
Entahlah ini sadah kali ke berapa Tara mengelap ingusnya, gadis itu bahkan sudah tidak peduli dengan tatapan kasihan yang dilayangkan Artar.
"Meskipun Kayra nggak jadi menikah dengan mas Azmi, tapi Tara kami anggap anak sendiri kok," kata ibu. Tangannya dengan telaten mengelus lengan Tara. "Maafkan ibu ya nak, terima kasih juga kamu sudah menjadi teman baik Kayra," kata ibu lagi.
Tara menggeleng pelan. Di ruangan ini hanya ada dirinya, ibu dan Artar. Bapak sedang menjaga toko dan Azmi entah sudah kemana dengan Amel. Pasti ada lebih banyak hal yang ingin Azmi ceritakan dengan bapak dan Ibu Kayra, orang tua yang sangat pemuda itu harapkan untuk menjadi mertuanya. "Masih susah banget buat aku nerima kalo mbak Kayra udah jadi istri kak Iqbal bu," jawab Tara jujur. Ya memang sangat berat baginya, bahkan Tara sampai jatuh sakit ketika mendengar kenyataan itu. Kakak perempuan yang dia idamkan ternyata tidak jadi menjadi kakak ipar untuknya. Dirinya saja merasakan ngilu yang teramat sangat, apalagi kakaknya? Yang bahkan sudah mencintai Kayra dalam diam selama bertahun-tahun sampai akhirnya dia berani untuk jujur tentang perasaannya sendiri.
"Tapi meskipun begitu, aku juga seneng mbak Kay bahagia menikah sama kak Iqbal. Kata Kak Azmi, mbak Kayra keliatan seneng tadi," kata Tara lagi. Gadis itu memaksakan senyum dibibir merah mudanya, meskipun pada akhirnya justru terlihat aneh.
"Mas Azmi udah ketemu mbak Kay mbak?" tanya Artar. Sedari tadi dia hanya menemani ibu dan juga Tara tanpa memberikan komentar apapun.
Tara mengangkat bahunya. "Entahlah," jawab gadis itu. "Tapi yang jelas dia udah liat keadaan mbak Kay,"
"Tapi belum ketemu?" tanya Artar.
"Belum Ar," jawab Azmi yang tiba-tiba muncul, diikuti bapak yang menggandeng tangan kecil Amel. "Gue belum ada niatan ketemu sama Kayra, dan belum berani juga si," katanya. Pemuda itu tersenyum tipis dan meminum kopi yang disiapkan ibu. Dulu Kayra yang sering bikinin dia minum, kata batin pemuda itu.
"Gue mau ngomong sama bapak sama ibu," kata Azmi. "Lo bisa keluar?" tanya pemuda itu lagi.
"Gue nggak boleh denger?"
"Nggak," jawabnya singkat. "Anak kecil main aja di luar," kata Azmi lagi. "Amel ajak mbak Tara sama mas Artar main di luar ya, mas Azmi mau ngomong serius sama bapak sama ibu nih," kata Azmi yang berbicara dengan Amel dengan nada lembut.
"Mau ngobrolin mbak Kay ya?"
__ADS_1
Pertanyaan polos yang dilontarkan Amel sontak membuat lima orang dewasa di sana tercengang. Bagaimana bisa dia menanyakan hal itu pada Azmi?
"Nggak papa mas, Amel ajak mbak Tara sama mas Ar main di luar ya. Biar mas Azmi bisa ngobrolin tentang mbak Kay sama bapak sama ibu. Janji deh Amel nggak akan ngomong ke mbak Kay lagi, yang penting do'a Amel terkabul," kata anak itu lagi.
Bapak dan ibu saling pandang, begitu juga dengan Artar dan Tara yang bingung dengan apa yang katakan anak kecil itu.
"Emang Amel do'a apa sayang?" tanya ibu.
"Amel berdoa biar mas Azmi sama mbak Kay bisa kaya ibu sama bapak," katanya lagi. Tangan kecilnya terulur menarik tangan Tara dan Artar. "Yuk main di luar ajak mbak," katanya lagi. Dia sama sekali tidak tau akibat dari kalimat yang baru saja dia katakan.
*****
"Gimana mas?" tanya bapak yang duduk persis di samping Azmi. "Kamu sehat kan di Australia?" tanya bapak lagi.
"Alhamdulilah sehat pak," jawab Azmi. Jika yang bapak tanyakan perihal fisiknya, maka dia sangat baik-baik saja. Tapi dia akan memberikan jawaban yang berbeda jika bapak menanyakan batinnya. "Bapak sama ibu gimana?"
"Alhamdulillah sehat, tapi ini nih. Asam urat bapak masih sering kambuh. Batuknya juga tuh mas, susah banget dibilangin biar nggak ngerokok tapi tetep aja ngrokok. Seakan apa yang diomongin sama ibu cuma masuk telinga kanan keluar telinga kiri," kata ibu yang sedang mencoba mencairkan suasana.
Azmi terkekeh pelan. "Nggak boleh gitu dong pak, ibu khawatir banget tuh sama bapak. Emang bapak sehari ngerokok berapa batang pak?"
"Paling satu bungkus mas,"
"Wah Azmi kalah dong," kata pemuda itu terkekeh pelan. Azmi kembali menyeruput pelan kopinya, berusaha menghilangkan gerogi semenjak kepergian tiga orang yang sebelumnya juga ada disini. "Kay gimana pak Bu?" tanya Azmi.
__ADS_1
Bapak tersenyum tipis. "Gimana gimana nih maksudnya?"
Azmi kembali terkekeh, namun kali ini tawa kecilnya terdengar ngilu. "Kayra bahagia kan pak? Dia baik-baik aja kan?" tanya pemuda itu.
Ibu mengangguk kecil. "Alhamdulillah, berkat do'a mas Azmi, Kayra sehat. Dan insyaallah bahagia, meskipun hal itu hanya Kayra sendiri yang tahu,"
"Jangan terus mengingat Kayra ya mas, bapak sama ibu jadi yang nggak enak sama kamu. Kamu juga berhak bahagia dengan perempuan pilihan kamu sendiri," kata bapak. "Kamu laki-laki baik, pintar, berwawasan. Banyak perempuan baik diluaran sana yang pasti nggak akan nolak kamu," kata bapak lagi.
"Tapi nggak ada Kayra diantara mereka pak," jawab Azmi. Suaranya terdengar parau, dia hanya ingin meluapkan apa yang dia rasakan selama empat bulan terakhir ini. "Tapi Azmi sedang belajar ikhlas, Azmi sedang belajar untuk mengikhlaskan semuanya. Meskipun bapak sama ibu tau sendiri, nggak akan mudah untuk Azmi. Apalagi menemukan perempuan seperti Kayra," katanya. Dia tersenyum kecil, entah apa yang terlihat indah di depannya. "Tara udah berharap banget sama Kayra pak, tapi ternyata Azmi nggak bisa kasih kebahagiaan itu juga ke Tara," kata Azmi lagi, pemuda itu menunduk dalam.
*****
Tara menghapus air matanya yang kembali turun tanpa diminta. Disampingnya ada Artar yang terus mengelus tangannya, berusaha mengirim sedikit energi yang pemuda itu punya. Sedangkan Amel, entah sudah pergi kemana dengan teman-temannya.
"Udah mbak," kata Artar. Melihat Tara yang terus saja menangis tentu saja membuat dirinya sendiri juga bingung harus berbuat apa. "Ada yang jauh lebih sakit dari elo mbak," katanya lagi.
Tara menoleh ke arah Artar. "Kakak gue?"
Artar mengangguk kecil. "Dia mungkin lebih sakit dari elo berkali-kali lipat mbak. Kak Iqbal sahabat deket dia, mbak Acha sahabat dia. Bisa jadi dia kecewa sama mereka semua tapi dia nggak nunjukin itu di depan kita. Lo tau sendiri kan? Sepinter apa kakak lo,"
Tara mengangguk kecil. "Gue masih nggak nyangka sama semua ini. Kenapa mbak Kayra tega sama kak Azmi,"
"Mbak Kay sama kak Iqbal juga korban mbak," kata Artar yang tidak terima jika gadis di depannya mulai menyalahkan kakaknya. "Mbak Kayra juga korban, dia juga nggak tau apa-apa dan nggak punya pilihan lain disaat-saat terakhir sahabatnya," kata Artar lagi yang mulai tersulut. "Mbak Kay nggak sejahat itu buat nyakitin orang lain, dia bahkan rela nuker satu-satunya nyawa yang dua punya buat orang yang dia cintai," kata Artar lagi, sebelum meninggalkan Tara dan menyusul Amel.
__ADS_1