
Kayra berkali-kali menghembuskan nafasnya, dia dibuat tidak nyaman dengan suasana hatinya sendiri. Bahkan dia juga sudah lebih dari lima kali keluar masuk toilet hanya untuk buang air kecil, padahal perutnya susah membesar dan cukup membuat dirinya kesulitan.
Tepukan di bahunya membuat Kayra menoleh, gadis itu tersenyum simpul menyaksikan Iqbal yang sudah rapih dengan baju koko dan sarung yang memang sudah disiapkan Kayra sebelumnya. "Kenapa mas?" tanya gadis itu. Panggilannya sudah berubah, dia sudah tidak memanggil Iqbal dengan panggilan pak.
"Kenapa duduk disini sendirian?" tanya Iqbal. "Orang-orang udah pada kumpul di dalem, masuk yuk," ajak pemuda itu.
Kayra mengangguk kecil, gadis itu mengelus perutnya. "Makasih banyak ya," ucap Kayra tulus. Iqbal banyak sekali membantunya, pemuda itu bahkan tidak menceritakan aib yang dia lakukan pada bapak dan ibu. Justru dia melindungi Kayra dan berjanji akan turut serta merawat anak Kayra ini.
"Kamu udah terlalu sering bilang makasih Kay," kata Iqbal. "Aku juga makasih banyak sama kamu,"
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya,"
"Aku nggak berkontribusi apapun dalam hidup kamu kalo mas,"
"Loh kata siapa?" kata Iqbal mengerlingkan matanya. "Kamunya aja yang nggak sadar,"
Kayra terkekeh pelan, Kayra sangat berhutang budi dengan Acha. Meskipun Kayra tau pemuda di depannya ini sama sekali belum bisa mencintainya seperti dia mencintai istri pertamanya, sama halnya dengan dirinya yang masih suka kesulitan. Tapi siapa sangka, rasa ikhlas keduanya ternyata mampu membuat hubungan rumah tangga ini semakin awet.
Kayra memukul pelan lengan Iqbal. "Aku kan emang belum bis-"
"Padahal udah ditunggu di depan loh, malah asik pacaran aja di belakang kalian," kata Artar. Artar mengulum bibirnya, merasa geli dengan kakaknya yang terlihat salah tingkah. "Udah di tunggu di depan mas," kata Artar. "Tinggalin aja mbak Kay kalo nggak mau masuk, biar dimakan nyaman,"
"Ish, mulutnya," kata Kayra.
"Mbah Imam udah dateng loh mbak,"
"Mbah Imam yang biasa ngimamin sholat Tar?"
Artar mengangguk kecil. "Iya, bapak udah cerita kan kalo nanti do'a dipimpin sama Mbah Imam? Abah sama orang tuanya mas Iqbal juga baru sampe itu," kata Artar lagi.
Kayra menoleh sebentar ke arah suaminya. "Katanya ayah sama bunda lagi di luar negeri?" tanya Kayra bingung.
__ADS_1
"Iya tapi sekarang udah disini," kata Iqbal meringis pelan. "Kan aku bilang mereka nggak bisa bantu-bantu banyak, tapi diusahakan bisa ikut acara,"
"Eh ayo malah ngobrol," kata Artar kembali memotong kalimat Kayra. "Sebelum nanti ibu yang turun tangan sendiri loh mbak,"
"Iya iya bawel,"
*****
"Alhamdulillah bentar lagi cucu laki-laki nenek lahir," kata bunda sambil mengelus perut Kayra.
"Masih dua bulan lagi bun,"
"Dua bulan itu nggak lama loh mas," kata bunda. "Nanti tau-tau udah delapan bulan, tau-tau udah sembilan bulan ehhh udah lahiran aja," katanya lagi tanpa memandang wajah Iqbal. "Iya kan Bu? Iqbal ibu terlalu santai, sampe ngabarin istrinya lagi hamil aja baru beberapa minggu ini," kata bunda lagi, kali ini menoleh sebentar ke arah ibu.
Ibu tersentuh kecil. "Iya Bu, emang waktu berjalan cepet banget jadi nggak kerasa nanti tiba-tiba udah lahiran,"
"Nama anaknya udah ada Kay?"
"Eh belum yah," jawab Kayra.
"Siapa namanya?"
"Rahasia lah,"
"Alah kamu paling juga belum punya nama,"
"Eh jangan salah. Dulu yang kasih nama Shilla siapa coba?"
Shilla mengangkat wajahnya, gadis itu sedang asyik memainkan pipi gembul Raissa. "Siapa emang?"
"Gue lah,"
"Emang bener yah?"
__ADS_1
Ayah mengangguk kecil. "Nggak tau itu, kakakmu dulu dateng-dateng nangis sambil ngerengkek adeknya minta dikasih nama Ashilla,"
"Ko bisa?" tanya Shilla bingung.
"Gara-gara ada anak komplek baru yang namanya Ashilla, dan dia suka," kata bunda membocorkan rahasia yang dijaga Iqbal rapat-rapat. "Tapi anak itu nggak suka sama kakakmu,"
"Ah bunda, nggak disini juga kali Bun ngomongnya," Iqbal menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Kayra. Tangan kanannya memeluk pinggang istrinya, dan tangan kirinya memegang bahu Kayra. "Jadi bahan ledekan deh habis ini," katanya lagi.
Ditengah suara tawa itu ada satu laki-laki yang sangat merasa lega. Bapak, beliau sangat bahagia sore ini. Menyaksikan putrinya begitu dicintai oleh keluarga pihak laki-laki, mereka menerima Kayra dengan sangat baik.
Bapak menghapus air mata yang ada di sudut matanya, bibirnya tidak henti menyunggingkan senyum. Melalui sorot matanya, beliau mengucapkan banyak terima kasih ke ayah.
"Kenapa nggak nginep disini aja pak?" tanya bapak. Sore ini ayah dan bunda memutuskan untuk pulang, karena besok pagi-pagi akan ada penerbangan ke Singapore untuk peluncuran alat medis baru dengan Shilla juga turut serta.
"Kalo saja jadwalnya bida dimundurin pak, pasti bisa nih kita tidur rame rame disini," jawab ayah. "Tapi sayangnya memang sudah keputusan dari awal, jadi saya ya nggak bisa me-rescedule ulang,"
Bapak terkekeh pelan. "Ya sudah kalo begitu, terima kasih banyak ya pak sudah mau berkunjung ke gubuk kami. Semoga lain waktu bisa singgah lebih lama lagi, semoga perjalanannya lancar sampai tujuan ya pak,"
"Aamiin aamiin, terima kasih banyak juga ya pak sudah menerima kami dengan baik," jawab ayah. "Kamu nggak bi-"
"Eh ada apa ini?" suara Artar membuat ayah mengurungkan kalimatnya. Pemudanya itu maju, sampai berdiri di depan bapak dan ayah. "Bu Tuti sama Bu Ratmi ngapain kesini bawa besek itu? ini ibu-ibu juga ngapain?"
"BESEK MACAM APA INI?! MANA KATANYA BESANNYA ORANG KAYA, DOKTER. KOK KASIH MAKANAN UDAH BASI!" teriak Bu Tuti yang membuat Kayra dan keluarga melebarkan bola matanya kaget.
"Basi gimana Bu?" tanya bapak, pembawaannya begitu tentang sangat berbeda dengan Artar yang sudah ingin meluapkan emosinya.
"NIH LIAT," Bu Ratmi memberikan kotak itu seraya berteriak pada bapak.
"YANG SOPAN KALO NGOMONG SAMA BAPAK SAYA BU," teriak Artar.
Iqbal maju, pemuda itu berdiri di samping Artar, mencoba menenangkan adik iparnya. "Tenang tenang,"
"BU RATMI SAMA BU TUTI INI EMANG KEBIASAAN, SUKA CARI KERIBUTAN. MANA BUKTINYA KALO MAKANAN YANG KAMU KASIH ITU BASI?!" teriak Artar lagi. "BAPAK SAYA EMANG ORANGNYA SABAR, JADI KALIAN PASTI BAKAL TENANG TENANG AJA. TAPI BEDA SAMA SAYA, SELAMA INI KAMI JUGA DIEM DIJELEK-JELEKKAN SAMA KALIAN BERDUA, SAMPAI MBAK KAY DIFITNAH SAMA KALIAN AJA BAPAK SAMA IBU MASIH NYURUH KAMI BUAT SABAR, TAPI NGGAK KALI INI!"
__ADS_1
"Benar-benar, Kayra di fitnah?" tanya Iqbal bingung. "Di fitnah apa?"
"Sudah sudah kita ngobrol di dalem saja ya, nggak enak teriak teriak di luar gini. Udah sore," kata bapak mengajak semuanya untuk kembali masuk ke rumah, termasuk ayah, bunda dan shilla yang memandang ibu-ibu dengan pandangan tajam.