PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 40. MASA LALU CLARA


__ADS_3

Bibir Kayra terus melengkung ke atas sejak tiga puluh menit yang lalu, gadis itu sedang melihat-lihat foto album miliki Acha dan Iqbal yang ada di kamar ini.


"Eh ini Clara kan ya mas?" tanya Kayra, dia melihat dengan jelas adanya Clara di pernikahan Acha dan Iqbal dulu. "Bener ini Clara," kata Kayra lagi. Dulu mungkin dia sempat bertemu dengan Clara, karena Kayra membantu banyak hal di acara pernikahan Acha dan Iqbal, tapi keduanya belum saling mengenal pada saat itu.


"Mana?" tanya Iqbal datang mendekat.


"Loh emang mas nggak ketemu sama dia?"


"Setau mas dia nggak dateng," jawab Iqbal, mengingat kembali alasan Clara tidak hadir di acara pernikahannya dengan Acha dulu.


"Tapi kok ini ada disini ya?" tanya Kayra bingung. "Em mas aku boleh tanya sesuatu nggak?"


Iqbal mengangkat alisnya. "Boleh mas, mau tanya apa?"


"Kenapa bunda nggak merestui hubungan mas Iqbal sama Clara?" tanya Kayra. Gadis itu menggigit bibir bawahnya takut-takut. "Eh tapi kalo nggak mau jawab juga nggak papa kok," kata gadis itu lagi karena merasa tidak enak, mungkin Acha saja juga belum pernah menanyakan hal ini pada Iqbal.


Iqbal berdehem kecil. "Jujur aku juga antara yakin dan tidak yakin ya Kay," jawab Iqbal. "Seperti pasangan pada umumnya, pasti kita akan menunjukan yang terbaik di depan pasangan kita kan? begitu juga dengan Clara," Iqbal menghela nafas sebentar, pemuda itu membenarkan posisi duduknya. "Clara yang ada di depan aku ya Clara yang baik, cerita, pintar, rajin dan sayang sama orang tua," katanya. Ada senyum di bibir Iqbal, mau gimana juga Clara juga pernah menjadi bagian yang paling menyenangkan di hidup Iqbal dulu. "Tapi ternyata bunda mencari tau tentang Clara sendiri, beliau sama sekali nggak cerita ke aku gimana-gimananya Clara tapi beliau adalah orang pertama yang menentang hubungan aku sama Clara. Dan akhirnya karena bunda nggak mau kasih tau ke aku, bahkan ke ayah juga nggak cerita. Akhirnya ayah cari tau sendiri mengenai background keluarga Clara, tapi ayah nggak nemuin apapun tentang nyokapnya atau bokapnya, semuanya bersih. Tapi tidak dengan Clara,"


Kayra mendengarkan dengan seksama apa yang diceritakan Iqbal padanya. "Kenapa Clara? bukannya yang bermasalah tante Amel?" setidaknya itu yang Kayra ketahui dari Abah dan Umi Acha dulu sewaktu dia dan Azmi mencari tau.


Iqbal menggeleng pelan. "Ayah sama bunda nggak nemuin hal buruk sama sekali tentang orang tua Cara, tapi justru masalahnya ada Clara," Iqbal menghela nafas cukup lama, seperti berat bagi pemuda itu untuk menceritakan kembali apa yang diceritakan bunda beberapa bulan yang lalu padanya dan Acha. "Clara merupakan perempuan panggilan,"


Kayra melebarkan matanya. "Serius?"


Iqbal mengangguk yakin. "Dia menggunakan nama samaran, dan pelanggan dia juga bukan orang sembarangan makanya nggak banyak orang yang tau. Bunda dan ayah kebetulan tau karena memang dari temannya mereka ada yang pernah menyewa Clara makanya mereka dengan mudah mendapatkan informasi itu,"


"Mas," panggil Kayra ketika gadis itu mengingat sesuatu.


"Hem?"


"Apa ini ada hubungannya sama peneroran itu?"


Iqbal menggeleng pelan. Dia tidak yakin sama sekali, "Bisa jadi si Kay, karena Clara anak tante Amel. Sedangkan yang tujuan pelaku itu untuk membuat keluarga tante Amel berantakan,"


"Tapi akhirnya nggak berhasil kan?"

__ADS_1


"Nggak berhasil karena ada kamu dan Acha," kata Iqbal sambil tersenyum manis. "Udah? mau tanya apa lagi?"


Kayra menggeleng pelan. "Udah, nggak ada," jawab gadis itu.


"Kemaren Bima cerita katanya Clara mau pindah ke Jakarta," kata Iqbal membuka topik lain.


"Iya, kemaren aku udah ketemu sama dia,"


"Kamu ketemu sama Clara?" tanya Iqbal menunjukkan keterkejutannya. "Kok nggak ngomong sama aku?" tanyanya.


Kayra meringis kecil. "Takut kamu nggak ngizinin mas, soalnya dia cuma mau ketemu sama aku jadi aku nggak bisa ngajak kamu juga," kata Kayra.


"Tapi dia nggak macem macem kan?"


"Enggak lah, emang macem-macem apa?" tanya Kayra.


"Ya enggak si,"


"Terlepas dari apapun itu, dia kan baik sama kita mas. Maksudnya dia nggak berbuat yang jelek-jelek gitu loh sama kita. Jadi nggak seharusnya juga kita punya pikiran jelek tentang dia," kata Kayra.


Iqbal tersenyum kecil. "Bener ya apa kata ibu, sifat kamu itu mirip banget sama ayah," kata pemuda itu.


*****


"Gue seneng kok Ta ngelakuinnya,"


"Tapi gue yang sedih liat lo begini," kata Tara lagi. "Gue tau mbak Kay perempuan baik, tapi bukan berarti perempuan baik cuma mbak Kay,"


Azmi terkekeh pelan. "Gue udah nggak mikirin Kayra kok Ta,"


"Bohong,"


"Serius, tapi kalo dia masih mau sama gue ya gue gas lah," katanya sambil terkekeh geli. Kedua tangan Azmi terangkat, memegang kedua lengan adiknya. "Gue nggak gila kok Ta, lo tenang aja. Gue masih pinter, masih waras,"


"Gue tau," kata Tara. "Gue orang pertama yang akan bakal nangis kalo tau elo sampe gila,"

__ADS_1


Azmi menepuk pelan kepala Tara. "Nggak akan terjadi, sans aja,"


"Jadi rencana elo untuk kedepannya apa?"


"Cari tau siapa orang yang nyulik gue dan Kayra dulu, karena mereka pasti berhubungan. Terlepas mereka meneruskan terornya atau enggak," kata Azmi santai. "Gue juga buat alat,"


"Buat Mbak Kayra lagi kan?"


"Buat elo juga Ta," jawab Azmi sambil terkekeh kecil.


Tara merebahkan tubuhnya di ranjang Azmi. "Janji ya lo bakalan baik-baik aja," kata Tara. "Besok gue kenalin sama temen-temen gue yang ukhti ukhti juga deh, siapa tau ada yang nyantol sama elo nanti,"


*****


"Bi," panggil Kayra pelan.


"Kenapa mbak?" jawab Bu Surti, tidak kalah pelan dengan Kayra. "Kenapa bisik-bisik ngomongnya?" tanya bi Surti bingung.


"Aku pengen makan samyang," cicit Kayra pelan.


"Duh emang boleh mbak?"


"Boleh bi asal nggak pedes banget," jawab Kayra. "Tapi bibi jangan bilang sama mas Iqbal ya," kata Kayra lagi.


"Serius mbak?"


"Beneran bi, Kay udah pengen banget ini," jawab Kayra lagi. Salahkan dirinya karena menonton video mukbang, jadilah dia sangat menginginkan samyang di depannya sekarang. "Tolong yaa bi, bibi nggak mau kan kalo nanti cucunya ngileran,"


Bi Surti mau tak mau terkekeh pelan. "Bibi buatin tapi yang nggak pedes ya,"


Kayra mengacungkan jempolnya. "Makasih banyak, Kay tunggu di depan tv ya bi,"


Kayra tersenyum cerah ketika semangkuk samyang berwarna merah sudah siap di depannya bi Surti juga tidak lupa menyiapkan segelas susu dan air putih untuk Kayra.


"Mau pakai keju nggak mbak?" tanya bi Surti.

__ADS_1


"Nggak usah bi, gini aja udah enak,"


Semoga perutnya baik-baik aja besok pagi, batik Kayra.


__ADS_2