
"Bangun!" Suara bentakan Rayhan menggelegar di pagi yang cerah itu. Sheila duduk di atas rerumputan hijau, di taman belakang rumah itu. Baru saja terkena pukulan Rayhan di lengan kanannya, yang membuatnya harus jatuh terduduk di sana. Mereka, sedang latihan bela diri pagi itu.
Sheila bangkit, bersiap-siap menyerang. Melayangkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi ke arah Rayhan, namun semuanya dapat ditangkis oleh Rayhan dengan sangat mudah.
"Kenapa tenagamu selemah itu? Kau sangat payah! Bagaimana kau bisa melindungi dirimu sendiri dari orang-orang itu kalau kau selemah ini?" Rayhan terus memarahi Sheila yang bahkan tidak dapat menembus pertahanan Rayhan.
Dari balik jendela, Pak Arman berdiri dengan tangan menyilang di dada, memperhatikan Rayhan dan Sheila di bawah sana.
"Mereka selalu latihan saat ada waktu senggang." Bibi Yum datang dengan membawa Secangkir teh hangat dan camilan untuk Pak Arman.
Pak Arman menghela napas panjang, memperhatikan Sheila yang terlihat begitu kesulitan menghadapi serangan Rayhan. Bahkan sudah beberapa kali Sheila jatuh tersungkur, namun Rayhan tetap memaksanya berdiri.
"Aku merasa Rayhan sangat keras pada Sheila," ujarnya tanpa melepaskan pandangan dari kedua orang itu.
"Tapi selama empat tahun ini Rayhan menjaga Sheila dengan sangat baik. Dia tidak memberi Sheila ruang untuk bersedih." Bibi Yum ikut berdiri di jendela besar itu. "Kasihan anak itu. Dia butuh waktu yang lama untuk bisa melupakan kematian anaknya."
"Ya, aku masih bisa melihat sisa kesedihan di matanya. Tapi, sudah waktunya dia untuk kembali ke tempat asalnya."
Latihan dilanjutkan dengan berlatih menembak. Rayhan bahkan tidak peduli walaupun Sheila sudah terlihat kelelahan. Dengan memakai kacamata dan alat pelindung telinga, Sheila membidik beberapa botol kaca yang diletakkan di ujung sana. Rayhan bahkan menggunakan senjata api sungguhan dalam melatih Sheila.
"Awas saja kalau bidikanmu meleset satu peluru saja. Aku menghukummu lari keliling lapangan!"
Sheila terdiam, berusaha berkonsentrasi membidik satu botol yang berada di ujung sana, demi terhindar dari hukuman.
"Konsentrasi, bidik yang benar!" ujarnya seraya membetulkan posisi lengan Sheila.
Dor!
Satu tembakan melesat memecahkan sebuah botol kaca, sehingga pecahannya berhamburan. Membuat Sheila bernapas lega. Berikut beberapa tembakan berikutnya yang tepat mengenai sasaran.
Ah, aku selamat dari hukuman! dalam batin Sheila.
"Bagus!" ucap Rayhan seraya menyerahkan sebotol air mineral pada Sheila. "Sekarang istirahatlah lima belas menit! Lalu kita lanjutkan dengan latihan memanah!"
Rayhan memberi kode beberapa orang pria yang berdiri di sudut sana agar mendekat. "Tolong kalian bersihkan pecahan botol itu," perintahnya pada beberapa pria itu.
__ADS_1
Sheila menjatuhkan tubuhnya, duduk di atas rerumputan itu sambil meneguk air mineralnya. Menoleh pada Rayhan yang sedang menyiapkan alat untuk latihan memanah. Rasanya Rayhan dan Shanum sangat berbeda. Jika Shanum sangat memanjakannya dengan penuh kasih sayang, maka Rayhan sangat keras padanya.
Rayhan bahkan tidak segan-segan menghukum Sheila lari keliling lapangan jika melakukan kesalahan saat latihan. Namun, saat sedang tidak latihan, Rayhan tetaplah seperti sahabatnya semasa SMA dan menjelma menjadi seorang kakak yang menyebalkan.
Tepukan sedikit keras mendarat di bahu, Sheila begitu terkejut, karena Rayhan tiba-tiba berada di sampingnya.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak ada!"
Rayhan mengusap punggung Sheila, "Kau harus bersiap-siap bertemu dengan pamanmu, Pak Herdian."
"Aku tidak peduli dengannya. Akan aku tendang dia dari perusahaan dan menjebloskannya ke penjara, begitu bukti keterlibatannya dalam pembunuhan ayahku dan Kak Shanum terkumpul."
"Dia itu licin seperti belut. Kau harus menggunakan umpan untuk menangkapnya."
"Tenang saja, Kak! Aku bukan Sheila si gadis culun lagi."
"Ya, tapi bagaimana dengan hatimu? Aku merasa kau masih rapuh."
Hening, Sheila tidak menyahut, membuat Rayhan segera berdiri dari duduknya. Melirik jam di pergelangan tangannya.
****
"Ayah memanggilku?" tanya Rayhan sesaat setelah memasuki sebuah ruangan.
"Duduklah!" ujar Pak Arman, membuat Rayhan segera Rayhan duduk di kursi berhadapan dengan ayahnya itu.
"Ada apa, Ayah?"
"Rey... Apa kau tidak merasa kalau kau sangat keras pada Sheila?"
Rayhan menghela napas panjang, "Ayah... Lihatlah bagaimana Kak Shanum memperlakukannya seperti seorang putri. Kak Shanum terlalu memanjakannya sampai dia menjadi lemah. Dia bahkan tidak bisa melawan saat siswa lain di sekolah dulu menjahilinya."
"Ya, kau benar tapi kau terlalu keras padanya."
__ADS_1
"Tidak, Ayah! Dia membutuhkan itu. Untuk bisa menjadi pewaris Darmawan Group dia harus menjadi seseorang yang kuat. Kenyataan bahwa dia adalah anak Tuan Surya Darmawan saja tidak akan cukup, untuk bisa membuatnya berdiri di atas kakinya sendiri."
"Baiklah, dimana dia sekarang?"
"Aku sedang menghukumnya."
Pak Arman membulatkan matanya mendengar ucapan anak lelakinya itu. "Apa? Kau menghukumnya?"
"Iya. Anak panahnya meleset. Jadi aku memberinya hukuman. Dia sedang latihan Wushu di atas."
Pak Arman menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menarik napas panjang.
****
Berita kepulangan sang pewaris tunggal Darmawan Group dari luar negeri tersebar begitu cepat. Para petinggi perusahaan raksasa itu sudah menyiapkan pesta penyambutan untuk sang jutawan cilik itu.
Banyak orang yang begitu penasaran seperti apakah wujud Qiandra Sheila Darmawan yang membuat masyarakat geger. Tentu saja, menjadi pewaris satu-satunya dari sebuah perusahaan seperti kerjaan Darmawan membuat orang bertanya-tanya. Menebak-nebak berapa jumlah kekayaan perusahaan besar itu.
Undangan sudah tersebar di berbagai kalangan, termasuk semua orang yang bekerja di bawah naungan Darmawan Group. Tak terkecuali dua dokter tampan yang bekerja di rumah sakit milik keluarga Darmawan.
"Pesta penyambutan..." ujar Willy seraya membaca isi undangan itu. "Beberapa hari lagi rasa penasaran kita pada bos kecil itu akan terpenuhi."
"Kau akan datang?" tanya Marchel.
"Tentu saja. Aku sangat penasaran bagaimana wujud bos kita itu." Willy senyum-senyum memikirkan bagaimana sosok gadis berusia 21tahun yang belakangan ini sangat heboh dibicarakan itu. "Bagaimana denganmu?"
"Aku tidak tertarik. Aku punya pekerjaan yang jauh lebih penting," jawab Marchel dengan nada malas.
"Aku tahu, bagimu lebih baik mencari Sheila daripada menyambut bos besar. Kau sudah empat tahun mencarinya seperti orang gila. Tapi kita wajib datang. Kau tahu kan, bagaimana Pak Arman itu."
"Aku tidak peduli, Will."
"Apa kau tidak penasaran dengan Qiandra itu?"
"Tidak!" Marchel menjawab singkat. Baginya mencari Sheila lebih penting daripada hanya sekedar berbasa-basi datang ke sebuah pesta yang isinya sudah pasti hanya sekelompok penjilat.
__ADS_1
***
Bersambung