
Dengan tatapan sayu, Chella menoleh pada wanita yang disebutnya kakak cantik. Kulit wajahnya yang semula memucat terlihat berbinar bahagia. Beberapa hari tidak bertemu membuat Chella begitu merindukan sosok wanita kesayangannya itu.
"Kakak cantik," panggilnya dengan suara lemah.
Sheila masih diam membisu. Seakan tak percaya bahwa peri kecil di depannya adalah benar anak yang dilahirkannya empat tahun lalu. Hanya air mata yang terus berguguran membasahi wajahnya.
Pelan-pelan ia melangkah mendekat, Sheila mengamati wajah Michella, seakan meneliti setiap incinya. Jika setiap anak memiliki potongan wajah yang turun dari orang tuanya, pasti Michella kecil memilikinya. Dan benar, ada wajah Marchel di sana yang bahkan tak pernah disadari oleh Sheila sebelumnya. Hidung, mata dan bibir yang menyerupai milik Marchel. Tatapannya sayu seperti Sheila di masa kecilnya. Gadis kecil itu menerbitkan seulas senyum bahagia yang membuat Sheila bergetar. Ada wajah dirinya dan Marchel yang menyatu dalam senyum indah malaikat kecil itu.
Mereka tidak membohongiku, Michella adalah anakku. Batin Sheila.
Wanita itu mengulurkan tangannya, meraih tubuh kecil dan lemah itu dan memeluknya erat. Pertama kali memeluk gadis kecil itu sebagai seorang ibu membuat Sheila merasakan sesuatu yang berbeda. Hangat, seolah tak ingin melepasnya.
Anakku, dia benar-benar anakku. Michella-ku...
Sheila duduk di bibir tempat tidur itu dan membawa Chella ke dalam pangkuannya. Ia mengusap rambut dan punggung anaknya itu. Teringat kesedihannya empat tahun lalu, ketika di pangkuannya ada seorang bayi mungil yang sudah tak bernyawa, dengan beberapa bagian tubuhnya yang membiru. Rasanya, saat itu tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan kesedihannya. Betapa sakit dan hancur perasaannya menatap wajah bayi kecil yang dipikirnya adalah anaknya.
__ADS_1
Kini, Sheila menemukan belahan jiwanya yang sebenarnya. Bahagia bercampur haru. Dipeluknya dengan erat tubuh gadis kecilnya itu, melepaskan semua rasa sakit yang selama ini menggerogoti hatinya. Rasa sakit, yang membuatnya memendam kebencian dan dendam yang membara. Dan semua rasa itu seakan hilang dengan kembalinya buah hatinya itu.
"Michella, anakku..." lirih Sheila tanpa melepas pelukannya.
"Kakak cantik, Chella kangen kakak cantik!"
Sheila melepas pelukannya, kemudian menghujani wajah polos itu dengan kecupan sayangnya. "Bunda, Nak! Panggil Bunda saja ya..."
"Bunda..."
"Bunda... Chella mau sama Bunda," lirih Chella. Takut jika wanita yang baru saja dipanggilnya Bunda itu pergi meninggalkannya saat tertidur.
"Iya, Sayang... Bunda akan selalu bersama Chella. Kita tidak akan berpisah lagi."
"Sama ayah juga kan..." Chella mendongakkan kepalanya menatap Marchel, sehingga laki-laki itu segera mendekat dan memeluk dua orang kesayangannya itu.
__ADS_1
"Iya, Nak! Ayah akan selalu di sini bersama Chella," ucap Marchel membelai puncak kepala putrinya itu.
"Nanti kalau Chella tidur, Ayah sama Bunda jangan pergi ya..." pinta Chella, seraya menatap kedua orang tuanya bergantian.
"Iya, Nak. Ayah sama Bunda akan selalu menemani Chella," sahut Marchel.
"Janji? Jangan bohong. Kata ibu Fifi, bohong itu dosa."
" Janji!"
Selama beberapa saat ketiga orang itu saling berpelukan. Ibu pun begitu terharu menyaksikan pertemuan pertama antara ayah, ibu dan anak yang telah terpisah selama empat tahun karena kesalahannya. Karena keegoisannya, anak dan cucunya harus terpisah. Wanita paruh baya itu mengusap air matanya, lalu beranjak keluar dari ruangan itu. Seakan memberi waktu bagi Sheila dan Marchel untuk menikmati waktu bersama putri kecil mereka.
***
Bersambung.
__ADS_1