
Rianna Shanum Anggara.
Seorang gadis yang nyaris sempurna di mata para lelaki. Parasnya yang cantik rupawan, senyumnya yang manis bagai madu dan sikapnya yang lemah lembut menambah kesempurnaannya sebagai seorang wanita.
Pagi itu, di bulan dan tanggal yang sama setiap tahunnya. Dimana kenangan Shanum akan kembali terekam di benak mereka yang mengasihinya. Menggores kembali luka sayatan yang dalam. Hari itu adalah hari peringatan wafatnya Shanum. Lima tahun sudah kepergian gadis periang itu.
Di sebuah kamar, dengan berderai air mata, Sheila memandangi sebuah foto yang terbingkai indah. Tergambar senyum cerah seorang gadis cantik yang sedang memeluk gadis remaja berkacamata tebal.
Bagai seorang ibu, Shanum membesarkan Sheila dengan penuh kasih sayang. Layaknya seorang tuan putri, Shanum begitu memanjakan Sheila dan menuruti apapun yang diinginkan adik kecilnya itu. Ia adalah seseorang yang rela mengorbankan apapun demi gadis kesayangannya. Apapun itu, termasuk nyawanya sendiri. Kepergian Shanum meninggalkan duka mendalam bagi Sheila. Ia kehilangan sosok ibu sekaligus kakak dalam hidupnya.
"Sayang..." Marchel datang, ia duduk di samping Sheila dan memeluknya. Ikut sedih melihat sang istri yang selalu menangis saat teringat pada sosok kakaknya itu. Marchel pun sama, ia butuh waktu begitu lama untuk bisa menerima kepergian mendiang kekasihnya itu.
Sheila menyandarkan kepalanya di dada suaminya, dan menumpahkan semua kesedihannya. "Aku sangat merindukan kakakku. Kenapa dia harus pergi meninggalkanku? Hanya demi melindungiku, dia rela melakukan apapun."
"Dia mencintaimu lebih dari apapun. Kau beruntung memiliki kakak sepertinya." Marchel menangkup wajah Sheila dan mengecup keningnya. "Shan pasti akan sedih kalau melihat adiknya terus menangisinya. Dulu dia sering bilang padaku, kau adalah segalanya baginya. Dan dia akan melakukan apapun untukmu. Apapun agar kau bahagia."
"Tapi kenapa aku harus kehilangannya?" lirih Sheila.
"Kau tidak pernah kehilangannya. Dia akan selalu hidup di hatimu. Baiklah, ayo kita berangkat. Ayah dan Rey mungkin sudah di sana."
Marchel mengusap air mata yang membanjiri wajah Sheila dan merangkulnya keluar dari kamar. Di ruang keluarga ibu dan Chella sudah menunggu untuk segera berangkat menuju sebuah kompleks pemakaman dan selanjutnya ke panti asuhan tempat akan diadakan doa bersama anak-anak yatim.
Hari itu langit mendung, seolah mewakili perasaan orang-orang yang telah ditinggalkan orang terkasihnya.
Pak Arman duduk berjongkok di sisi sebuah makam yang telah dipenuhi oleh bunga mawar kuning kesukaan mendiang Shanum. Laki-laki paruh baya itu Meraba nisan bertuliskan nama Putri kesayangannya. Berbeda dengan beberapa orang yang terlihat sedih, Pak Arman selalu menunjukkan senyum tipisnya saat berkunjung ke makam putrinya itu.
Anakku, istirahatlah dengan tenang.
Semua harapanmu sudah terwujud. Semua telah kembali pada tempatnya.
Adikmu kesayanganmu, Sheila sudah hidup bahagia. Seumur hidupmu kau habiskan untuk berjuang demi dirinya.
__ADS_1
Untuk membahagiakannya.
Sekarang, dia telah menemukan kebahagiaannya.
Kau bisa tenang sekarang.
Di sisi satunya ada Rayhan. Terdiam dengan membaca doa dalam hati. Raut kesedihan terlihat dari wajah sembabnya. Ia melirik sang ayah yang selalu terlihat tegar. Di sisinya ada Sheila yang sejak tadi tak kuasa membendung air matanya. Shanum begitu kuat melekat di hati masing-masing mereka.
Begitu pun dengan Marchel. Walau bagaimana pun Shanum adalah cinta pertamanya. Seseorang yang pernah memberi warna indah dalam hidupnya. Namun meredupkannya lagi dengan kepergiannya yang tiba-tiba. Sheila bagaikan hadiah pemberian Shanum dan menjadikannya cinta sejati baginya.
Marchel meraih tangan Sheila, menggenggamnya erat, kemudian menyandarkan kepala sang istri di bahunya.
Shan, terima kasih kau pernah hadir dalam hidupku. Tidurlah dalam keabadian. Kau pun akan selalu ada di dalam hatiku. Terima kasih sudah menghadirkan Sheila ke dalam hidupku dan menjadikannya cintaku. Aku akan selalu menjaga dan mencintainya.
******
Sebuah panti asuhan milik keluarga Darmawan sedang diadakan doa bersama untuk mendiang Shanum. Seorang pemuka agama sedang memimpin doa bersama.
Tidak ada yang lebih sakit dibanding patah hati seorang ayah yang telah kehilangan putrinya. Mungkin ia dapat menyembunyikan kepedihannya dari orang-orang. Namun, rasa sakit tetap ada dan akan selalu membekas. Dengan senyum tipis, pria paruh baya itu duduk di antara ratusan anak-anak yatim yang sedang mendoakan putrinya.
"Aku baik-baik saja, anakku. Aku sangat bahagia hari ini. Begitu banyak orang yang mendoakan Shan."
Sheila kembali menitikkan air matanya, membuat Pak Arman segera menghapusnya. "Jangan menangis! Shan tidak pernah rela melihatmu menangis."
"Ayah, apa yang bisa aku lakukan untuk membalas kebaikan kalian. Ayah sudah mengirim malaikat ke dalam hidupku dalam bentuk seorang kakak."
"Berbahagialah, anakku. Melihatmu bahagia adalah harapan Shan."
Sheila mengangguk pelan, mengusap sisa-sisa air matanya.
Di sudut sana, Bima menundukkan kepalanya, malu. Perbuatan ayahnya yang tega menghalalkan segala cara demi menguasai Darmawan Group tidak dapat diterima olehnya. Kini, laki-laki itu mengabdikan hidupnya untuk memperbaiki apa yang telah dirusak oleh ayahnya sendiri.
__ADS_1
Tepukan mendarat di bahu kirinya, Rayhan berdiri di sisinya sambil tersenyum tipis. Kini hubungan keduanya telah membaik setelah perseteruan panjang.
***
Rangkaian acara hari itu diakhiri dengan berbagi. Banyak kaum tidak mampu berdatangan ke panti asuhan itu untuk menerima pemberian dari keluarga Darmawan.
Selepas acara, Marchel dan Willy duduk berdua di sebuah kursi di taman sambil mengawasi si Kecil Michella yang sedang bermain dengan anak panti sebayanya. Kini gadis kecil itu memiliki beberapa teman. Setelah mengetahui bahwa Chella adalah anak pemilik panti asuhan tempat mereka tinggal, anak-anak yang tadinya menjauhi Chella mulai mendekatinya.
Chella pun tak seperti dulu lagi. Sedikit demi sedikit gadis kecil yang tadinya pendiam dan suka menyendiri itu mulai terbuka dan mau bermain dengan anak lain.
"Aku sudah siapkan segalanya. Kau tinggal berangkat besok. Di sana akan ada seorang pemandu wisata yang akan mengantarmu kemana pun." ujar Willy seraya menyerahkan tiket perjalanan bulan madu pada Marchel.
"Terima kasih. Kau seperti jelmaan dewa bagiku." Menepuk pundak sahabatnya itu.
Willy tertawa kecil, "Tentu saja, karena kau sangat payah dalam hal wanita. Makanya aku sangat kasihan padamu."
Marchel melirik Willy dengan ekor matanya, seolah tidak terima dengan ledekan laki-laki yang setahunya seorang playboy itu. "Kalau kau sangat ahli dalam hal wanita, kenapa kau tidak menikah juga. Apa kau tidak lelah bermain dengan wanita-wanita tidak jelas itu? Pikirkan usiamu!"
Bagai pukulan telak, ledekan Willy yang selalu mengatakan Marchel sudah tua akhirnya berbalik padanya.
"Aku hanya belum menemukan yang pas saja."
"Memangnya seperti apa orang yang pas bagimu?" tanya Marchel dengan nada meledek.
Mendadak wajah Willy berubah sedih. "Yang pas sudah pergi untuk selama-lamanya. Dan aku belum menemukan yang lain sepertinya."
"Maksudnya? Siapa yang pergi untuk selamanya?" tanya Marchel tak mengerti.
Willy hanya menjawab dengan senyuman tipis, "Sudahlah! Tidak usah dibahas. Pikirkan saja kegiatan bulan madumu. Kalau kau butuh pil seperti waktu itu, aku masih punya banyak."
"Dasar Brengsekk!"
__ADS_1
****
Bersambung