PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 22. TETANGGA BARU


__ADS_3

"Buat orang hamil lah," jawab Kayra asal. "Permisi ya, gue duluan," kata Kayra lagi. Gadis itu berjalan melewati Bima begitu saja. Tiba-tiba ingatannya kembali ke kejadian ketika Acha menceritakan tentang semua kebaikan Bima, pemuda itu yang menawarkan Acha bantuan, menawarkan tempat tinggal, meminjami uang dan banyak hal lain yang membuat Kayra sedikit mendukung agar sahabatnya menikah dengan Bima meskipun sudah memiliki suami seperti Iqbal.


Tapi semenjak kejadian dengan Clara, entah mengapa dia juga memiliki firasat yang tidak begitu baik tentang Bima. Tapi semoga itu hanya firasatnya, bukan kenyataan yang sebenarnya.


"Nggak mau dianter Kay?" tanya Bima, pemuda itu sudah berdiri disamping Kayra dengan satu botol Coca cola dan satu bungkus rokok. "Udah malem gini loh, lo pulang ke rumah kan?" tanya Bima seakan pemuda itu sedang memastikan sesuatu.


Kayra menggeleng pelan. "Nggak usah kak, gue bisa sendiri kok," jawab Kayra. Gadis itu masih berusaha untuk bersikap sopan dengan Bima, karena jarak umur pemuda itu yang memang diatasnya.


"Gue serius Kay," kata Bima lagi.


"Gue juga serius kak," jawab Kayra lagi. "Berapa mba?" tanya gadis itu yang sudah ingin pergi.


"Biar bareng sama punya saya aja mba," kata Bima. "Gue aja yang bayar,"


"Nggak usah kak, ini banyak," kata Kayra. Gadis itu kembali menoleh ke kasir supermarket. "Nggak usah mbak, pake ini aja," Kayra segera memberikan kartunya. "Nggak usah kak, gue masih bisa bayar sendiri," kata gadis itu ketika melihat Bima yang sudah kembali ingin memberikan kartunya. "Gue nggak mau punya hutang budi sama siapapun," kata Kayra lagi.


"Okay okay," kata Bima. "Sorry Kay gue nggak maksud apa-apa sama lo,".


"Nggak papa kak, tapi tolong jangan gini lagi ya. Gue bukan siapa-siapa elo dan elo juga nggak ada tanggung jawab buat bayarin barang belanjaan gue,"


"Tapi kalo suatu saat nanti gue jadi siapa-siapa buat lo nggak papa kan?"


"Maksudnya?" Kayra mengerutkan keningnya, gadis itu tidak paham dengan pertanyaan yang dilontarkan Bima padanya.


"Kalo suatu saat nanti gue bakal jadi "seseorang" buat lo nggak masalah kan?"


Kayra berdehem pelan, dia paham kemana Bina membawa obrolan mereka. "Kayaknya gue udah kelamaan deh kak, gue balik duluan ya. Assalamualaikum,"


Bima tersenyum kecil. "Cantik kan mba dia?" kata Bima pada kasir yang terus memperhatikan interaksi keduanya. "Calon istri saya dia mbak," katanya lagi dengan senyum yang tidak lepas dari bibirnya.


*****


"Kenapa Kay?" tanya Iqbal ketika melihat Kayra yang masuk rumah dengan raut wajah yang tidak menyenangkan.


"Sebel," jawab Kayra tanpa melihat ke arah Iqbal.

__ADS_1


"Sebel karena belanja sendiri?"


Kayra menggelengkan kepalanya. "Bukan," jawabnya. Gadis itu meletakkan begitu saja barang belanjaannya di atas meja. "Tadi aku ketemu Kak Bima,"


"Bima?" tanya Iqbal, memperjelas apa yang barusan dia dengar. "Bima kakaknya Clara?"


Kayra mengangguk kecil. "Iya Bima yang itu,"


"Ngapain dia disini? Bukannya rumah dia jauh dari sini ya?"


Kayra mengangkat bahunya acuh. "Katanya dia baru beli rumah disini pak," jawab Kayra. "Emang ada rumah kosong atau rumah yang mau dijual ya?"


Iqbal berfikir sebentar, kemaren memang dia mendengar dari pak RT jika akan ada warga baru yang tinggal di komplek perumahannya. Entah itu Bima atau orang lain yang akan tinggal dekat dengannya. "Ada. Itu yang di seberang rumah pak RT,"


"Berarti deket sama rumah ini dong?"


Iqbal mengangguk pelan. "Iya, dia berbuat nggak sopan sama kamu?"


Kayra menggigit bibir bawahnya. Mungkin dia yang terlalu lebay, tapi jujur saja dirinya merasa risih diperlakukan seperti tadi oleh Bima. "Nggak si, tapi aku rada risih aja sama dia," jawab Kayra jujur.


Kayra menggeleng pelan. "Bukan, ketemu di supermarket tadi pas belanja. Risih banget dia maksa mau bayarin belanjaan aku sedangkan dia cuma beli satu botol minum sama rokok aja,"


Iqbal terkekeh geli. "Terus kenapa? Kamu malu karena kamu yang mau dibayarin tapi belanjaan jamu yang lebih banyak?"


"Ya enggak lah pak,"


"Kalo menurut aku nggak papa si, kamu mau aja kalo lain kali dia menawarkan diri buat bayarin belanjaan. Kan kamu jadi ngirit juga kan?"


Kayra mencibir pelan. "Sebagai perempuan yang baik aku nggak mau ya dibayarin barang cuma cuma gitu sama laki-laki lain. Apalagi aku sendiri juga punya uang, dan dia juga nggak punya kewajiban untuk bayarin aku belanjaan. Belum lagi kalo ada orang yang tau aku udah punya suami, nanti apa kata mereka ada istri yang dibayarin belanjaan sama laki-laki lain?" kata Kayra. Gadis itu memang selalu berfikiran ke depan, dia bahkan sudah menyiapkan solusi untuk kendala yang mungkin akan dia hadapi di depan nanti.


Iqbal tersenyum kecil. "Alhamdulillah kalo begitu, saya nggak perlu ngajarin kamu banyak hal kamu juga udah pinter," kata pemuda itu.


*****


"Waallaikumsallam," jawab Kayra tanpa melihat ke tamu yang sudah menyiapkan senyum terbaiknya untuk bertemu dengan gadis itu pagi ini. "Kak Bima?" tanya Kayra.

__ADS_1


"Hallo Kay," jawab Bima. "Ko lo pagi - pagi udah disini?" tanya Bima. Seolah dia tidak tau apa yang terjadi antara Iqbal Kayra dan juga Acha.


Kayra mengangguk kecil. "Mau cari siapa kak?"


"Acha sama Iqbal ada?" tanya Bima.


"Acha udah nggak ada kak," jawab Kayra.


"Nggak ada gimana maksudnya?" tanya Bima.


"Pak Iqbal juga nggak ada," jawab Kayra lagi.


"Mereka udah ke kampus?" tanya Bima. "Kok elo disini?"


"Iya semalem gue nginep sini," jawab Kayra asal. "Kalo mau ketemu sama pak Iqbal tunggu nanti sore ya kak," jawab Kayra.


"Gue nggak dipersilakan masuk Kay?" tanya Bima lagi.


Kayra menggeleng pelan. "Sorry kak, soalnya yang punya rumah lagi nggak di rumah, nggak enak gue bawa tamu masuk tanpa izin yang punya,"


"Ya sudah kalo gitu tunggu sini boleh kan?"


Kayra menghembuskan nafasnya kasar. "Kak Bima mau nyampein apa ke pak Iqbal? Biar nanti gue yang sampein,"


Bima terkekeh pelan. "Nggak ada si Kay, cuma nggak nyangka aja kalo rumah yang gue beli sedeket ini sama rumah Iqbal," jawab Bima. "Bisa lah gue sering-sering main kesini nanti," katanya lagi.


"Kak Bima pindah ke komplek ini?"


Bima tersenyum kecil, pemuda itu mengangguk pelan. "Iya," jawabnya. "Deket sama rumah pak RT itu,"


"Rumah pak RT?" tanya Kayra. Jika rumah baru Bima adalah rumah yang kemaren diceritakan oleh Iqbal, maka benar jika pemuda inilah yang akan menjadi tetangga dekatnya dan mungkin akan membuat dirinya sering berinteraksi dengan Bima.


"Lo kenapa si Kay?" tanya Bima. "Lo nggak lagi takut sama gue kan?"


Kayra menggeleng pelan. "Nggak kok kak,"

__ADS_1


Bima mengacungkan jempolnya. "Bagus deh, kita bakal sering-sering ketemu Kay," katanya sambil mengedipkan satu matanya.


__ADS_2