
Kayra berusaha keras memejamkan matanya, sore tadi setelah beberapa menit mereka sampai di rumah setelah dari Bogor, Iqbal meminta izin untuk menemui temannya. Sedangkan sekarang sudah lebih dari jam sembilan malam dan pemuda itu sama sekali belum menunjukan batang hidungnya.
Kayra mendudukkan dirinya, dia sudah mengirim pesan pada Iqbal untuk tidur terlebih dahulu, tapi pikirannya sama sekali belum tenang jika belum melihat Iqbal.
Kayra kembali berdiri, gadis itu berdiri di depan jendela. "Ini mas Iqbal kemana si? kenapa nggak kasih kabar, di telfon juga nggak ada balasan," keluh gadis itu.
"Assalamualaikum Shill," sapa Kayra. Dia akhirnya memutuskan untuk menelfon adik iparnya, barangkali Iqbal memberi kabar kepada Shilla atau bundanya.
"Waallaikumsallam mbak, gimana?" tanya Shilla.
"Mas Iqbal ada kasih kabar ke lo nggak?" tanya Kayra.
"Kabar?" tanya Shilla bingung. "Kabar apa?"
"Dia nggak ada chat lo Shill?" tanya Kayra lagi. Nada suaranya terdengar sangat panik kini.
"Kabar apa si? sini cerita dulu," kata Shilla.
"Tadi sore mas Iqbal pamit keluar, katanya mau ketemu sama temennya. Tapi udah jam segini belum pulang eh Shill, masalahnya di telfon di chat juga ngga ada jawaban,"
"Bentar mbak bentar," kata Shilla. "Ini perginya kemana dulu nggak ngomong dia?"
Kayra menggeleng pelan, meskipun Shilla juga tidak bisa melihat dirinya. "Nggak Shill,"
"Mungkin bentar lagi pulang mbak, lo jangan panik gitu eh gue juga ikutan panik jadinya ini,"
"Terus gimana dong?"
"Ditunggu dulu sampe jam sepuluh mbak kalo belum kasih kabar juga nanti gue bilang ke ayah. Soalnya nggak enak bilang ayah sekarang, ayah lagi operasi soalnya,"
Kayra berusaha mengatur nafasnya. "Sorry ya Shill jadi buat lo khawatir juga, padahal ini mungkin cuma gue yang parnoan aja,"
"Nggak papa mbak, lo jangan panik jangan gegabah. Kalo ada apa-apa kabarin gue, eh ada pak Kusnan kan?"
"Ada kok, thanks ya. Assalamualaikum,"
"Waallaikumsallam,"
Telefon ditutup dan Kayra kembali merasakan takut yang sempat hilang ketika dia mengobrol dengan shilla berusan.
Katakanlah dia lebay, tapi perasaannya saat ini benar-benar tidak bisa digambarkan. Dia merasa takut, sedih, marah semuanya bercampur jadi satu. Marah kenapa Iqbal tidak mengajak pak Kusnan ikut turut serta pemuda itu.
"Tok tok tok,"
__ADS_1
"Mbak Kay,"
Panggilan bi Surti membuat Kayra bergegas membukakan pintu. "Kenapa bi?"
"Mas Iqbal mbak,"
"Kenapa mas Iqbal?" tanya Kayra, raut cemas sudah tidak bisa dia sembunyikan lagi. "Mas Iqbal udah pulang bi?"
"Mas Iqbal di bawah mbak," kata Bi Surti. "Mas Iqbal kecelakaan mbak Kay,"
"Inalillahi," tubuh Kayra terhuyung ke belakang. Mendadak tubuhnya seakan kehilangan penopang, lemas.
"Nggak parah kok mbak, mbak Kay ditunggu dibawah. Mas Iqbal nggak mau diobatin sama bibi," kata bi Surti lagi, menggandeng tangan kiri Kayra.
Kayra menghapus air matanya, padahal dia belum menunggu Iqbal sampai jam sepuluh malam seperti apa yang dikatakan oleh Shilla. Tapi suaminya itu sudah pulang dengan keadaan luka-luka.
Di kursi depan televisi, dilihatnya Iqbal yang sedang memejamkan mata. Seolah dengan memejamkan mata akan sedikit mengurangi rasa nyerinya.
"Mas," panggil Kayra.
Pemuda itu tersenyum, melambai ke arah Kayra. Mengisyaratkan gadis itu untuk duduk disampingnya. "Sini Kay," katanya.
Kayra menurut. "Bi tolong bawain handuk kecil, air hangat sama p3k ya," kaya Kayra sebelum duduk disamping Iqbal.
Iqbal terkekeh pelan, sedangkan Kayra mengerutkan kening. Bagaimana dia masih bisa tertawa tampan sedangkan wajah, tangan dan kakinya luka-luka.
"Aku lagi nggak ngelucu mas, nggak usah ketawa,"
"Ohh jadi lagi marah?" ledek Iqbal.
"Ceritain dulu ini kenapa bisa kaya gini," kata Kayra.
"Nggak papa Kay, aku yang kurang hati-hati,"
"Kamu kan pakai mobil kok bisa si lukanya sampe kaya gini?" tanya Kayra.
Iqbal mengelap ingus Kayra dengan punggung tangannya yang bersih tanpa luka. "Namanya musibah Kay,"
"Kronologinya gimana?"
"Aku mau nyebrang, terus ternyata ada motor kenceng banget. Ya udah akhirnya aku ketabrak, dan motornya pergi gitu aja,"
"Terus ko kamu bisa sampe rumah?"
__ADS_1
"Emang sampe mana lagi kalo nggak sampai rumah Kay?" kata Iqbal, pemuda itu mengerlingkan matanya. Ternyata betul keputusannya untuk langsung pulang dan tidak di obati di rumah sakit milik ayahnya meskipun jaraknya terhitung lebih dekat dibanding dari rumahnya.
"Mas ihh,"
"Iya awalnya orang-orang yang nolongin mau nganter ke klinik deket sana ada juga ibu-ibu yang menawarkan diri buat ngobatin," kata Iqbal. Tangannya terulur mengusap pipi Kayra, masih terasa basah akibat gadis itu yang menangis barusan. "Tapi aku tolak, kalau aku terima pasti kamu bakalan nunggu aku lebih lama lagi dan aku pikir akan lebih baik kalo aku langsung pulang dan diobatin sama kamu," bibirnya melengkung ke atas. "Ternyata keputusan aku nggak salah, dengan liat kamu gini rasa nyeri itu sedikit demi sedikit juga ilang,"
"Gombalnya udah dulu, lukanya diobatin dulu mas," kata bi Surti yang datang membawa nampan berisi air hangat dan handuk kecil. "Butuh apa lagi mbak Kay?"
"Tolong teh hangatnya bi," kata Kayra.
"Di kamar aja yuk kay," kata Iqbal pelan.
"Kenapa?"
"Kayaknya enak di kamar biar bi Surti nggak nguping,"
Kayra menabok pelan paha Iqbal, membuat pemuda itu merintih sakit. "Diem dulu," kata Kayra.
"Shhh," rintih pemuda itu lagi ketika Kayra membersikan lukanya menggunakan alkohol.
Kayra menggigit bibir bawahnya. "Sakit banget ya?" tanya gadis itu polos.
Iqbal mengangguk kecil. "Sedikit," jawabnya.
Akhirnya, setelah menimbang cukup lama Kayra mengambil satu tangan Iqbal, lalu diletakkan di atas tangan kirinya. "Remas tangan aku aja kalo sakit," katanya. "Seenggaknya nggak cuma kamu yang ngerasain sakit," kata gadis itu.
*****
Kayra melirik pelan ke arah Iqbal yang sudah terlelap dalam tidurnya. Gadis itu kemudian mengambil ponselnya, mengangkat telfon dari Shilla yang menanyakan keadaan kakaknya.
"Udah pulang Shill," kata Kayra. "Dia pulang dengan tubuh yang luka-luka,"
"Ha?" teriak Shila diujung sana. "Kok bisa?" tanyanya lagi.
"Nyebrangnya nggak liat-liat Shill, tau-tau ada motor lajunya kenceng akhirnya ke tabrak deh,"
"Parah dong? apa aja yang luka? sampe patah tulang nggak? jangan-jangan gagar otak mbak?"
"Belum dicek sampe kesana si, tapi dia bisa nyetir sendiri sampe rumah,"
"Kok bisa si?" kata Shilla yang heran sendiri. "Padahal dia bukan tipe orang yang ceroboh sama keselamatan sendiri loh mbak,"
Kayra diam sebentar, dia juga memikirkan hal itu. Iqbal bukan tipe orang yang ceroboh akan keselamatannya sendiri, dan yang membuat Kayra makin bingung adalah pelaku yang tiba-tiba pergi tanpa meminta maaf kepada Iqbal. Meskipun disisi lagi dia juga berharap ini hanyalah kecelakaan biasa, dan pelaku takut jika akan dibawa ke kantor polisi.
__ADS_1