


Dengan segera Sheila menjawab panggilan itu. Di sana ada Chella yang sedang menangis. Bahkan matanya telah sembab karena kebanyakan menangis.


"Bunda..." panggil Chella.

__ADS_1


"Chella kenapa menangis?"


"Bunda sama ayah kapan pulang?"


Marchel yang baru saja masuk ke kamar segera mendekat ketika mendengar suara Chella.


"Besok, Sayang. Sabar, ya..." Sheila mencoba membujuk gadis kecil yang sedang menangis itu.


"Pulang sekarang, Bunda!"


"Iya sebentar. Tapi jangan menangis lagi ya... Nanti ayah bawakan ole-ole yang banyak. Chella mau kan?"


Seketika tangis gadis kecil itu terhenti mendengar sang ayah akan membawakan hadiah.


"Dede bayi?"


"Iya, Dede bayi. Tapi jangan menangis, nanti dadanya sakit lagi."



Chella terlihat mengusap wajahnya. Mendengar janji buta sang ayah saja sudah membuatnya senang. Gadis kecil itu sedang berpikir akan dibawakan adik bayi kecil begitu kedua orang tuanya kembali.


"Ya sudah, sekarang Chella diam ya..." ucap Sheila.


"Iya, Bunda!" jawabnya dengan penuh semangat.

__ADS_1


****


BERSAMBUNG


__ADS_2