
"Nggak jadi ke kampus pak?" tanya Kayra pada Iqbal. Setelah kepergian bi Surti dan pak Kusnan ke pasar tadi, gadis itu memutuskan untuk menyusul Iqbal yang sedang menyelesaikan tugasnya di teras. Pemuda itu sudah jauh lebih baik dari minggu pertama pernikahan mereka.
Iqbal mengangkat wajahnya, pemuda itu seketika menyunggingkan senyum manis ketika melihat buah hatinya yang menatapnya dengan raut berbinar. "Nggak jadi Kay, rektornya mendadak mau ada acara ke Semarang. Jadi rapatnya di undur lagi," kata Iqbal. Tangannya terulur mengambil Raissa dari gendongan Kayra.
"Gimana perasaan kamu Kay?" tanya Iqbal tiba-tiba. Berbeda dari hari sebelumnya, jika sebelumnya dia akan bertanya tanpa menatap ke arah Kayra, maka kali ini pemuda itu memilih untuk melihat orang iris hazel Kayra.
"Gimana apanya pak?" tanya gadis itu. Seolah tidak paham dengan pertanyaan yang ditanyakan oleh suaminya.
"Gimana keadaan kamu?" tanya Iqbal lagi.
Kayra menghela nafas sebentar, mereka berdua memang tinggal di atap dan dinding yang sama, bahan mereka berbagi ranjang yang sama. Namun bukan berarti mereka sudah paham dengan perasaan masing-masing bukan?
"Baik pak," jawab Kayra apa adanya.
Iqbal mengangguk kecil, tangannya mencubit pelan hidung Raissa. "Maaf ya Kay,"
Kayra mengerutkan keningnya, tanda dia sendiri tidak paham dengan permintaan maaf yang dikatakan oleh suaminya. "Maaf untuk apa pak?"
"Maaf karena selama kamu menikah dengan saya, saya belum bisa membahagiakan kamu," katanya jujur. "Dari awal memang saya yang salah Kay, tidak seharusnya saya membiarkan kamu ikut menanggung ini, meskipun Acha meminta kamu tanpa paksaan sedikitpun," Iqbal menarik nafas sebentar. "Mungkin kalo tidak menikah dengan saya, kamu sudah bahagia dengan Azmi Kay," katanya lagi yang membuat bibir Kayra tertutup rapat.
"Kita nggak bisa menyalahkan siapapun pak, baik saya, pak Iqbal ataupun Acha nggak ada yang salah," Kayra memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya, gadis itu melihat Iqbal yang juga sedang memperhatikannya. "Betul kata bapak, tujuan menikah itu untuk ibadah. Bukan untuk yang lainnya, dan sekarang saya hanya ingin mengikuti apa yang sudah Allah gariskan untuk saya. Bukan saya nggak peduli kebahagiaan pak Iqbal ataupun Raissa, tapi kalo kita terus memikirkan hal yang sudah lewat kayaknya nggak akan ada habisnya," kata gadis itu lagi.
"Lantas, hubungan kamu dengan Azmi gimana?" tanya Iqbal.
"Gimana bisa bapak menanyakan laki-laki lain, disaa-"
"Assalamualaikum,"
__ADS_1
Suara itu membuat Kayra mematung di tempatnya, gadis itu bahkan belum menyelesaikan kalimatnya dan sekarang dirinya seakan dibuat membatu.
"Waallaikumsallam," jawab Iqbal ramah tanpa beban, sekaan mereka masih seperti sepasang sahabat seperti beberapa bulan yang lalu. Iqbal beranjak dari duduknya, pemuda itu membawa Raissa yang masih dalam gendongannya. "Apa kabar mi?" tanya Iqbal. Tangan kanannya terulur untuk memeluk pundak Azmi.
"Alhamdulillah sehat bang," jawab Azmi.
Kayra memejamkan mata, gadis itu menggigit bibir bawahnya dengan keras tanpa sadar. Dia sama sekali tidak pernah membayangkan hal ini bisa terjadi dengan dirinya, bagaimana bisa seseorang yang sekarang berstatus sebagai suaminya dan seseorang yang masih memenuhi hatinya berdiri berhadapan di depannya sekarang.
"Kay?" panggilan Iqbal membuat Kayra mengangkat wajahnya, meskipun dia belum berani menatap wajah tampan Azmi. "Ditanyain sama Azmi nih," kata Iqbal.
Kayra menoleh pelan ke arah Azmi, tidak ada yang berbeda dengan pemuda itu. Dia masih tampan, kulitnya juga semakin bersih, hanya saja rambut dan kumisnya yang terlihat sedikit berantakan. "Iya?" tanya Kayra.
Azmi tersenyum, senyum yang masih selalu Kayra rindukan. "Gimana kabar kamu Kay?"
"Alhamdulillah," jawab Kayra singkat. Dia kembali menundukkan kepalanya, menghindari kontak dengan pemilik mata hitam legam itu.
"Aku mau nidurin Raissa ya pak," kata Kayra. Dia bukan tidak menghormati tamu yang berkunjung ke rumahnya. Hanya saja dia belum siap untuk bertemu dengan Azmi sekarang ini, masih banyak yang harus dia siapkan. Mental dan juga penjelasan, meskipun Kayra yakin jika Azmi sudah banyak mendengar cerita dari orang di luaran sana.
"Iya nggak papa, nanti aku yang bikinin Azmi minum," kata Iqbal. Pemuda itu menyerahkan Raissa ke tangan Acha, tanpa disengaja keduanya saling bersentuhan. Dan hal itu terlihat jelas di mata Azmi.
*****
"Sorry ya," kata Iqbal, pemuda itu membuka obrolan setelah beberapa menit yang lalu hanya diisi oleh hening.
"Sorry buat apa bang?" tanya Azmi.
"Gue nggak ada maksud buat rebut kebahagiaan elo mi," kata Iqbal lagi.
__ADS_1
Sekarang Azmi paham, kemana Iqbal membawa obrolan ini. Pemuda itu menyandarkan punggungnya. "Setelah gue liat interaksi kalian sekarang gue tau harus apa bang," jawab Azmi.
Iqbal mengangkat satu alisnya ke atas. "Maksud lo?"
"Gue kemaren habis dari rumah bapak sama ibu," kata Azmi. Mereka berdua memang sudah terbiasa memanggil orang tua Kayra dengan sebutan bapak dan ibu, seperti yang gadis itu lakukan. "Awalnya gue nggak mau nyerah sama Kayra bang, lo tau sendiri kan? Sedeket apa gue sama Amel dan Artar. Dan Tara? Lo masih inget Tara kan, adek gue," kata Azmi.
"Kenapa sama Tara?" tanya Iqbal mulai penasarannya.
"Tara sering banget nangis kalo lagi sendiri, dia tiba-tiba nangis. Bahkan hampir tiap malem dia nangis, ngalamun dikit dia pasti bakalan inget sama Kayra yang udah nikah sama lo. Dan Amel," Azmi menarik nafas panjang. "Bahkan sampai kemaren gue ketemu dia, dia masih bilang pengen gue sama Kayra kaya bapak sama ibu, lo tau sendiri kan artinya?" tanya Azmi.
Iqbal mengangguk pelan. "Sorry mi,"
Azmi menggelengkan kepalanya. "Sebelum dateng kesini gue udah bertekad buat bujuk elo pisah sama Kayra bang, jahat si emang. Terserah lo atau orang-orang di luaran sana mau ngatain gue apa, mau ngatain gue cinta karena nafsu juga terserah. Tapi yang jelas gue yakin, gue sama Kayra masih saling mencintai,"
Di depannya Iqbal masih diam mencerna kalimat yang dilontarkan Azmi untuknya, terlihat jelas bahwa pemuda itu sedang menyimpan emosinya.
"Tapi sekarang gue sadar," kata Azmi lagi yang membuat Iqbal mengerutkan keningnya bingung karena perubahan intonasi yang dipakai Azmi. "Pilihan Acha mungkin emang udah yang paling baik buat Kayra. Ngeliat interaksi kalian secara langsung tadi buat gue akhirnya belajar ikhlas, Kayra terlalu baik buat cowok kaya gue bang,"
"Lo nggak boleh ngomong gitu mi," kata Iqbal. "Lo bener, sampe sekarang masih elo yang menduduki tahta tertinggi di hati Kayra,"
"Tapi elo suaminya bang," jawab Azmi, pemuda itu mengusap ujung matanya.
"Gue sama Kayra sama-sama belum bisa jatuh cinta satu sama lain," kata Iqbal. "Meskipun dia sangat mirip sama Acha, tapi nyatanya gue masih terlalu susah buat lupain Acha mi. Gue masih sering bayangin kalo Kayra itu Acha, dan itu buat gue hampir gila,"
"Lo salah bang," kata Azmi. "Lo salah kalo nganggo Kayra sama Acha mirip banget,"
"Maksud lo?"
__ADS_1
"Mata mereka beda," jawab Azmi. "Kayra punya warna mata hazel yang berbeda dari orang kebayanya dan nggak semua orang punya itu,"