PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 50. SHILLA DAN SEGALA PERMASALAHANNYA


__ADS_3

Shilla mendengus pelan, gadis itu benar-benar kehilangan moodnya untuk tidur. Matanya melirik sedikit ke arah Bima yang fokus dengan adegan action yang tersaji di depan mereka.


"Lo ngapain masih disini si?"


"Nungguin Iqbal gue," jawab buka Bima tanpa menatap ke arah Shilla.


Shilla mengangkat alisnya. "Sejak kapan lo deket sama abang gue?"


Bima menyandarkan punggungnya, pemuda itu menatap gadis cantik yang menunjukan wajah keheranannya. "Udah lama, lo nggak tau?"


Shilla mengangkat bahunya. "Nggak penting juga buat gue tau," jawabnya asal. "Gue ke atas deh ya," kata gadis itu sudah ingin beranjak dari duduknya.


"Ngapain?"


"Kan gue kesini mau menenangkan diri, mau istirahat. Lo ngapain kesini coba?"


"Kan gue lagi main Shill,"


"Ya udah udah biasa disini juga kan? gue ke atas deh mau tidur,"


"Tidur disini emang nggak bisa? gue nggak enak masa tamu disini sendiri si,"


"Ya elo pulang lah," kata Shilla berdecak sebal. "Kenapa jadi gue yang elo repotin si,"


"Kan disini juga bisa istirahat Shill," kata Bima lembut. "Gue balik nggak enak, lagi ada tamu di rumah soalnya,"


"Tamu siapa?" Shilla mengernyitkan keningnya bingung. "Bukannya elo tinggal sendiri?"


Bima mengangguk sekilas, film action di depannya kini sudah tidak menarik lagi. "Ada temen bokap gue yang mampir, dia juga bawa temen-temennya,"


"Lah?"


"Kenapa?"


"Lah itu lo ninggal tamu sendiri di rumah elo,"


"Nggak sendiri ko," jawab Bima. "Ada bibi sama satpam juga disana,"


"Sama aja pemilik rumah nggak ada," jawab Shilla. "Sana lo pindah kursi sana deh, gue mau tidur," kata Shilla lagi. Gadis itu mengusir Bima dari sofa yang mereka duduk kini.


"Ya elah masih luas kali Shill,"


"Sempit," jawabnya singkat. Shilla sudah menata dua bantal diletakan di bawah kepalanya, dia juga mengambil satu bantal yang lain untuk dijadikan guling.


"Lo kenapa si?" tanya Bima yang bingung sendiri dengan kelakukan Shilla.


"Ngga papa," jawab Shilla tanpa mau membuka matanya.


"Putus cinta ya lo?"


Shilla membuka matanya begitu mendengar kalimat Bima, gadis itu seketika mendudukkan tubuhnya. "Kepo banget si lo," katanya sambil melempar bantal sofa yang sebelumnya dijadikan guling.


"Keliatan banget kalo lagi galau,"

__ADS_1


"Berisik!"


"Kenapa? lo putus sama cowo lo? diselingkuhi? ditinggal nikah?"


"Diem nggak?!"


Bima terkekeh kecil. "Kenapa si? cerita aja kali Shill,"


"Berisik ah lo, emang kita temen sampe harus cerita cerita segala,"


"Kan gue temen abang lo," jawab Bima santai. "Emang nggak bisa jadi temen lo juga?"


"NGGAK!" Shilla kembali melemparkan bantal sofa ke arah Bima, gadis itu bahkan kini sudah memukuli lengan Bima yang menutupi wajah tampannya sendiri. "NYEBELIN BANGET SI LO, GUE LAGI PENGEN MENIKMATI GALAU GARA-GARA ELO JADI BUYAR SEMUA. NYEBELIN BANGET, JANGAN DAT---"


"Shilla?" panggilan Iqbal membuat Shilla menghentikan aktivitasnya. "Lo ngapain mukulin Bima kaya gitu?" tanya pemuda itu lagi.


Shilla menarik nafas dalam, gadis itu menatap tajam ke arah Bima yang hanya menampilkan cengiran khas pemuda itu. "Nyebelin banget dia," katanya lagi sebelum pergi meninggalkan Bima.


Kayra terkekeh pelan. "Aku masuk ya mas," katanya. Gadis itu masuk tanpa menatap ke arah Bima.


*****


"Istri lo masih nggak suka sama gue?"


"Emang istri gue harus suka sama elo?" tanya Iqbal.


"Tatapannya kaya masih menyimpan dendam aja sama gue, dia masih percaya sama apa yang diomongin Azmi ke gue ya?" tanya Bima lagi.


Iqbal mengangguk kecil. "Nggak mudah buat Kayra kali Bim, dia pernah diculik meskipun dia nggak dilukai tapi tetep aja dia pasti punya trauma,"


"Tapi dia masih percaya kalo lo juga ikut campur," kata Iqbal. "Dia lebih pakai perasaan, gue juga nggak nyalahin dia meskipun dia keliatan banget jaga jarak sama elo. Justru gue bisa sedikit lebih tenang dengan sikap dingin dia ke elo,"


"Ko gitu?" tanya Bima bingung.


Iqbal tersenyum kecil. "Jujur, lo pernah suka kan sama istri gue?"


Bima tergagap, pemuda itu seakan tertangkap basah. "Gue nggak pernah suka sama Raissa,"


"Kita lagi nggak ngomongin Acha, kita lagi ngomongin Kayra kan?"


"Kenapa lo ngomong gitu?"


"Gelagat lo udah jelas banget kali," Iqbal terkekeh pelan. "Susah buat nggak jatuh cinta sama perempuan kaya Kayra, apa si yang nggak dimiliki sama istri gue? buat gue bahkan dia lebih dari sempurna,"


Bima diam, dia membenarkan semua ucapan Iqbal padanya. Emang benar, dirinya sama sekali tidak pernah memiliki ketertarikan dengan Acha, tapi justru dengan gadis yang saat ini menjadi istri Iqbal, gadis yang pada saat itu belum memiliki Iqbal ataupun Azmi.


"Kenapa diem?"


"Emang gue harus jawab apa?"


Iqbal terkekeh kecil. "Gue percaya sama Kayra, tapi gue kurang percaya sama cowo diluaran sana," kata Iqbal. "Tapi sebelum mereka berani rebut Kayra dari gue, bukannya harusnya mereka sadar dulu posisinya? Kayra jauh berada di atas, dan akan susah bukan buat mengimbangi dia kalo yang dipunya cuma harta,"


*****

__ADS_1


"Kenapa si mukanya ditekuk gitu?" tanya Kayra.


"Pusing gue,"


"Tugas kuliah?" tanya Kayra.


Shilla menggeleng pelan, gadis itu menggigit bibir bawahnya lalu menarik tangan Kayra untuk duduk di sampingnya. "Janji jangan bilang siapapun termasuk mas Iqbal?"


"Tergantung,"


"Ya udah deh nggak jadi," kata Shilla.


"Hee kenapa?"


"Janji dulu,"


"Iya iya janji,"


"Gue dilamar mbak,"


"Serius?" tanya Kayra setengah tidak percaya, dia paham betul jika banyak laki-laki yang menyukai Shilla. Tapi adik iparnya ini sama sekali belum pernah cerita apapun padanya. "Sama siapa? Alvin?" tanya Kayra.


Shilla menggeleng pelan. "Bukan,"


"Terus?"


"Ada senior gue juga," jawab Shilla.


"Dokter juga dong,"


"Iya dia kerja di rumah sakit ayah juga mba,"


"Lo udah lama deket sama dia?"


"Boro biro deket, dia aja ngga pernah nyapa gue sebelumnya,"


"Terus ko bisa tiba-tiba ngelamar elo?"


"Nggak tau ah mba gue pusing," kata Shilla. Gadis itu pergi meninggalkan Kayra.


Kayra menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. "Ko aneh banget,"


"Kenapa Kay?"


"Eh?" Kayra menggeser duduknya, mempersilahkan Iqbal untuk duduk disampingnya. "Bima udah pulang?" tanya Kayra.


"Udah, itu si Shilla kenapa?"


Kayra terkekeh kecil, dia ingin menceritakan pada Iqbal apa yang dia dengar dari Shilla, sebelum dia mengingat apa pesan adik iparnya sebelum pergi. "Biasalah mas, mahasiswa kedokteran kan banyak kerjaannya. Belum lagi Shilla kan cantik, banyak yang ngejar-ngejar dia jadi cukup mengangguk aktifitas dia juga,"


"Eh ada yang naksir Shilla?"


"Plis deh mas, adek kamu ini pernah jadi duta kampus, dia relawan, cantik, pintar. Ya nggak mungkin lah kalo nggak ada yang ngejar-ngejar,"

__ADS_1


"Bima juga lagi sering nanyain Shilla," timpal Iqbal tiba-tiba yang membuat Kayra melebarkan matanya tak percaya.


__ADS_2