Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Qiandra dan Sheila


__ADS_3

Keesokan harinya....


Ribuan orang sudah mulai memadati sebuah gedung yang telah di dekorasi seindah dan semewah mungkin, membuat yang berada di dalam gedung mewah itu berdecak kagum. Malam itu adalah ulang tahun perusahaan Darmawan Group yang bersamaan dengan ulang tahun sang pewaris tunggal--sehingga dirayakan secara bersamaan. Di depan sana, sudah ada banyak hadiah mewah yang akan diundi untuk pekerja Darmawan Group yang beruntung.


Dengan anggunnya, Sheila memasuki gedung itu. Seorang gadis cantik dalam balutan gaun berwarna hitam, berjalan di atas karpet merah layaknya seorang tuan putri. Membuat semua mata mau tak mau tertuju padanya.


Sheila memutar bola matanya ke sana kemari, melirik satu persatu tamu undangan. Terutama, beberapa orang yang sedang menjadi objek balas dendamnya. Seulas senyum penuh arti terbit di sudut bibirnya.


Di sebuah meja, Marchel dan Willy memperhatikan kedatangan Sheila.


"Dia sudah datang." Willy menunjuk Sheila dengan ekor matanya. "Ngomong-ngomong kau bawa apa?" tanya Willy menatap sebuah kotak yang dibawa Marchel.


"Ini hadiah untuk Sheila."


"Apa itu?"


"Kau akan tahu nanti." Marchel kembali mengarahkan pandangannya pada Sheila.


Sementara di meja lain, tidak jauh dari Marchel, ibu duduk bersama seorang temannya. Entah sedang membicarakan apa. Wanita itu tidak mengetahui jika gadis cantik yang sedang disambut dengan hormat di ruangan itu adalah menantunya, yang selama empat tahun ditangisinya hampir setiap hari -- akibat penyesalan perlakuan buruknya.


Acara malam itu pun berlangsung meriah. Satu persatu agenda acara terpaksana dengan lancar tanpa hambatan. Sheila menerima banyak hadiah mewah dari beberapa rekan bisnis perusahaan miliknya.


Beberapa pria kaya raya pun mencoba mendekatinya, namun Rayhan seolah tak memberi celah pada siapapun yang ingin mendekati tuang putri dari kerjaan Darmawan itu.


Para tamu benar-benar menikmati acara tersebut. Mulai dari acara hiburan, hidangan yang lezat, dan juga hadiah yang diundi menambah kemeriahan acara malam itu.


Namun, ada dua wajah yang terlihat bagai awan mendung. Audry dan Maya. Keduanya sedang menikmati aksi balas dendam seorang gadis culun tanpa mereka sadari.


Tibalah di acara penutup. Sebagian tamu sudah ada yang kembali, namun sebagian masih sangat menikmati pesta meriah itu. Sheila sudah berdiri di depan semua orang yang hadir. Ia mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan itu.


"Terima kasih semuanya, atas kesediannya untuk hadir dan memeriahkan acara malam ini. Sebelumnya, aku ingin berterima kasih pada seseorang yang sudah menjagaku selama ini. Seseorang yang kuanggap sebagai ayahku sendiri, dan juga seorang kakak yang sangat kusayangi. Aku sangat menyayangi kalian. Aku tidak tahu bagaimana hidupku tanpa kalian. Ayah, Kak Rey... Terima kasih!"


Tepuk tangan mulai menggema di ruangan itu. Tatapan semua orang sejenak beralih pada Pak Arman dan Rayhan.

__ADS_1


"Sebenarnya aku kurang percaya diri, berdiri di hadapan kalian semua. Jika mengingat masa laluku, aku bukanlah siapa-siapa. Tapi demi menjaga keselamatanku dari orang-orang jahat, maka identitasku yang sebenarnya dirahasiakan."


Mendengar ucapan Sheila, Pak Herdian menunduk. Ia tahu sedang disindir oleh keponakannya itu.


Ruangan itu pun hening. Semua orang hanya memperhatikan Sheila berbicara di depan.


"Sebenarnya, malam ini aku ingin mengungkapkan siapa diriku yang sebenarnya. Dan mungkin beberapa orang di ruangan ini sudah mengenaliku. Tapi sebagian orang hanya melihat sampul luarku saja. Mereka belum tahu siapa aku," ujar Sheila seraya menatap tajam Maya dan juga Audry. "Tapi malam ini, aku ingin menunjukkan pada mereka siapa aku yang sebenarnya. Dokter Audry, bisakah kau ambilkan kotak berwarna putih yang berada di atas meja itu?"


Audry melirik ke atas meja dimana ada banyak kado yang tersusun rapi. Wanita cantik itu segera mengambil kotak berwarna putih yang telah dipersiapkan Sheila sebelumnya. Dan layaknya seorang pelayan setia, Audry melakukan apapun perintah Sheila.


"Ini, Nona!" Audry menyodorkan kotak itu.


"Tolong kau pegang dulu!" Sheila melepas jepitan rambutnya, membuka sanggul, sehingga rambut panjangnya tergerai. Lalu membuka kotak yang masih dipegang Audry dan meraih tissue basah dari dalam sana. Semua orang yang melihat apa yang dilakukan Sheila mulai bertanya-tanya. Tentang apa yang hendak dilakukan oleh sang bos muda itu.


Sheila mengusap wajahnya dengan tissue basah, hingga tampaklah wajah polos tanpa make up nya. Berikut bulu mata dan juga perhiasan yang dikenakannya. Semua ditanggalkan. Baik Audry maupun Maya masih terlihat bingung.


"Dokter Audry, tolong berikan kacamataku yang berada di dalam kotak itu."


Tanpa banyak bertanya, Audry mengambil kacamata tebal yang berada di dalam kotak itu, dan memberikannya ke tangan Sheila.


Dan, alangkah terkejutnya Audry dan juga Maya melihat siapa yang ada di hadapan mereka. Seketika mereka mengenali sosok wajah berkacamata tebal dengan rambut tergerai. Rasanya ingin pingsan karena terlalu terkejut.


Audry pun terdiam, sambil memikirkan sikap sang bos yang sangat semena-mena memberinya perintah. Begitu pun dengan Maya yang terlihat begitu syok. Bahkan kedua matanya telah berkaca-kaca.


Di sudut sana, ibu yang menyadari siapa wanita muda yang berdiri di depan hanya menjatuhkan air matanya.


"Sheila? Apakah benar itu Sheila?" gumam Ibu.


Maya dan Audry juga seorang kepala sekolah yang merupakan ayah Maya terdiam. Menyadari bahwa ternyata bos mereka adalah Sheila si anak culun yang dahulu sering mendapat pembullyan dari siswa lain. Bahkan sang kepala sekolah itu seolah menutup mata atas kejahatan anak semata wayangnya yang terus menyiksa Sheila.


"Kenapa? Kenapa kalian semua diam? Kalian ingat seseorang?" tanya Sheila menatap satu persatu orang-orang di depannya. "Kalian sudah mengingatku?" Sheila berjalan menghampiri Maya. "Maya, kau sudah ingat aku? Aku adalah anak culun yang selama tiga tahun terus kau siksa. Kau bahkan menjebakku dengan licik seolah kau benar-benar temanku. Apa kau tahu, perbuatanmu lah yang mengawali semua kejadian buruk yang menimpaku selama ini. Dan ayahmu, dia tahu perbuatan burukmu padaku, tapi dia diam saja!"


Maya tidak dapat berkata-kata. Gadis itu hanya dapat mengusap air matanya. Sedangkan sang kepala sekolah sudah menunduk malu.

__ADS_1


"Dan kau, Dokter Audry... Demi mendapatkan Dokter Marchel kau gunakan segala cara. Kau bahkan membuatku diusir dari rumah suamiku sendiri. Dan kau dengan tidak tahu malunya menjual rumahku sehingga aku terlunta-lunta dan hidup menyedihkan. Bahkan kau sudah menyebabkan anak yang tidak berdosa menjadi korban. Apa kau ingat semua itu? Kenapa kalian semua diam?!"


Seketika kotak yang dipegang Audry jatuh begitu saja ke lantai. Tangannya gemetaran. Tidak tahu harus berkata apa.


"Lihat! Itu ibu mertuaku." Sheila melirik ibu mertuanya yang sudah menangis di sana. "Bagaimana dia memperlakukanku seperti sampah di rumahnya." Walaupun bibir Sheila tersenyum, namun jelas terlihat gurat kesedihan bercampur amarah. "Aku tidak tahu apa kesalahanku sampai dia sangat membenciku. Dia menamparku sesukanya, memintaku melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh seorang pelayan. Apa kau ingat, tanpa belas kasih kau mengusirku dari rumahmu? Kau tidak bisa menerimaku menjadi menantumu hanya karena bagimu aku tidak layak."


"Apa kalian tahu, hal buruk apa yang kualami karena perbuatan kalian? Tidak! Kalian tidak pernah memikirkannya."


Semua orang yang ada di dalam gedung itu terdiam, tidak ada satupun yang berani bicara. Hingga Marchel datang dan mendekati Sheila.


Pak Arman pun memberi kode pada Rayhan dan Joe, juga beberapa pengawal lain, agar meminta semua tamu segera meninggalkan gedung itu dengan tertib. Tidak butuh waktu lama, para tamu sudah meninggalkan gedung luas itu. Audry, Maya dan ibu pun diminta untuk segera keluar. Sehingga di dalam gedung besar itu hanya ada Sheila dan Marchel. Sebagian lampu juga telah dimatikan oleh Rayhan.


"Sheila..." panggil Marchel.


"Jangan sentuh aku!" bentaknya. "Kau sama jahatnya dengan mereka semua. Aku sangat membencimu!"


"Hentikan semua ini, Sheila!"


"Kenapa? Kenapa kau memintaku berhenti? Aku akan menghancurkan kalian semua sama seperti kalian menghancurkanku!"


"Aku mohon, berhentilah! Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri."


Sheila tertawa sambil menjatuhkan air matanya. "Menghancurkan diriku? Aku sudah hancur. Lalu kenapa sekarang kau datang padaku dan mau memulai segalanya dari awal? Apa kau tahu kalau itu sudah terlambat? Penyesalanmu tidak ada artinya bagiku!"


Sheila hendak meninggalkan Marchel, namun Marchel menariknya ke dalam pelukannya. Walaupun Sheila memberontak, namun semakin erat tangan Marchel melingkar di tubuhnya.


"Maafkan aku. Kau mengalami semua ini karena kesalahanku. Aku yang sudah memberi mereka celah untuk bisa menyakitimu. Jika saja aku lebih cepat menyadari perasaanku, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Kau tidak akan terluka seperti ini. Ini salahku." Marchel berbisik di telinga Sheila.


Seketika tangis Sheila pecah, menggema di ruangan itu. Ia melepaskan semua rasa sakit yang selama ini membelenggunya.


Dari balik sebuah tirai, Pak Arman dan Rayhan memperhatikan Sheila yang sedang menangis pilu.


"Ayo, Rey... Kita pergi. Biarkan mereka berdua. Marchel yang akan menyelesaikannya. Mungkin hanya dia yang bisa meredam amarah Sheila," ujar Pak Arman diikuti anggukan oleh Rayhan.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2