PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 20. OBROLAN LELAKI


__ADS_3

"Kamu nggak papa Kay?" tanya Iqbal yang nampak khawatir. "Atau mau pulang aja?" tanyanya lagi.


Kayra menggeleng, dia tidak mungkin pulang dan membuat ibu serta bapaknya kecewa karena ingin lebih lama dengan Raissa. "Nggak usah pak,"


"Tapi kamu nggak papa?" tanya Iqbal lagi.


Kayra mengangguk kecil. "Nggak papa kok pak," jawab Kayra apa adanya.


"Jangan dipendam sendiri ya," kata Iqbal.


"Kenapa bapak tiba-tiba baik sama aku?" tanya Kayra yang penasaran dengan perubahan sikap Iqbal yang terlalu mendadak baginya. "Apa karena bayi ini?" tanyanya lagi.


"Itu mungkin salah satunya,"


"Terus?"


"Karena saya nggak mau mengulang masalah yang sama Kay," kata Iqbal jujur. "Saya sudah cukup melakukan banyak kesalahan sewaktu saya bersama Acha, dan saya nggak mau membuat Acha kecewa sama saya untuk yang kedua kalinya,"


Kayra mengangguk paham. Setidaknya dia tau alasan Iqbal bersikap baik semata-mata hanya untuk Acha.


"Kamu bener nggak papa kan Kay?" tanya Iqbal lagi.


"Nggak papa pak," jawab Kayra. "Tapi ya tetep kaget aja ngapain mereka kesini,"


"Mau minta do'a restu bapak sama ibu katanya,"


"Emang bapak ibu kenal sama Clara?" tanya Kayra yang nadanya mulai terdengar sinis di telinga Iqbal.


"Kau cemburu Kay?"


Kayra menggeleng, gadis itu segera merubah ekspresinya. "Nggak kok pak," jawab Kayra lagi. Meskipun jawabannya tidak cukup meyakinkan Iqbal, tapi setidaknya pemudanya itu hanya mengangguk dan tidak mengajukan pertanyaan yang sama lagi.


"Ini juga kali pertama bapak ketemu sama Clara ya?" tanya Kayra kembali mengingat kejadian di rumah sakit beberapa bulan yang lalu.


Iqbal mengangguk kecil. "Kamu lagi nggak buat saya biar inget kejadian itu kan?" tanya Iqbal.


"Kejadian yang mana?" tanya Kayra.


"Kejadian yang dulu-dulu,"


"Kan aku cuma tanya pak, kalo bapak inget yang bukan tanggung jawab saya," jawab Kayra dengan entengnya. Setidaknya setelah mengobrol dengan Iqbal bisa membuat moodnya sedikit lebih baik dari sebelumnya.


*****


"Lo bahagia bang?" tanya Azmi pada Iqbal. Mereka berdua memutuskan untuk mengobrol berdua di teras rumah. Ibu dan bapak memutuskan untuk ke toko, mengecek berapa bahan yang sudah habis dibantu Artar, sedangkan Kayra, Clara dan Amel sedang berada di kamar Kayra. Entah sedang mengobrolkan apa sekarang ini.


"Alhamdulillah, elo?"

__ADS_1


"Gue nggak tau perasaan gue sendiri bang,"


"Elo bukan bahagia karena lihat gue sama Kayra bahagia kan?" tanya Iqbal. Setelah mendengar cerita Azmi dari Kayra, sudut pandang Iqbal tentang Azmi sedikit banyak juga ikut berubah.


Azmi terkejut mendengar pertanyaan iqbal, meskipun sedetik berikutnya pemuda itu berhasil menguasai mimik wajahnya. "Nggak lah bang, gue masih seneng liat Kayra seneng. Apalagi di tangan orang yang tepat kaya elo," jawab Azmi jujur.


"Jadi elo bukan orang yang tepat?" tanya Iqbal memancing.


"Ya mungkin enggak, makanya gue sama dia nggak jodoh," jawab Azmi.


"Menurut sudut pandang elo, jodoh itu apa si mi?" tanya Iqbal.


"Kenapa elo tiba-tiba tanya tentang itu bang?"


"Nggak papa gue penasaran aja,"


"Elo takut nggak jodoh sama Acha?" tanya Azmi. Iqbal hanya diam, pemuda itu hanya menatap lurus ke depan. "Sama bang gue juga,"


"Juga apa?"


"Takut nggak jodoh sama Kayra," jawab Azmi. Pemuda itu terkekeh pelan, menyadari kebodohannya. "Eh ternyata bener dong, gue nggak jodoh sama gue," jawab Azmi. Pemuda itu meminum kopi yang sebelumnya dibuatkan Artar sebelum pemuda itu menyusul orang tuanya ke toko. "Gue tadinya takut banget kalo nggak jodoh sama dia, tapi akhirnya gue sadar. Itu bukan ranah gue untuk ikut campur. Semua sudah diurus dengan sangat baik, tugas gue sebagai manusia hanya berusaha. Selebihnya kita ikhtiar," jawab Azmi. "Tapi gue pernah baca bang, katanya jodoh itu ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama, jodoh ada karena cerminan satu sama lain. Dan kemungkinan yang kedua, jodoh ada untuk melengkapi satu sama lain,"


"Jadi gue sama Kayra apa?" tanya Iqbal.


Azmi mengangkat bahunya acuh. "Mungkin cerminan karena kalian berdua sama-sama baik, atau mungkin juga Kayra sebagai pelengkap elo yang sudah hampir goyah ditinggal Acha," jawab Azmi santai meskipun pada dasarnya dirinya sangat panas terus menerus ditanya tentang Kayra. Meskipun Kayra masih menjadi topik yang selalu dia rindukan.


"Gue nggak tau kenapa elo terus terusan bawa nama Kayra bang," kata Azmi.


"Ya nggak papa, oke deh kalo elo nggak mau ditanya Kayra,"


"Aneh aja, kenapa elo terus tanya pendapat tentang Kayra ke gue. Sedangkan elo suaminya,"


"Kan elo yang lebih dulu kenal Kayra mi,"


"Tapi elo pemenangnya bang," jawab Azmi tersenyum kecut.


*****


"Lama nggak ketemu Ra," kata Kayra. "Lo apa kabar?" tanya Kayra lagi, gadis itu mencoba mencairkan suasana yang canggung diantara keduanya.


"Iya nih, gue Alhamdulillah sehat,"


"Tante gimana sama anak lo,"


"Mamah sama Raka juga Alhamdulillah sehat,"


"Masih di rumah yang gue sama Acha pilihin kan?" tanya Kayra lagi.

__ADS_1


Clara mengangguk kecil. "Iya masih Kay, makasih banyak ya. Kalo nggak ada kalian berdua gue nggak tau hidup gue sama mamah bakalan gimana saat itu," kata Clara.


"Kay?"


"Iya?"


"Gue nggak nyangka kalo Mas Azmi usah suka sama elo dari lama. Tapi dia nggak berani nyatain ke elo," kata Clara. "Gue udah kegeeran dulu, kirain gue dia suka sama gue. Eh ternyata suka sama elo," jawab Clara.


"Tapi lo suka sama dia?" tanya Kayra.


Clara diam cukup lama, dia sendiri masih bingung harus menjawab apa. Karena sejujurnya masih ada satu nama yang sangat sulit sekali untuk hilang dari kepalanya.


"Jangan bilang lo masih suka sama suami gue?" tanya Kayra.


"Nggak lah Kay,"


"Jadi suka sama Azmi?"


"Iya nggak mungkin kan gue mau nikah sama orang yang nggak gue cintai?" tanya Clara.


Kayra terkekeh pelan, karena dirinya juga mengalami hal itu. Dirinya dan Acha bahkan menikah sebelum rasa cinta itu muncul, tetapi beruntungnya dia karena tidak membutuhkan waktu lama untuk jatuh cinta dengan Iqbal. Sedangkan Kayra bahkan sangat sulit untuk membuka hatinya lagi.


"Be happy ya Kay," kata Clara. "Lo udah baik banget sama gue, elo janji ya kalo lo butuh gue lo harus minta bantuan gue. Nggak boleh sungkan dan nggak boleh malu okay,"


"Nggak Ra, aman kok," jawab Kayra apa adanya.


*****


"Ngobrol apa aja sama mas Azmi mas?" tanya Artar. Pemuda itu mengajak Iqbal untuk kembali duduk di teras setelah Azmi pulang.


"Ngobrol banyak Ar, kenapa?"


Artar menggeleng pelan. "Nggak, nggak papa," jawab Artar.


"Ada yang mau elo omongin sama gue?"


Artar menoleh sebentar ke arah Iqbal. "Lo tau sendiri kan mas, seberarti apa mba Kay buat gue?" tanya Artar. "Dia yang udah buatin bisnis buat bapak sama ibu bahkan sebelum dia sendiri lulus kuliah. Dia juga yang udah biayain sekolah gue sama Amel,"


"Iya gue paham,"


"Nggak ada satu orangpun yang tau sesayang apa gue sama mbak Kay, bahkan gue rela kalo seandainya nyawa gue yang jadi taruhannya," kata Artar.


Iqbal kembali menganggukkan kepalanya, dia tau jika Artar sedang dalam mode serius.


"Gue nggak pandang bulu mas, seandainya elo yang buat mbak Kay sakit, elo pasti gue kejar,"


"Gue nggak akan nyakitin Kayra Ar,"

__ADS_1


"Gue nggak butuh janji apapun mas, yang penting bukti,"


__ADS_2