PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 23. KEDATANGAN BIMA


__ADS_3

"Serius bang?" tanya Azmi ketika pemuda itu berkunjung ke rumah Iqbal. Iqbal baru saja menceritakan apa yang diceritakan Kayra padanya.


"Gue juga belum ketemu sama dia si," jawab Iqbal. "Lo gimana? Emang lo nggak izin sama Bima mau nikah sama Clara?"


Azmi menggeleng pelan. "Izin gimana? Clara aja nggak tau kalo abangnya balik," jawab Azmi lagi. "Tapi ngapain dia pindah kesini coba bang? Kenapa rumah yang dia beli deket sama rumah lo?" tanya Azmi lagi, dia semakin bingung dengan semuanya. Dia pikir puzzlenya sudah selesai disusun. Tapi dia salah, justru puzzle yang sebenarnya baru bisa dia susun. Tentu jika mereka tidak salah menebaknya.


"Gue juga nggak tau mi, gue belum ketemu sama dia,"


"Dan tadi pagi dia kesini?"


Iqbal mengangguk pelan. "Nggak tau motif dia apa, tapi yang jelas pas dia kesini rumah emang cuma ada Kayra aja," jawab Iqbal.


Azmi mendesah pelan. "Pak Kusnan emang jarang disini ya bang?"


"Pak Kusnan lagi dipinjem ayah dulu," jawab Iqbal. "Kenapa emang?"


"Ko gue takut kalo Bima ada niat jelek sama keluarga elo," jawab Azmi. "Terutama ke Kayra," lanjutnya lagi.


Iqbal menyandarkan punggungnya. "Tapi bukannya Bima sukanya sama almarhum Acha?"


Azmi melebarkan matanya, pemuda itu sadar akan sesuatu. "Jangan bilang dia nggak tau kabar kalo Acha udah nggak ada?" tanya Azmi. "Dan dia juga nggak tau kalo elo udah nikah sama Kayra?" tanya Azmi lagi.


Iqbal mengangguk pelan. "Kayaknya dugaan elo bener mi," jawab Iqbal. "Gue juga nggak ada lihat dateng ke pemakaman,"


"Untuk sementara mending lo jangan tinggalin Kayra sendiri deh bang," usul Azmi. Mungkin bisa dibilang rasa khawatirnya melebihi rasa khawatir Iqbal, meskipun pemuda itulah suami dari Kayra. "Paling nggak misal elo ke kampus, bi Surti biar di rumah aja gitu," lanjutnya lagi.


Iqbal mengangguk paham. "Elo pernah punya firasat buruk sama Bima?" tanya Iqbal.


"Gue emang pernah curiga sama dia bang, dan emang bukti sana kenyataan yang ada sama persis. Belum lagi setelah kecurigaan gue itu, dia pergi ke Singapore,"


"Ternyata elo emang udah curiga sama gue dari lama yang mi," kata Bima. Pemuda itu sudah berdiri tidak jauh dari mereka berdua yang duduk di teras. Pemuda itu tersenyum kecil, tanda jika dia sedang meremehkan Azmi. "Apa rasa curiga lo udah terjawab?" tanyanya. Pemuda itu berjalan pelan menghampiri Iqbal dan Azmi yang sama-sama mengerutkan keningnya, merutuki kebodohan mereka yang tidak sadar jika pemuda yang sedang mereka bicarakan sudah berdiri disana. "Tapi gue yakin elo nggak akan nemuin jawaban itu si, karena apa? Karena semua praduga lo itu salah besar," kata Bima lagi.

__ADS_1


"Lo sejak kapan disini?" tanya Azmi. Dia sama sekali tidak merasa canggung atau tidak enak karena sudah ke gap berbicara tentang Bima di depan pemuda itu.


"Sejak lo ngomong kalo lo curiga sama gue," jawab Bima. "Gimana kabar kalian?" tanya Bima.


"Alhamdulillah sehat," jawab Iqbal mewakili. "Lo gimana?" tanya Iqbal basa basi.


"Baik juga gue," jawab Bima. "Gue turut berduka cita ya Bal, atas meninggalnya Raissa," kata Bima. "Gue bener-bener nggak dapet kabar apapun kalo ternyata Raissa udah nggak ada,"


Iqbal tersenyum kecil, pemuda itu menganggukkan kepalanya. "Makasih banyak ya, iya nggak papa. Emang nggak banyak yang tau ko Bim," jawab Iqbal.


"Selamat juga ya buat pernikahan kalian berdua," kata Bima, kalimatnya memang terdengar tulus ditelinga.


"Makasih Bim,"


Bima menoleh ke arah Azmi yang kini sibuk dengan ponselnya. "Lo mau nikah sama adek gue" tanya Bima. Kalimatnya kali ini terdengar lebih serius dari sebelumnya.


Azmi kembali menyimpan ponselnya. "Iya," jawab pemuda itu singkat.


Azmi terkekeh pelan. "Emang gue harus ngomong apa sama lo?"


Bima mendesah pelan, pemuda itu paham dengan karakter Azmi yang jika pemuda itu tidak suka maka dia tidak akan suka mau sebaik apapun orang itu. "Elo curiga sama gue mau berbuat buruk sama Kayra?" tanya Bima. "Dan dulu elo juga curiga sama gue kalo gue ada niatan jahat sama Raissa. Bukannya elo yang suka sama Raissa?" tanya Bima.


Azmi mendengus pelan. "Ya lagian siapa juga nggak suka sama cewe kaya mereka berdua,"


"Terus sekarang motivasi elo apa mau nikah sama adek gue?" tanya Bima. "Elo cuma mau mainin dia kan? Elo mau jadiin pelampiasan karena lo nggak dapet Kayra kan?"


"Haha mulut lo," kata Azmi dingin.


Bima terkekeh. "Lo aja nggak suka dituduh, tapi sukanya nuduh orang sembarangan," kata Bima. "Mau sebanyak apapun backingan lo, kalo elo berani nyakitin Clara, lo tetep gue cari," kata Bima sebelum pemuda itu pamit untuk pulang pada Iqbal.


*****

__ADS_1


"Kamu mau di rumah bapak sama ibu aja?" tanya Iqbal.


Kayra menggeleng pelan. "Bapak sama ibu belum tau kalo aku hamil," jawab gadis itu sambil mengelus perutnya yang kian membesar.


"Nanti biar saya yang jelasin,"


"Aku nggak mau kalo nanti jadi bapak yang bohong ke mereka," jawab Kayra.


"Saya nggak perlu bohong Kay, saya cuma tinggal bilang kalo kamu sedang mengandung. Mereka nggak akan tanya anak siapa yang ada dikandungan kamu kan?"


Kayra menggeleng pelan. Memang benar, bapak dan ibunya tidak akan menanyakan tentang siapa ayah dari anak yang sedang dia kandung. "Tapi aku belum siap pak,"


Iqbal mengangguk kecil, berusaha mengerti keadaan Kayra saat ini. "Tapi kamu nggak papa kalo sering saya tinggal ke kampus?" tanya Iqbal. "Berdua doang sama bi Surti untuk sementara waktu nggak masalah kan?" tanya Iqbal lagi.


Kayra mengangguk kecil. "Nggak papa kok,"


"Saya sudah bilang sama ayah kalo kamu juga butuh pak Kusnan disini,"


Kedua bola mata Kayra membola mendengar hal itu. "Bapak nggak perlu bilang begitu juga sama om Hardi. Aku yang jadi nggak enak,"


"Atau kalo nggak Shilla suruh tidur sini juga ya kali misal aku pulang udah malem," kata Iqbal.


Kayra terkekeh kecil, gadis itu merasa senang diperhatikan sebegitunya oleh Iqbal. Hal yang sama sekali tidak terbayangkan. Dirinya memang belum bisa mencintai pemuda itu, tapi dia juga tidak bisa menampik jika dirinya seneng diperhatikan dan dikhawatirkan.


"Kayaknya nggak perlu deh pak, lagian Shilla juga masih sibuk kan? Aku nggak enak sama dia,"


"Nggak papa, biar saya lega pas ninggalin kamu," kata Iqbal. "Nanti biar saya yang ngomong sama Shilla,"


Kayra berdehem pelan. "Emang apa yang mungkin dilakukan Bima ke aku pak?"


Iqbal diam cukup lama, pemuda itu sedang memikirkan jawaban yang pas dan tidak membuat Kayra takut. "Saya sendiri juga nggak tau, sejauh ini feeling saya masih mengatakan kalo Bima itu orang baik. Terlepas karena dia Kaka Clara ya, tapi nggak ada salahnya jaga-jaga kan?"

__ADS_1


__ADS_2