
Hening! Tak ada sahutan, tak ada tanda keberadaan orang di dalam ruangan itu.
Seketika tubuhnya terasa meremang, melihat selang infus menggantung begitu saja di sisi pembaringan itu. Dengan cepat, Marchel berlari keluar.
"Sheila!" teriak Marchel memanggil. Willy yang belum jauh dari ruangan itu segera berbalik mendengar suara teriakan Marchel, segera berlari dengan paniknya.
"Ada apa?" tanya Willy.
"Sheila tidak ada di dalam," jawab Marchel dengan paniknya.
Willy segera masuk ke ruangan itu hendak memastikan, dan menemukan jarum infus yang menggantung begitu saja di tiangnya.
Kepanikan pun terjadi di sana. Marchel, Willy dan beberapa perawat lain berkeliling mencari Sheila namun tidak menemukannya.
"Marchel, ayo kita ke ruang CCTV!" ajak Willy.
Mereka segera menuju ruang CCTV untuk melihat apa yang terjadi. Mungkin saja mereka akan menemukan petunjuk keberadaan Sheila dari rekaman CCTV. Akan tetapi sungguh aneh, seluruh CCTV di rumah sakit tidak berfungsi.
"Ada apa ini? Kenapa semua CCTV nya mati?" teriak Marchel kepada seorang petugas.
****
__ADS_1
Di rumah, ibu duduk merenung di dalam kamarnya. Dengan tangisannya yang enggan berhenti. Wanita paruh baya itu baru menyadari semua kesalahannya setelah kehilangan cucu pertamanya.
Terbayang-bayang wajah polos tanpa dosa seorang bayi mungil yang sangat cantik, yang membuat ibu merasa menjadi manusia paling jahat di muka bumi. Marchel bahkan tidak mengizinkan ibu menyentuh putri kecilnya.
Jangan sentuh anakku, Bu! Aku tidak mau anakku ternoda.
Ucapan Marchel yang tajam terngiang, seolah semakin memperdalam goresan luka di hatinya. Ibu hanya dapat menangis dan menangis.
Pintu kamar itu terbuka perlahan, tampak Audry dengan wajah tanpa rasa berdosa memasuki kamar itu.
"Ibu..." panggilnya pelan.
"Pergilah dari rumah ini, Audry. Sebelum Marchel pulang. Aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan padamu kalau kau masih di rumah ini." Ibu bahkan enggan menatap wajah wanita jahat di depannya.
"Tapi, Bu! Kenapa Ibu tidak membelaku?" Audry bersimpuh seraya menyentuh lutut ibu. "Bu, aku sudah menyingkirkan Sheila. Ibu harusnya senang kan? Ibu membenci Sheila, kan?"
Ibu memejamkan matanya, dengan air matanya yang mengajak sungai. "Itu adalah kesalahan dan dosaku, Audry. Aku mohon pergilah dari rumahku! Jangan tunjukkan dirimu di hadapanku lagi. Aku memang tidak menyukai Sheila, tapi aku tidak mau dia celaka. Anak itu adalah cucuku, yang telah kau bunuh. Pergilah sebelum Marchel pulang."
Audry tidak dapat berkata-kata lagi. Wanita itu berdiri dari posisinya. Segera keluar dari kamar ibu, menuju kamarnya.
Dengan rasa kesal, dia menyeret kopernya keluar dari rumah mewah itu. Tak ada sedikit pun rasa sesal. Obsesinya memiliki Marchel mengalahkan segalanya.
__ADS_1
****
Marchel dan Willy mencari ke setiap sudut jalan. Sesekali Marchel turun dari mobil untuk bertanya pada beberapa warga yang berada di sana sambil memperlihatkan foto sang istri, namun tak ada seorang pun yang mengaku melihatnya.
Menyandarkan punggung tegaknya di mobil, Marchel terlihat begitu frustrasi.
"Sheila... Kemana dia."
"Tenanglah, Marchel... Kita pasti menemukannya." Willy kembali melajukan mobilnya pelan, sambil melirik kesana-kemari, berharap menemukan sosok istri sahabatnya itu.
Hingga hari mulai gelap, sudah berjam-jam berkeliling mencari Sheila, namun tak kunjung menemukannya. Bahkan Marchel telah menghubungi beberapa sopir dan juga penjaga rumahnya untuk membantu berkeliling mencari Sheila. Dan tak satupun dari mereka yang menemukan keberadaannya.
****
BERSAMBUNG
kalian membuat aku menulis kek minum obat yaaa... 3x sehari 🤣
mau aku rajin kreji up??
Share biar banyak yang baca 🤣🤣
__ADS_1