PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 43. ALERGI IQBAL?


__ADS_3

"Ko bisa disini Ra?" tanya Kayra bingung, kebetulan sekali mereka bisa bertemu disini. "Dari Jakarta?"


Clara mengangguk kecil. "Iya dari Jakarta Kay, kalian juga kan?"


"Iya, ini mas Iqbal tiba-tiba pengen makan disini," kata Kayra. "Meja kamu dimana? mau bareng?" tanya Kayra lagi.


Clara menggeleng pelan. "Ah nggak usah Kay, itu mamah udah nunggu disana," katanya. Matanya menyipit, melihat ke bubur ayam yang ada di hadapan Iqbal. "Kacang?"


"Eh apa Ra?" tanya Kayra bingung. Kenapa Clara tiba-tiba menyebutkan kacang.


"Mas Iqbal udah bisa makan kacang? bukannya alergi kacang?" tanya Clara.


Kayra mengerutkan kening bingung, sejak kapan Iqbal alergi kacang? kenapa pemuda itu tidak pernah bercerita padanya.


"Udah nggak alergi ya?" tanya Clara lagi. Gadis itu menangkap pandangan Iqbal yang justru fokus ke arah Kayra, kebetulan posisi duduk Iqbal dan Kayra berhadapan jadi ketika Kayra mengobrol dengan Clara dia akan membelakangi Iqbal. "Ah Kay, mas Iqbal punya alergi sama kacang," kata Clara.


"Iya mas?"


Iqbal menggeleng pelan. "Nggak kok," jawab Iqbal.


"Berarti udah hilang ya alerginya?" tanyanya.


Kening Kayra semakin berkerut, tidak paham dengan situasi yang sedang terjadi sekarang. Kenapa Clara mengatakan Iqbal memiliki alergi terhadap kacang? sedangkan pemuda itu tidak mengatakan hal demikian.


"Nggak Ra, emang udah nggak alergi," kata Iqbal. "Sejak gue nikah sama Acha juga udah suka makan kacang," kata pemuda itu lagi. Dia mungkin sedang berbicara pada Clara, tapi pandangannya tidak lepas dari istrinya yang terlihat murung. "Itu kan dulu Ra, sekarang udah beda," kata Iqbal lagi. Seakan memperjelas pada Clara bahwa dirinya yang dulu berbeda dengan dirinya yang sekarang.


Clara berdehem pelan. "Ah iya bener," kata gadis itu salah tingkah. "Kalo gitu gue balik ke mamah ya Kay, mas," kata Clara. "Mari pak, Bu," kata Clara sopan.


Kayra terus memperhatikan punggung Clara sampai menjauh, meja mereka cukup jauh. Tapi kenapa Clara bisa tau jika mereka sedang berada disini? ah ya mungkin gadis itu paham no polisi mobil milik suaminya.


"Kay?"


"Iya?"


"Dimakan, nanti dingin nggak enak," kata Iqbal lagi.


Kayra tersenyum kecut, gadis itu kembali duduk di kursinya. Mood makannya sudah hancur hanya dengan satu kalimat yang dilontarkan Clara. Padahal Clara sama sekali tidak mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya, gadis itu justru berniat baik, mengingatkan Iqbal meskipun menurut pemuda itu dia sudah tidak memiliki alergi terhadap kacang.


"Kenapa?" tanya Iqbal lembut.

__ADS_1


Kayra menggeleng pelan. " Nggak mas, nggak papa,"


"Mas saya ngajak Raissa jalan-jalan dulu ya," kaya bi Surti, peka terhadap majikannya yang terlihat sedang tidak baik-baik saja. "Ayok pak Kusnan,"


"Eh saya juga ya bi?" tanyanya yang di balas delikan oleh BI Surti.


Iqbal mengambil tangan Kayra yang tergeletak di meja begitu saja. "Jadi kenapa?" tanya Iqbal. "Kamu marah gara-gara Clara masih inget hal kecil tentang aku?"


"Tapi itu bukan hal kecil buat aku mas," kata Kayra.


"Tapi bagi aku itu bukan apa apa Kay,"


"Itu penting mas, masalah alegri itu bukan hal sepele. Kalo ternyata kamu emang punya alergi itu dan nggak cerita sama aku terus aku masak sesuatu yang mengandung kacang gimana?"


"Ya nggak gimana-gimana," jawab Iqbal santai. "Aku udah nggak ada alergi itu Kayra, aku udah nggak ada alergi sama apapun,"


"Tapi tetep aja loh mas,"


"Tetep apa?" tanya Iqbal, pemuda itu tiba-tiba tersenyum meledek. "Atau jangan-jangan kamu cemburu ya?" tanya Iqbal lagi.


Kayra mencibir pelan. "Dih apaan si,"


"Iya maaf maaf," kata Kayra. "Tapi bener loh mas,"


"Bener,"


"Bener apa emang?"


"Bener kalo aku nggak ada alergi sekarang," kata Iqbal yakin.


"Serius ya? kamu kalo ada alergi sama sesuatu bilang sama aku," kata Kayra. "Aku nggak mau karena aku yang kurang informasi jadi membahayakannya anak orang,"


"Kok anak orang?"


"Kan kamu anak bunda," jawab Kayra polos. "Ah udah ah aku mau nyusul bi Surti sama pak Kusnan,"


Iqbal mencegah Kayra yang sudah ingin beranjak dari duduknya. "Nggak usah, biar aku telfon pak kusnan aja. Kamu makan aja, aku nggak mau nanti anak aku kurus gara-gara ibunya males makan," kata Iqbal.


Lagi, hari Kayra terasa hangat. Iqbal selalu menyebut anak yang ada dalam kandungannya ini adalah anak pemuda itu.

__ADS_1


*****


"Kenapa elo nggak datengin kak Bima sendiri si kalo emang kepo?" tanya Tara. Dia juga cukup curiga dengan gerak gerik Bima di rumah Iqbal, pasalnya rumah mereka terlihat kosong, bahkan pak Kusnan juga tidak ada di sana. Tapi disisi lain dia juga tidak ada firasat buruk tentang Bima. "Masih mau disi?" tanya Tara lagi, karena mereka sudah lebih dari satu jam berada di depan rumah Kayra.


"Bentar lagi Ta,"


"Kenapa elo bisa curiga sama kak Bima si? setau gue dia bukan tipe orang yang mau mencelakai orang lain," kata Tara lagi.


"Gue pernah menyelidiki dia," kata Azmi. "Sama Kayra,"


"So?"


"Sejauh ini dia yang terlihat paling mencurigakan,"


"Bukti apa yang lo dapet?"


"Banyak," jawab Azmi. "Tapi sayangnya ilang pas gue diculik,"


Tara mengacak rambutnya frustasi, dia masih belum paham dengan jalan pikiran Azmi. Padahal dia juga tidak kalah pintar dari kakaknya. "Gue masih belum ngerti," kata Tara.


"Emang belum saatnya lo ngerti Ta," kata Azmi, "Tapi nanti pasti ada saatnya elo ngerti sama apa yang gue lakuin sekarang," kata Azmi lagi. Pemuda itu menyalakan mobilnya, berniat untuk meninggalkan tempat. "Dia picik banget Ta, bisa berubah-ubah target. Dulu yang dia incar Clara, terus Acha dan akhirnya dia menculik Kayra,"


"Dan sasaran dia sekarang Kayra?"


"Ya, it can be. Bisa Kayra, bisa bang Iqbal," kata Azmi. "Bisa gue dan bisa juga elo," lanjutnya pelan.


Tara melebarkan matanya kaget. " Ko gitu? gue kan nggak tau apa-apa," kata gadis itu lagi. "Lo lagi becanda kan?"


"Enggak Kay, kalo nggak percaya silahkan elo tanya Artar,"


"Artar?" tanya Tara bingung. Kenapa sekarang jadi nyambung ke Artar. "Ke apa Artar? Artar adiknya mbak Kay kan?"


"Iya Artar yang elo kenal," kata Azmi. "Gue sama Artar udah nyelidikin Bima sejak Kayra si culik, tapi seakan dia tau dia lalu pindah ke luar negeri lagi. Dan selama itu juga nggak ada hal buruk yang terjadi sama kita, terus tau-tau dia balik ke sini. Semua seakan dimulai lagi, sebelum dapet bueqet itu gue juga pernah dapet pesan misterius. Dan kayra juga pernah dapet paket seakan dia lagi diawasin," kata Azmi.


"Bentar," kata Tara. Masih ada kalimat Azmi yang belum dia bisa pahami. "Jadi bueqet itu bukan dari temen lo? bueqet yang di Jogja dulu kan? yang setelah elo nerima itu elo langsung batalin acara lo terus pergi entah kemana," kata Tara.


"Iya yang itu,"


"Isinya apa emang?"

__ADS_1


"Lo nggak usah tau isinya apa, gue yakin lo nggak akan kalo sampe lo tau,"


__ADS_2