PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 45. SUAMI MANJA


__ADS_3

"Kok bisa sampe kaya gini si mas?" tanya bunda, meja bertiga datang subuh-subuh ke rumah Iqbal dan Kayra. "Dicari dong yah siapa pelakunya," kata bunda lagi.


"Dicari gimana orang anaknya juga nggak mau kok," kata Ayah yang masih fokus mengecek keadaan Iqbal. "Ini untungnya nggak papa, pulangnya beneran bawa mobil sendiri mas? kenapa nggak ke rumah sakit ayah aja si?"


"Kan pengen cepet-cepet ketemu istri yah," kata Iqbal. "Awh," rengek pemuda itu ketika mendapatkan cubitan di perutnya. "Emang bener kok, Kayra lebih jago dari ayah sama Shilla,"


"Ya ya ya," jawab Shilla malas. "Ponakan gue lagi di rumah Abah ya?"


"Iya Shill, kemaren siang umi sama Abah mampir. Sekalian mau ngajak Raissa jalan-jalan dulu hari ini,"


"Kamu itu lain kali hati-hati mas kalo nyebrang, udah mau punya anak dua nyebrang kok nggak liat kanan kiri. Kaya anak TK aja," kata bunda kembali mengomeli Iqbal. "Tapi ini beneran nggak papa kan?"


"Nggak papa bunda," kata ayah. "Ini nggak perlu sampe di rawat kok. Di rawat di rumah malah lebih cepet sembuh," kaya ayah penuh arti.


"Kalo rewel jitak aja Kay," kata bunda. Mereka sudah bersiap lagi untuk pergi. "Tadinya bunda pengen lama disini, tapi nggak bisa soalnya harus nemenin ayah ke Surabaya,"


"Shilla ikut?" tanya Kayra.


Shilla menggeleng pelan. "Nggak, gue mau numpang tidur disini aja,"


"Dih ngapain?" tanya Iqbal. "Ah lo mah ganggu gue aja," kata pemuda itu lagi.


"Lah emang kalian berdua mau ngapain?"


"Anak kecil nggak perlu tau ya," ledek Iqbal. "Kay," panggil Iqbal pelan namun masih bisa didengar oleh empat orang yang ada disana. "Tolong," katanya lagi sambil mengulurkan tangan kanannya.


"Dihhh," Shilla pura-pura muntah. "Jijik banget gue," katanya lagi.


Kayra meringis pelan, gadis itu merasa salah tingkah sendiri dengan kelakuan suaminya. "Anak bunda kalo lagi sakit emang semanja ini ya?" tanya Kayra.


*****


"Kay mau kemana?" tanya Iqbal.


"Ke dapur," jawab Kayra. Mereka berdua sedang bersantai di depan televisi, meskipun sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Ngapain?"


"Ambil minum mas,"

__ADS_1


"Nanti duduk sini lagi ya," kata pemuda itu lagi.


Kayra menggelengkan kepalanya, benar-benar tidak habis pikir dengan Iqbal. Bagaimana bisa pemuda itu berubah menjadi seperti anak TK begini? oke Kayra juga tau jika dia sedang sakit, tapi tangan kanannya tidak separah itu. Dia masih bisa makan sendiri, masih bisa ambil baju sendiri, dan kakinya. Kakinya juga tidak begitu parah karena bukan telapak kaki yang terluka, jadi dia masih bisa jalan dengan baik kan seharusnya. Dia juga sama sekali tidak mengalami patah tulang, tapi pemuda yang sedang asik membaca jurnal mahasiswa itu malah memanggil manggil namanya, dan tidak pernah mau jika ingin dibantu pak Kusnan.


"Nggak ah aku mau ke kamar,"


"Yahh, kalo gitu aku ikut ya," katanya sudah siap-siap untuk berdiri. "Bantuin," kata Iqbal lagi.


Kayra menghela nafas panjang. "Nggak nggak, duduk aja aku cuma mau ambil minum," kata Kayra akhirnya.


Ada saja drama Iqbal hari ini, belum lagi ketika malam hari. Kayra yang sudah ingin memejamkan matanya akhirnya membuka matanya kembali.


"Kenapa mas?" tanya Kayra lembut.


"Pinjem tangannya," kata Iqbal.


Meskipun Kayra bingung tapi gadis itu tetap mengulurkan tangannya. "Kan kamu punya tangan sendiri, kenapa pinjem tangan aku?" tanya gadis itu. Belum dia mendengarkan jawaban Iqbal, apa yang dilakukan pemuda itu membuat pipinya merah merona.


Iqbal mengelus pipinya sendiri menggunakan tangan Kayra, dia menggunakan tangan Kayra untuk mengusap pipinya yang memar-memar.


"Biar cepet sembuh," katanya dengan wajah tanpa dosa. "Apalagi kalo dikasih kiss sama istri, pasti besok udah baikan deh," kata Iqbal lagi. Namun satu detik berikutnya pemuda itu harus merelakan tangan halus istrinya.


*****


Iqbal menggeleng pelan. "Mana inget gue," katanya.


Bima datang ke rumahnya setelah tiga hari kejadian, sedangkan warga komplek berbondong bondong datang satu hari setelah kejadian Iqbal kecelakaan.


"Tapi aman kan? nggak ada patah tulang atau gagar otak?" tanya Bima lagi.


Iqbal menggeleng pelan. "Nggak lah, cuma luka luka ringan aja, padahal laku motornya kenceng loh. Gue sendiri heran kok nggak ada luka serius gitu," kaya Iqbal jujur.


"Ya emang lo mau kalo sampe patah tulang?"


"Ya nggak juga si, tapi aneh aja gitu" kata Iqbal. "Tapi ini mungkin karena do'a istri kali ya,"


Bima terkekeh pelan. "Ko bisa si cowok kaya elo dapetin yang modelan kaya Acha sama Kayra?" kata Bima penasaran. "Padahal gue tau banget gaya pacaran lo sama Clara dulu gimana," katanya lagi.


Iqbal meminum kopinya. "Namanya jodoh," kata pemuda itu pelan."Gue juga nggak tau bisa dapet istri sebaik mereka berdua Bim,"

__ADS_1


"Nggak ada amalan khusu gitu?"


Iqbal terkekeh geli. "Amalan apaan?" tanya Iqbal. "Amalan nyokap gue noh yang ada,"


"Yah gue udah nggak punya nyokap Bal," jawab Bima sekenanya.


"Kan ada nyokapnya Clara,"


"Kan tetep beda bro," kata Bima. "Lo serius nggak paham sama nomor polisinya? atau motornya deh yang kaya apa, pengendaranya juga. Masa lo nggak tau apa-apa si?"


"Emang gue nggak tau Bim, lagian abis ditabrak ya gue nggak mikirin lain-lain,"


"Kalo gini ya nggak bisa diproses Bal,"


"Emang nggak mau gue proses,"


"Kenapa?" tanya Bima bingung.


"Ini salah gue juga Bim, gue yang nggak hati-hati,"


"Tapi kan seenggaknya dia ada itikad baik sama elo, berhenti dulu kek gitu. Minta maaf sama elo, bukan main pergi gitu aja," kata Bima.


"Nggak papa gue takut aja ternyata dia tulang punggung keluarga tapi harus kena masalah gara-gara hal sepele kaya gini,"


"Ah lo mah terlalu baik,"


"Nggak gitu juga," Iqbal terkekeh pelan. "Nggak tau deh gue nggak ada niatan mau nuntut dia macem-macem. Entah kenapa gue malah takut gitu kalo dia berhenti dia malah yang disalahin sama orang-orang disana,"


"Gila si, tapi kalo gini masuknya tindak kejahatan nggak si? kan elo nggak tau apa dia emang bener nggak sengaja atau emang dia sengaja buat nabrak elo," kata Bima.


"Gue nggak ada pikiran kesana si," jawab Iqbal jujur.


"Iya deh iya, susah emang kalo ngomong sama orang baik," kata Bima akhirnya. "Eh ngomong-ngomong adek lo udah ada calon belum?"


Iqbal menyipitkan matanya mendengar apa yang dikatakan Bima. "Kenapa?" tanya pemuda itu curiga. "Jangan bilang lo mau macarin adek gue,"


"Nggak," kata Bima. Tawa pemuda itu pecah. "Temen gue ada yang nitip salam buat adek lo, katanya ketemu pas di rumah sakit, tapi mukanya jutek makanya dia nggak berani nyapa,"


"Ko temen lo tau kalo lo juga tau Shilla?"

__ADS_1


__ADS_2