Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Bertahanlah.


__ADS_3

Di ruang operasi, Dokter Willy dan beberapa Dokter lain sedang berusaha menyelamatkan Sheila dan bayinya. Walaupun berprofesi sebagai seorang dokter dan telah terbiasa berada di ruang operasi, nyatanya tak membuat Marchel bisa lebih tenang.


Sejak tadi Marchel terlihat sangat khawatir. Sudah beberapa kali berbisik di telinga Sheila. Dokter Willy yang sedang melakukan pembedahan melirik Marchel sekilas dengan ekor matanya, lalu kemudian terfokus kembali pada Sheila.


Tidak butuh waktu lama, Dokter Willy telah berhasil mengeluarkan sang bayi dari perut ibunya dengan sangat hati-hati.


Hening, tak ada tangisan bayi yang biasanya terdengar sesaat setelah kelahiran. Dengan sigap Dokter Willy bersama seorang dokter anak dan juga perawat melakukan penanganan pada bayi kecil itu setelah memotong tali pusarnya. Beberapa lainnya melakukan perawatan pada Sheila.


Marchel yang melihat anaknya sama sekali belum menangis, sudah harap-harap cemas. Kakinya terasa lemas melihat Willy sedang berusaha menyelamatkan bayi mungil itu.


Willy membalikkan tubuh kecil sang bayi dengan mengangkat kakinya, menepuk punggung bayi berjenis kelamin perempuan itu beberapa kali. Marchel sudah lemas melihat keadaan di hadapannya. Sejenak memejamkan matanya, kemudian melirik Sheila yang masih ditangani beberapa dokter.


Marchel mengecup kening Sheila, dengan setitik air matanya yang terjatuh, lalu berbisik pelan. "Maafkan aku, Sheila. Berjuanglah untukku. Aku mencintaimu."


Sementara di sudut sana, Dokter Willy masih terus berusaha menyelamatkan bayi itu. "Ayo, Nak! Berjuanglah! Menangislah yang kencang," ucapnya seraya menepuk punggung bayi itu.


Dan, beberapa detik kemudian, terdengarlah tangisan bayi melengking yang memecah keheningan ruangan itu. Dokter Willy pun terlihat bernapas lega. Sedangkan Marchel masih membeku, mendengar suara tangisan anaknya untuk pertama kalinya.


Dokter Willy memasukkan bayi itu ke dalam sebuah box kaca, setelah memeriksa keadaannya.


"Bawa bayinya segera ke ruang NICU," ucapnya pada seorang perawat.


"Baik, Dokter."


***


"Kondisi anakmu tidak begitu baik. Dia lahir prematur, 31minggu. Dia juga masih sangat lemah," Dokter Willy menjelaskan.


Marchel memejamkan matanya kasar, seakan ada batu besar yang menghimpit dadanya. "Tolong lakukan apapun untuk anakku."


"Itu pasti. Tapi kita harus siap dengan segala kemungkinan. Tetaplah berdoa."


"Bagaimana dengan Sheila?" Raut wajah Marchel sudah frustrasi.

__ADS_1


"Sheila masih belum sadar. Dia masih di bawah pengaruh obat bius."


"Baiklah, Will... Terima kasih."


Setelah bicara dengan Dokter Willy mengenai kondisi istri dan anaknya, Marchel menuju ruang perawatan bayi. Dia menyandarkan punggungnya di sebuah kursi panjang di depan ruang NICU tempat anaknya berada, melepas perasaan lelah yang membelenggunya. Laki-laki itu belum dapat bernapas lega. Baik Sheila maupun putri kecilnya masih membutuhkan perawatan intensif. Bahkan, Marchel sama sekali belum bisa melihat bagaimana wajah anaknya itu.


Dari kejauhan tampak ibu dan Audry yang berjalan tergesa-gesa menuju tempat dimana Marchel sedang duduk.


"Marchel bagaimana keadaan Sheila?" tanya ibu begitu sudah berhadapan dengan Marchel.


Mendongakkan kepalanya menatap kedua orang yang baru saja menghampirinya, Marchel terlihat menggeram.


"Mau apa kalian kemari?" ucap Marchel dingin.


"Maafkan ibu Marchel, tapi Sheila..."


"Jangan membela diri, Bu! Dan pergilah. Aku sedang tidak ingin bicara dengan siapapun."


"Teganya Ibu lakukan semua ini padaku dan Sheila. Apa Ibu tahu, karena perbuatan kalian istri dan anakku sedang berjuang untuk hidup."


"Tapi anak itu bukan..."


"Itu anakku, Bu! Anakku! Sekali pun itu bukan anakku kalian tidak berhak melakukan ini." Marchel mengeluarkan amplop putih dari saku jaketnya, lalu memberikannya pada ibu.


Dengan tangan yang gemetar, ibu membuka amplop itu pelan-pelan. Membaca isi dari surat itu. Seluruh tubuhnya terasa lemas mengetahui kenyataan yang tertulis dalam kertas itu.


"Putri kecilku sedang berjuang hidup di dalam sana, Bu. Kondisinya sangat lemah. Bisa apa dia dengan tubuh kecilnya itu. Apa salahnya pada kalian berdua sampai kalian tega melakukan ini."


Ibu sudah menangis menyesali perbuatannya. Teringat saat dirinya begitu marah dan langsung mengusir Sheila, begitu tahu Sheila hamil. Karena hasutan Audry, ibu menjadi sangat marah dan pada akhirnya mengusir Sheila dari rumah. Dan kejadian tadi saat dirinya menghina menantunya itu. sementara Audry masih diam mematung. Sudah kehilangan nyali bahkan untuk menatap Marchel.


"Aku mohon pergilah dari sini sebelum aku kehilangan kesabaranku dan menyeret kalian ke kantor polisi. Dan kau Audry... Kemasi barang-barangmu dan keluar dari rumahku. Jangan tunjukkan wajahmu lagi di hadapanku."


Marchel beranjak meninggalkan ibu dan Audry. Dengan segera ibu mengekor di belakang Marchel. Tinggallah Audry mematung di depan ruangan itu.

__ADS_1


Hingga kepanikan beberapa perawat membuyarkan lamunannya. Terlihat beberapa perawat muda berlari menuju ruangan seorang dokter. Sedang dua perawat lain yang berjaga keluar dengan tergesa-gesa.


"Kasian, bayi perempuan itu tidak tertolong," ujar seorang perawat.


Audry membuka sedikit pintu ruangan itu, melongokkan kepalanya ke dalam. Tidak ada sedikit pun perasaan bersalah di dalam dirinya telah membahayakan Sheila dan anaknya.


***


Marchel masih duduk termenung, memandangi wajah Sheila yang masih belum tersadar dari pengaruh obat bius. Seorang dokter wanita kira-kira seusia Marchel yang merupakan dokter anak masuk ke ruangan itu, membuyarkan lamunannya.


"Dokter Marchel, bisa kita bicara?" ucap sang dokter.


Laki-laki itu berdiri dari duduknya, mengecup kening Sheila sebelum keluar dari ruangan itu.


"Ada apa, Irene?" tanya Marchel yang mengekor di belakang wanita itu. Dokter Irene tidak menjawab. Dia mempercepat langkahnya menuju ruang perawatan bayi.


Sesampainya di ruangan itu, beberapa perawat tampak masih berdiri di sana. Mereka saling berbisik, namun langsung terdiam begitu melihat Marchel datang.


Dokter wanita itu menepuk bahu Marchel pelan. "Marchel, maafkan aku. Kami sudah melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan putrimu. Tapi takdir berkata lain. Maaf, putrimu tidak dapat bertahan. Kita kehilangan dia."


Marchel terdiam, menjatuhkan setitik air matanya. Lalu, melirik seorang bayi kecil yang sudah terbujur kaku di sana.


Marchel membawa anak itu ke dalam gendongannya. Menatap dalam-dalam wajahnya dan memberi kecupan di wajahnya. Tidak ada kalimat yang keluar dari bibirnya. Yang ada hanya isakan.


"Maafkan ayah, Nak! Semua ini salah ayah yang membiarkan ibumu berjuang sendirian. Dan sekarang kau menjadi korban."


Marchel kembali memeluk bayi perempuan itu dengan erat, bersamaan dengan air mata yang terus mengalir.


Entah akan seperti apa hancurnya Sheila jika tahu anaknya tidak dapat bertahan. Memikirkan itu, Marchel hanya dapat memeluk anaknya sambil menangis.


****


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2