Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin

Pernikahan Rahasia Gadis Culun & Dokter Dingin
Tetap Menunggu


__ADS_3

*** 4 TAHUN KEMUDIAN ***


Tiada sesuatu pun di dunia ini yang abadi. Entah itu kesedihan atau kebahagiaan. Semuanya tetap akan berlalu seiring dengan berjalannya waktu. Karena hanya waktu yang dapat menghapus luka. Waktu pula yang akan memberi jawaban untuk setiap pertanyaan. Baik atau buruk takdir yang dijalani, pada akhirnya, semua akan tetap berlalu. Dan, pada saat manusia sabar dan ikhlas menjalani takdirnya, maka semesta akan menunjukkan jalannya.


***


-


_


_


Di sebuah rumah sakit, seorang dokter terlihat sedang sibuk melayani satu persatu pasien yang berdatangan. Senyum tipis selalu terbit di sudut bibir dokter yang terkenal ramah dan tampan itu. Dari wajahnya tergambar ketulusan mengabdikan diri sebagai pelayan kesehatan.


Dokter Marchel, dengan senyum menawannya selalu mampu menghipnotis siapapun yang berhadapan dengannya. Dengan telaten, sang dokter memeriksa satu persatu pasien yang masuk ke ruangannya. Mendengarkan keluhan mereka dengan baik.


Dari teduhnya senyum di wajahnya, dari lembutnya setiap kata yang terucap dari bibirnya, seolah tak ada beban dalam hidupnya. Namun sang dokter yang sangat berkharisma itu nyatanya bagaikan nelayan di tengah lautan yang kehilangan arah dan tujuannya. Yang dia lakukan hanya menunggu dan menunggu keajaiban. Ketika takdir menunjukkan setitik cahaya untuknya menemukan peraduannya.


***


Siang hari yang cerah, di jam makan siang. Pemandangan yang sama selalu terlihat di setiap harinya selama empat tahun belakangan. Ketika dua dokter tampan duduk di cafe yang terdapat di dalam rumah sakit itu.


"Huftt... Melelahkan sekali hari ini. Aku hampir tidak punya waktu untuk makan siang," ucap Willy sambil menyuapkan sesendok makanan ke mulutnya.


"Aku juga banyak pasien hari ini," imbuh Marchel. "Sore ini aku ada janji dengan pasienku di klinik." Marchel menyeruput secangkir teh hangat yang baru saja dipesannya.


"Kenapa kau tidak makan?" Willy melirik sahabatnya, yang beberapa hari ini terlihat kurang berselera makan, di siang hari hanya memesan teh hangat, kadang ditemani roti bakar saja.


"Aku sedang tidak berselera."


"Marchel, kau ini seorang dokter. Kau akan ditertawakan kalau sampai sakit hanya karena pola makanmu tidak benar."


Marchel hanya menjawab dengan kekehan kecil. Sesekali matanya melirik TV yang menggantung di ruangan itu, yang menayangkan berita yang beberapa hari ini sangat heboh di kalangan petinggi rumah sakit tempatnya bekerja.

__ADS_1


"Berita itu sedang heboh-hebohnya. Ya, siapa sangka jika pewaris tunggal Darmawan Group itu ternyata masih hidup dan akan segera kembali dari Jerman," ujar Willy sambil mengunyah makanan.


"Aku pikir dia benar-benar sudah meninggal dalam kecelakaan seperti yang kau katakan saat itu."


"Beritanya simpang siur. Desas-desus yang beredar mengatakan dia tewas dalam kecelakaan bersama Tuan Surya Darmawan. Tapi saat itu jasadnya hanyut di sungai dan tidak ditemukan. Ternyata dia masih hidup ya. Aku sangat terkejut." Willy terlihat antusias jika membahas tentang pewaris tunggal Darmawan Group itu.


"Mereka bilang dia masih sangat muda. Usianya baru 21tahun lebih, bukankah waktu itu kau bilang akan memutuskan semua pacarmu dan mengejarnya jika saja dia masih hidup? Aku dengar dia seorang gadis yang sangat cantik." Marchel tertawa kecil membuat Willy tersedak air mineral yang baru saja diteguknya.


"Uhuk-uhuk!" Willy terbatuk-batuk sehingga Marchel menepuk punggungnya dengan sedikit keras. "Dia mana mau dengan dokter seperti kita? Dia pasti akan memilih seorang direktur utama di sebuah perusahaan yang sepadan dengannya, bukan seorang dokter."


Marchel terdiam, pikirannya kembali melayang jauh di sana.


"Beruntung sekali laki-laki yang menikah dengannya nanti. Kau tahu kan betapa kaya rayanya kerajaan Darmawan Group. Perusahaannya dimana-mana, di dalam dan luar negeri. Bahkan rumah sakit ini dan SMA Pelita hanyalah sebagian kecil dari aset miliknya. Aku yakin sepatunya saja terbuat dari emas." Willy melanjutkan sambil geleng-geleng kepala, memikirkan seberapa besar jumlah kekayaan Darmawan Group.


"Kau terlalu berlebihan, Will."


Willy menghela napas panjang, mengusap dadanya pelan, "Qiandra Sheila Darmawan...


Bos besar kita."


"Iya... Kau terkejut? Nama tengahnya seperti nama istrimu. Aku benar-benar penasaran seperti apa wajahnya. Media bahkan tidak pernah berhasil menemukannya. Pak Arman benar-benar menjaganya dengan baik, dia menyembunyikannya seperti mutiara di dasar lautan. Hahaha!"


"Aku tidak tertarik dengan itu." Marchel memainkan jari telunjuknya di layar ponsel miliknya, menatap wajah polos yang sangat dirindukannya.


"Ya, tentu saja. Kau hanya tertarik dengan Sheila saja, kan..."


****


"Apa kau balum menemukan informasi apapun tentang keberadaan Sheila?" tanya Willy.


Mereka sedang berjalan menuju ruangan masing-masing setelah makan siang di cafe.


"Belum! Aku masih terus mencarinya."

__ADS_1


"Bersabarlah! Suatu hari kau pasti akan bertemu dengannya lagi, ini hanyalah masalah waktu."


"Entahlah, sudah empat tahun aku mencari Sheila kemana-mana. Tapi aku belum juga menemukannya. Aku bahkan tidak tahu apakah dia baik-baik saja atau tidak, dia tinggal bersama siapa. Dia semarah itu padaku sampai menghilang begitu lama."


"Aku ikut prihatin," ujar Willy. Dia tahu betul bagaimana perjuangan Marchel selama empat tahun mati-matian mencari istrinya itu.


"Tapi aku tidak akan pernah lelah menunggu dan mencarinya. Karena aku sangat mencintainya."


Willy menepuk bahu sahabatnya itu, "Ayolah, jangan terus sedih seperti ini. Kalau kalian memang berjodoh, suatu hari kau dan Sheila pasti akan bersama kembali.


Di kejauhan sana, terlihat seorang dokter wanita terlihat berjalan ke arah mereka.


Audry, baru diterima bekerja di rumah sakit itu beberapa minggu lalu, sebagai seorang Dokter Obgyn.


Marchel memutar bola matanya malas, ketika Audry sudah berada di hadapannya.


"Selamat siang, semuanya!" ujarnya dengan penuh percaya diri. Akan tetapi, baik Willy maupun Marchel enggan menyahut sapaan itu.


"Marchel, aku duluan, sampai jumpa." Willy melangkah pergi meninggalkan kedua orang itu. Sedangkan Marchel, hendak masuk ke ruangannya, namun Audry menggenggam pergelangan tangannya.


"Marchel tunggu!" ujar Audry.


"Lepaskan!" Marchel menghempaskan tangan Audry dengan kasar.


"Aku mau minta maaf atas perbuatanku. Aku tahu aku salah. Tapi..."


"Bagiku kau tidak lebih dari seorang pembunuh!" Marchel cepat-cepat memotong pembicaraan Audry. "Dan ingat satu hal, aku tidak menyeretmu ke penjara hanya karena ibuku ikut terlibat. Tapi begitu Sheila kembali, semuanya akan berubah. Kalau dia menginginkannya, maka aku akan menjebloskanmu ke penjara."


Tanpa banyak bicara lagi, Marchel masuk ke ruangannya dan membanting pintu dengan keras, membuat Audry terlonjak kaget. Wanita itu menghela napas panjang.


"Aku tidak akan menyerah. Suatu hari kau akan bertekuk lutut di hadapanku, Marchel."


Di dalam ruangannya, Marchel menjatuhkan tubuhnya di kursi. Meraih boneka beruang kecil yang ditemukannya di makam anaknya empat tahun lalu. Marchel meletakkan boneka itu di atas meja kerjanya, memandanginya saat sedang merindukan Sheila.

__ADS_1


"Sheila... Kau dimana, Sayang? Aku sangat merindukanmu," ucapnya seraya mengusap boneka beruang kecil itu.


****


__ADS_2