
Dua Minggu berlalu....
Tok Tok Tok!
Terdengar suara ketukan pintu yang tak biasa, membuat Sheila yang sedang makan mie instant terlonjak kaget. Segera meletakkan mangkuk ke atas meja, Sheila beranjak membuka pintu. Tampak ibu pemilik kontrakan berdiri di ambang pintu dengan wajah kesal.
Sheila hanya dapat menunduk malu, mengetahui maksud kedatangan wanita itu.
"Aku rasa, aku tidak perlu menjelaskan maksud kedatanganku kemari," ujar wanita bertubuh gemuk dengan rambut keriting itu.
"Ma-maaf, Bu! Apa boleh aku minta waktu sedikit lagi? Aku belum punya uang untuk membayarnya."
"Aku tidak mau menunggu. Kalau tidak mampu membayar jangan menyewa. Cepat keluar dari rumah ini. Banyak yang mau menyewa, bukan kau saja." Wanita itu terlihat sangat kesal karena Sheila tak kunjung membayar sisa sewa rumahnya.
"Tapi, Bu..."
"Aku tidak mau tahu dan tidak mau dengar! Keluar sekarang juga!" bentak wanita itu.
"Tolong beri aku waktu, Bu. Begitu aku dapat uang, aku akan segera membayarnya. Aku mohon beri aku kesempatan."
"Pergi sekarang juga atau aku akan melempar barang-barangmu keluar!" ancamnya.
"Ba-baik, Bu..." Sheila menjawab terbata-bata. Mengusap air mata yang mengalir melalui ekor matanya. Berjalan memasuki sebuah kamar kecil.
Aku akan kemana malam-malam begini? Aku tidak punya siapa-siapa dan tidak punya uang untuk menyewa tempat yang baru.
Dengan berderai air mata, Sheila memasukkan pakaiannya ke dalam koper, lembar demi lembar.
***
Sheila menyeret kopernya keluar dari rumah sederhana itu. Wanita bertubuh tambun pemilik rumah masih berdiri di ambang pintu, meneliti tubuh Sheila seperti mencari sesuatu. Namun, tak ada benda berharga apapun yang melekat di tubuh Sheila.
"Ingat kau masih berhutang padaku sewa selama dua bulan," ujarnya ketus.
"Iya, Bu. Aku akan kemari membayarnya begitu aku punya uang."
"Sudah, cepat pergi. Penyewa baru akan datang pagi-pagi sekali."
Tanpa banyak basa-basi lagi, Sheila melangkah keluar. Dan, tanpa disadari olehnya, Marchel sudah berada di depan sana, sejak tadi menyaksikan adegan pengusiran istrinya. Sejak menemukan Sheila, setiap malam Marchel akan mengawasinya dari jauh. Kadang hanya tidur di dalam mobil, di depan rumah kontrakan itu karena Sheila tidak mengizinkannya mendekat. Bahkan Sheila menolak apapun yang diberikan Marchel padanya.
Sheila membeku ketika menyadari Marchel ada di sana, sehingga Marchel segera mendekat padanya. Laki-laki itu mengusap puncak kepala Sheila, sambil menerbitkan seulas senyum. "Tunggu di sini!" Ia mendekat pada ibu pemilik rumah dan mengeluarkan dompet dari saku celananya. Tanpa menghitung jumlah uang yang dikeluarkannya, Marchel memberikan pada wanita itu.
__ADS_1
"Kalau lebih simpan saja," ujar Marchel.
Wanita itu bahkan masih terlihat tidak percaya dengan sejumlah uang di genggamannya yang cukup banyak. Dan tanpa permisi Marchel kembali mendekat pada Sheila dan memeluknya.
"Ayo, kita pergi dari sini!"
"Tidak. Aku akan pergi sendiri."
"Sheila... Kau akan kemana malam-malam begini? Ayolah... Aku mau bicara denganmu. Aku mohon," ucap Marchel berusaha melembutkan suaranya.
Sheila terdiam. Hanya deraian air mata yang mengalir membasahi wajahnya. Sakit yang dirasakannya semakin besar. Sendirian di masa kehamilannya dan ketidakpercayaan Marchel benar-benar meluluhlantakkan hatinya. Dan sekarang, diusir dari rumah kontrakannya. Sheila hanya dapat menangisi semua itu.
Hingga semuanya kepalanya mulai pusing, dan semuanya menjadi gelap. Sheila jatuh pingsan. Beruntung, Marchel segera menangkap tubuhnya.
"Sheila! Bangun Sheila!" Marchel berusaha membangunkan istrinya. Namun Sheila tak juga tersadar. Wanita gendut pemilik rumah juga tampak panik melihat Sheila pingsan.
"Bawa Sheila masuk ke dalam saja, Pak!" ujar wanita pemilik rumah itu.
Dengan segera, Marchel menggendong Sheila masuk ke dalam rumah itu dan membaringkannya di tempat tidur. Lalu segera mengambil tas kerjanya yang berada di dalam mobil, untuk memeriksa keadaan Sheila.
****
Marchel memandangi wajah Sheila yang sedang tertidur. Satu tangannya mengusap perut yang membuncit itu. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya ketika merasakan ada gerakan aktif dari bayi kecil di dalam sana. Tangannya terus bermain di sana, mengikuti kemana gerakan kecil dari dalam sana.
Laki-laki itu melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir dua jam, Sheila belum juga terbangun.
Hingga beberapa menit kemudian, perlahan Sheila membuka matanya, setelah Marchel mengoles minyak angin di pangkal hidungnya.
Sheila, merasakan tangan Marchel yang masih mengusap-usap perutnya. Untuk pertama kalinya, sejak masa kehamilannya, Sheila merasakan belaian Marchel. Ada rasa yang sulit dijelaskan. Kerinduannya selama Marchel pergi, membuatnya merasa sedih.
"Kau sudah bangun." Marchel tersenyum, seraya membelai rambut sang istri.
Sheila buru-buru merubah posisinya, hendak turun dari tempat tidur. Namun Marchel menahannya.
"Dengarkan aku dulu," ujarnya seraya menggenggam jemari Sheila. "Maaf, aku membawamu kemari lagi. Kita akan pergi dari sini besok pagi. Setelah semuanya selesai. Kau dan aku akan tinggal di rumah kita yang baru. Hanya berdua. Kita akan mulai semuanya dari awal dan belajar saling menerima. Aku juga sudah melakukan dosa besar. Dan apa yang terjadi padamu sekarang adalah hasil kesalahanku karena meninggalkanmu begitu lama. Aku mohon, maafkan aku. Siapapun ayah dari anakmu, aku akan menerimanya dan menganggapnya anakku sendiri."
"Kak Marchel akan tahu kebenarannya begitu hasil tes DNA nya keluar!"
"Apapun hasilnya aku akan menerimamu. Hasil tes DNA itu tidak akan mempengaruhi apapun."
Sheila mengusap wajahnya dengan jari, "Aku mau pergi dari sini sekarang juga, Kak! Aku mohon biarkan aku pergi."
__ADS_1
"Kau mau kemana malam-malam begini dalam keadaan hamil? Di luar itu berbahaya. Tenanglah! Besok, kita akan pindah ke rumah kita yang baru."
Sheila tidak menjawab. Satu-satunya yang dia inginkan hanyalah pergi yang jauh dan meninggalkan semuanya, termasuk Marchel.
"Sheila..." panggil Marchel lembut seraya mengusap rambut istrinya itu. "aku tahu aku bukan suami yang baik. Aku melakukan banyak kesalahan. Karena itulah, aku ingin kita memulai semuanya dari awal."
Sheila masih terus terdiam.
"Baiklah... Sekarang makanlah! Aku sudah pesan makanan untukmu. Aku suapi, ya..."
Sheila melirik beberapa menu makanan yang ada di meja, sepertinya sangat enak. Selama tinggal sendiri, kadang Sheila hanya makan mie instant, saat uang simpanannya menipis.
Melihat bola mata Sheila yang mulai berkaca-kaca membuat Marchel segera segera memeluknya. Hingga beberapa saat setelah Sheila puas menumpahkan kesedihannya. Marchel menangkup wajah istrinya itu dan menatap dalam-dalam matanya.
"Sheila aku mencintaimu. Maaf aku terlambat menyadarinya. Beri aku satu kesempatan lagi untuk menebus semua kesalahanku."
Sekali lagi, Sheila hanya diam membisu. Seakan kata cinta yang diucapkan Marchel sudah tidak berarti.
***
Pagi itu, Marchel buru-buru berangkat ke rumah sakit tempatnya bekerja, setelah mendapat telepon dari Willy yang mengatakan hasil tes DNA telah keluar.
Meskipun meyakini bahwa anak yang dikandung Sheila bukan darah dagingnya, namun Marchel tetap penasaran ingin mengetahui hasilnya.
Marchel mempercepat langkah kakinya menuju ruangan Dokter Willy, tanpa mempedulikan sapaan dari beberapa perawat yang berpapasan dengannya.
"Wil, maaf aku terlambat, jalanan macet," ujar Marchel sesaat setelah memasuki ruangan itu.
"Duduklah." Willy yang sedang duduk di kursi kebesarannya menggenggam sebuah amplop berwarna putih yang masih tersegel rapi. "Kau mau baca sendiri atau aku bacakan?"
"Terserah!"
"Baiklah. Kau lihat, ini masih tersegel." Willy membuka segel amplop itu pelan-pelan, mengeluarkan secarik kertas yang berada di dalam sana.
Sang Dokter terlihat sangat serius membaca kata demi kata yang tertulis di kertas itu, dengan alisnya yang mengerut.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Marchel penasaran.
Willy melirik Marchel tatapan tajam. "Kau baca sendiri! Dasar laki-laki bodoh!" ujar Willy sambil menyerahkan kertas itu dengan kesal.
****
__ADS_1
Bersambung.