PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 26. RAJA YANG GUGUR


__ADS_3

"Jadi pernikahan Bima sama Clara batal?" tanya Kayra ketika Azmi sudah meninggalkan rumah mereka.


Iqbal mengangguk kecil. "Tadi Shilla telfon saya, katanya Tara udah cerita semuanya ke dia,"


"Terus?"


Iqbal menegakkan punggungnya. "Nanti Shilla yang cerita ya, itu orangnya udah dateng," katanya lagi.


Dan benar apa yang dikatakan pemuda itu, Shilla berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Iqbal dan Kayra yang ada di ruang televisi.


"Bentar gue minum dulu," kata Shilla, dia sudah tau apa yang akan ditayangkan Kayra padanya.


"Jadi gimana?" tanya Kayra.


Shilla datang dan duduk di tengah-tengah mereka. Gadis itu menarik nafas panjang. "Kalian berdua jangan kaget ya," kata Shilla.


Kayra dan Iqbal kompak menganggukkan kepalanya. "Cerita aja,"


"Tadi Tara nelfon gue, tapi gue nggak langsung angkat karena lagi nemenin ayah rapat. Dan dia cerita kalo beberapa jam sebelum akad dimulai Azmi ngeluh, dia ragu sama keputusan yang udah dia ambil sendiri," kata Kayra. "Tara juga nggak bisa ngapa-ngapain kan, karena yang ngejalanin juga kakaknya sendiri. Dia juga takut kalau pernikahan itu dilanjutkan nanti Clara yang akan jadi korbannya," jelas Shilla lagi. "Dan anehnya lagi, pas Tara cerita ke Clara kalo Azmi membatalkan sepihak pernikahan mereka, Clara nggak ada kaget-kagetnya. Ya kita nggak tau ya dia emang bener biasa aja atau dia cuma nyembunyiin semuanya, karena ya Tara sama Clara juga nggak begitu kenal kan?"


"Dan elo belum tau kalo tadi Azmi kesini?" tanya Iqbal.


Kayra menoleh ke arah pemuda itu, gadis itu mengisyaratkan agar Iqbal tidak mengatakan apa yang terjadi tadi sore


"Ngapain?" tanya Shilla bingung. Pasalnya Tara tidak cerita bagian itu, dan bisa jadi Tara juga tidak tahu menahu jika kakaknya mengunjungi rumah Iqbal dan Kayra.

__ADS_1


Iqbal melirik Kayra sebentar. "Dia masih belum bisa lupain Kayra," jawab Iqbal apa adanya, tanpa mengatakan yang sejujurnya.


Kayra memejamkan matanya, gadis itu menghela nafas pelan. "Sebelum memutuskan untuk menikah sama Clara dia juga udah kesini dulu Shill. Entah apa maksudnya dia, yang jelas dia menceritakan semuanya ke gua dan dari kalimatnya itu terdengar kalo dia emang bener-bener serius sama Clara," kata Kayra menjelaskan. "Waktu itu pas pak Iqbal belum pulang, tapi akhirnya kalian ketemu kan?" tanya Kayra lagi.


Iqbal mengangguk kecil. "Iya ketemu, dia kesini mau mematikan keadaan kamu aja. Sampai akhirnya dia yakin kalo keputusan dia menikahi Clara adalah keputusan yang terbaik. Terlepas dia menjadikan Clara sebagai pelampiasan atau enggak, kita nggak tau,"


"Terus keadaan Clara gimana sekarang Shill?"


"Kata Tara dia baik, Tara juga masih nemenin dia disana. Tapi mungkin nyokapnya yang syok ya, ya kita tahu lah Azmi juga udah deket sama nyokap dia kan?"


"Bapak sama ibu juga masih disana?" tanya Kayra lagi.


Shilla kembali menganggukkan kepalanya. "Kata Tara Azmi emang nggak begitu dekat sama orang tuanya, dia justru deket sama bapak sama ibu. Tapi meskipun begitu ternyata apa yang disarankan bapak sama sekali nggak diterima sama Azmi," jelas Shilla lagi.


"Tapi kenapa bapak nggak ngomong apa-apa ke gue?" tanya Kayra bingung. "Sama kamu ngabarin nggak pak?" tanya gadis itu pada suaminya.


"Tapi gue khawatir sama Clara deh Shil," kata Kayra mengabaikan candaan Shilla padanya. "Apa kita ke Jogja aja ya?"


Iqbal menggelengkan kepalanya, dia dengan tegas menolak ajakan Kayra. "Nggak," katanya. "Jangan dulu," lanjutnya lagi.


"Kenapa?" tanya Shilla bingung.


"Kita nggak tau penyebab Azmi batal menikahi Clara karena apa, tapi kalo emang bener karena dia belum bisa lupain Kayra Clara pasti akan punya sedikit rasa kurang suka sama Kayra," kata Iqbal. "Meskipun itu belum tentu benar, tapi lebih baik jangan dulu. Kita tunggu dulu kabar dari Tara aja, dengan adanya bapak sama ibu di sana juga udah lebih dari cukup," kata Iqbal lagi.


Shilla menjentikkan jarinya ketika dia ingat apa yang dikatakan Tara sebelum gadis itu menutup telfon. "Kata Tara Azmi langsung pergi setelah di dapet bunga,"

__ADS_1


"Bunga?" Kayra mengerutkan keningnya bingung. "Bunga apa?"


"Bunga biasa, entah apa yang ada di card itu. Tara nggak baca, dan cuma Azmi yang baca. Terus dia langsung pergi gitu aja dan nitipin Clara ke Tara,"


Kayra dan Iqbal saling pandang. Bisa jadi Azmi tau kabar kehamilannya dari surat yang dia dapat itu. Tapi apa tujuan orang itu memberi tau Azmi sekarang? Disaat semuanya sudah lebih baik dari sebelumnya.


"Apa itu teror yang dulu?" tanya Shilla dengan pandangan yang menyelidik.


*****


"Lo ko bego si," kata Alvin. Pemuda itu terus saja mengumpat ketika mendengar cerita dari Shilla yang mengatakan pernikahan Azmi dan Clara gagal. "Kenapa elo bisa membatalkan acara yang kurang dari beberapa jam aja?! Lo kenapa si? Otak pintar lo udah nggak berfungsi lagi? Makanya dengan seenaknya elo membatalkan semua?" katanya lagi. Dia langsung mengunjungi Azmi di apartemen pemuda itu, dan nasib baik Azmi masih mau menerimanya meskipun pemuda itu pasti sedang dalam keadaan yang sangat kalut.


"Gue nyesel,"


"Nyesel batalin pernikahan lo sendiri?" tanya Alvin.


Azmi menggeleng pelan. "Gue nyesel kenapa gue janji mau nikahin Clara padahal gue nggak ada rasa sama sekali sama dia," kata Azmi.


"Bego," umpat Alvin untuk yang kesekian kalinya. "Nggak ada rasa tapi elo udah pake dia juga," kata Alvin lagi.


Azmi mengacak rambutnya frustasi. "Kayra hamil Vin,"


"Ya terus?!" tanya Alvin masa bodo. "Dia punya suami, ya jelas lah dia bisa hamil," katanya lagi. "Saran gue elo mending nggak usah ngurusin mbak Kayra lagi mi. Dia udah seneng sama bang Iqbal, lo juga harus bisa bahagia sama pilihan elo sendiri," kata Alvin lagi.


Azmi mengadakan wajahnya, dia tersenyum tipis. Dia sama sekali tidak menyangka jika hubungannya dengan Kayra akan berakhir seperti ini. "Tapi gue belum bisa lupain Kayra Vin,"

__ADS_1


"Jadi ini yang buat elo batalin pernikahan?" Alvin. Menepuk pelan pundak Azmi. "Gue tau banget banget kalo mbak Kayra perempuan paling baik, dia sama baiknya sama mbak Acha. Tapi apa elo sanggup punya perempuan kaya dia? Apa elo bisa mengimbangi Mi? Cinta aja nggak cukup, ilmu juga penting," kata Alvin lagi. Pemuda itu ikut menengadahkan wajahnya, melihat ke arah langit yang mulai mendung. "Elo cerdas gue juga tau, tapi ilmu agama elo belum ada apa-apanya dibanding sama dia Mi,"


Azmi menoleh ke arah Alvin sebentar. "Jadi gue harus mundur?"


__ADS_2