PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 36. KEDATANGAN CLARA


__ADS_3

"Titip salam buat bapak sekeluarga ya mas," kata bapak Kayra sebelum Azmi benar-benar masuk ke mobilnya. "Apa kata mbah Imam tadi nggak usah diambil hati, emang orangnya seneng guyon kok," lanjut bapak lagi, takut jika Azmi berpikiran yang tidak-tidak dengan mbah Imam.


Azmi tersenyum, pemuda itu menganggukkan kepalanya pelan. "Iya pak, nggak kok. Kalo gitu Azmi pulang dulu ya pak," kata Azmi lagi. Kebetulan Iqbal dan Kayra sudah di kamar gadis itu, sedangkan Artar sedang mengantar ibunya ke rumah salah satu warga yang anaknya mau menikah besok.


"Hati-hati di jalan ya,"


Dibalik kemudinya Azmi menganggukkan kepalanya, pemuda itu lalu membunyikan klakson sebelum benar-benar pergi meninggalkan pekarangan rumah Kayra.


"Bapak nggak tanya apapun sama kamu Kay?" tanya Iqbal pada Kayra yang sedang menidurkan Raissa.


"Tanya apa?"


"Tanya kenapa kamu pulang ke rumah tapi nggak sama aku,"


"Tanya kok,"


"Terus?"


"Terus ya aku jawab kalo kamu nggak bisa," jawab Kayra.


"Kay kamu masih marah sama saya ya?"


Kayra mengerutkan keningnya. "Kenapa?"


"Nada bicara kamu kaya kamu masih marah,"


Kayra membetulkan bantalnya, gadis itu tidur sambil memeluk tubu kecil Raissa. "Bukannya aku emang kaya gini ya?" tanya gadis itu.


"Saya benar-benar nggak ada niatan untuk itu Kay,"


"Iya pak, aku juga tau kok. Udah ya nggak usah dibahas lagi, lupain aja apa yang udah lewat," kata Kayra. "Kamu tidur aja, besok harus ke kampus kan? jarak ke kampus dari rumah lumayan loh pak,"


"Makasih banyak ya Kay,"


"Aku yang harusnya berterima kasih sama pak Iqbal, kalo yang nikah sama aku bukan pak Iqbal pasti aku udah di cerai di hari orang itu tau aku lagi hamil anak orang," kata Kayra. "Terima kasih banyak ya udah mau menerima aku dan anak aku," kata Kayra tulus.


*****


Clara mengaduk minumannya, sudah sejak tiga puluh menit yang lalu gadis itu menunggu sang Kaka di sebuah cafe yang cukup terkenal di daerah ibu kota. Berkali-kali juga dia mengecek telepon genggamnya, mencoba memastikan jika kakaknya akan datang kesini.


Clara menggerakkan tangannya di kaca jendela cafe, cuaca di Jakarta sedang tidak mendukung beberapa hari terakhir ini. Hampir setiap hari hujan, membuat beberapa wilayah juga harus terendam banjir.


Gadis itu menghela nafas pelan, mencoba berfikiran positif. "Kalo sampe lima belas menit lagi dia nggak sampe juga, gue nggak ada pilihan lain selain pergi," kata Clara. Dia sudah meninggalkan putranya cukup lama.


"Sorry sorry," Bima datang dengan kemeja dan rambut yang sudah basah. "Macet banget jalannya," katanya lagi.

__ADS_1


"Duduk dulu deh," kata Clara. "Emang nggak bawa payung apa?" tanya gadis itu lagi, pasalnya karena cafe lumayan rame, jadi pasti Bima memarkir mobilnya cukup jauh dari sini.


"Nggak ada di mobil," kata Bima. "Eh udah pesan ya?"


Clara mengangguk kecil. "Lo mau pesen apa?"


"Americano aja,"


"Makannya?"


"Makannya nanti aja nyusul," jawab Bima, pemuda itu sudah duduk tenang di depan Clara kini. "Jadi gimana? bener mau pindah ke Jakarta aja?" tanya pemuda itu.


Clara mengangguk kecil. "Udah aman kan?" tanya gadis itu. "Mamah juga udah nggak betah disana, dan kita juga udah ngerasa aman,"


Bima berdehem pelan. "Mau tinggal dimana? di apartemen gue mau?" tanya Bima. "Atau mau nempatin rumah yang dulu?"


Clara menggelengkan kepalanya. "Mamah nggak mau nempatin rumah yang dulu,"


"So?"


"Ngontrak aja kali ya?"


"Mau dimana? kenapa nggak pakai apartemen gue aja? kan itu punya lo juga," kata Bima lagi. Hubungan mereka berdua semakin membaik sejak kepindahan Clara ke Jogja. "Sekarang tinggal dimana?"


"Nyewa rumah,"


"Kak?"


"Hm?"


"Iqbal baik-baik aja kan?"


Bima mengerutkan keningnya. "Kenapa elo tiba-tiba nanyain Iqbal?"


Clara tersenyum tipis. "Gue nggak boleh nanyain dia ya?"


"Aneh aja," jawab Bima. Pemuda itu mengangguk kecil pada waiters yang mengantarkan kopinya. "Kenapa nggak nanya keadaan Kayra? atau Azmi?"


"Kayra udah pasti baik,"


"Kenapa lo seyakin itu?"


"Karena dia punya Azmi yang bisa jaga dia dengan baik," jawab Clara pelan.


Bima memperhatikan adiknya lekat-lekat. "Lo masih belum bisa move on dari Azmi Ra?"

__ADS_1


Clara mengangkat alisnya, gadis itu berdehem pelan. "Nggak juga si," katanya. "Gue udah nggak ada rasa sama siapapun kak, udah flat aja gitu. Yang gue pikirin ya sekarang anak gue sama mamah aja,"


Bima menggigit bibir bawahnya, dia ingin sekali menanyakan hal ini. Tapi takut akan menyinggung perasaan Clara.


"Kenapa?"


"Hem?" Bima mengerutkan keningnya. "Apanya?"


"Lo mau tanya sesuatu kan sama gue?"


Pemuda itu menarik nafas pelan. "Tapi lo janji nggak akan marah sama gue kalo gue tanya ini ya,"


"Nggak yakin si," kata Clara. "Kalo gue nggak mau jawab itu hak gue kan?"


"Iya it's okay itu hak lo," kata Bima. Pemuda itu memajukan tubuhnya lebih dekat dengan Clara. "Apa mamah Amel udah tau siapa ayah dari anak lo?" tanya Bima hati-hati.


Clara menggeleng pelan. "Gue nggak tau dia tau atau enggak, tapi yang jelas dia nggak pernah mempertanyakan siapa ayah dari anak gue,"


"Lo nggak mau jujur sama mamah?"


"Buat apa?" Clara mencibir pelan. "Mamah udah melalui banyak hal, dan baru beberapa bulan ini kondisi kesehatan dia membaik. Dia juga udah bisa jalan-jalan, udah seneng. Jadi buat apa gue rusak kebahagiaan mamah hanya dengan satu fakta itu,"


"Terus nanti kalo anak lo tanya? kan dia pasti bingung kenapa temen-temennya punya ayah tapi dia enggak,"


"Masalah itu biar dipikirin nanti, yang paling pentin sekarang adalah kebahagiaan mamah dan anak gue,"


Bima mengangguk paham, dia tahu betul apa yang sudah dilalui Clara dan ibu tirinya bukanlah suatu hal yang mudah. Dan dia juga salah satu orang yang ikut andil membuat keluarga Clara menjadi berantakan seperti sekarang ini.


Bima menghela nafas pelan. "Pulang naik apa?"


"Naik ojek paling,"


"Sama gue aja sekalian, biar gue tau dimana tempat tinggal lo,"


Clara menggeleng pelan. "Nggak usah, gue ada janji lain sama temen gue,"


"Siapa?" tanya Bima , pemuda itu mengerutkan keningnya.


Clara tertawa pelan. "Lo nggak perlu tau kali kak, kan nggak semua temen gue juga elo tau,"


"Tapi temen lo yang mana?" tanya Bima, kali ini wajahnya sedikit panik. "Lo udah nggak berhubungan sama orang-orang itu kan Ra?"


"Mereka orang baik ko kak," kata Clara. "Lo aja yang Nandang mereka cuma dari satu sisi,"


"Jadi lo mau ketemu sama mereka?"

__ADS_1


"Bukan," jawab Clara penuh arti.


__ADS_2