
Kayra mengernyitkan keningnya, sore ini untuk yang kedua kalinya dia harus berbelanja di supermarket sendirian. Bukannya dia mengabaikan apa yang dikatakan Iqbal waktu itu, tapi baginya jarak dari rumah ke supermarket tidak begitu jauh. Dan tidak akan membahayakan untuknya. Tapi ternyata tebakannya salah.
Untuk yang kesekian kalinya gadis itu menoleh ke belakang, memastikan jika di belakangnya tidak ada siapapun. "Firasat gue aja kali ya," katanya. Dia kembali mencoba fokus memilih daging yang akan dibelinya.
"Assalamualaikum Kayra,"
Sapaan itu jelas mengagetkan Kayra, keningnya berkerut melihat ada sosok pemuda tampan yang pernah ditemuinya di perpustakaan kini tersenyum manis menatapnya.
"Waallaikumsallam," jawab Kayra singkat.
"Sendiri aja?" tanyanya. Seolah-olah dia sudah mengenal Kayra dengan dekat.
Kayra mengangguk kecil. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya Kayra. Dia bahkan tidak menanyakan kenapa pemuda di depannya ini mengetahui namanya
"Benar kan nama kamu Kayra?" tanyanya dengan senyum yang tidak lepas dari wajah tampannya.
Kayra kembali menganggukkan kepalanya. "Iya," jawab Kayra singkat. "Saya permisi ya,"
"Kamu bener tidak ingat siapa saya?"
Kayra menghela nafas pelan. "Kamu orang yang sama kan sama yang di perpustakaan waktu itu?"
Pemuda itu terkekeh kecil. "Dimas," katanya sambil mengulurkan tangannya di depan Kayra.
Kayra mengangguk kecil. "Kamu sudah tau nama saya, saya permisi," tanpa menunggu respon pemuda di depannya itu, Kayra melenggang begitu saja.
"Apa kamu kenal dengan Raissa?" tanya Dimas, pertanyaan yang ditanyakan pemuda itu membuat langkah kaki Kayra terhenti. "Raissa Salsabila Nadhif," katanya lagi. Bibirnya menyunggingkan senyum yang entah apa artinya.
Kayra menghentikan langkahnya, dia menatap pemuda itu dalam diam. "Ada perlu apa dengan Raissa?" tanya Kayra.
Dimas menggeleng pelan. "No, saya tidak ada perlu dengan Raisa,"
"Lantas?"
"Tapi dengan suami Raissa. Muhammad Iqbal Al-khafi," katanya lagi.
"Lalu apa hubungannya dengan Raissa?" tanya Kayra. Dia berusaha bersikap setenang mungkin, meskipun dirinya sangat ingin tau tentang apa yang terjadi sebenarnya.
__ADS_1
Dimas terkekeh. "Ini nggak ada hubungannya sama kamu Kayra," kata Dimas. "Tapi mungkin nanti kamu bisa menanyakan secara langsung ke Raissa atau ke Iqbal," lanjutnya lagi.
Kayra tidak suka dengan pemuda itu, yang terus menunjukkan senyumnya seakan dia sedang menyembunyikan sesuatu dan sedang menertawakan dirinya.
"Baik," Kayra mengangguk kecil. Mood belanjanya sudah hancur sekarang. "Kalau gitu saya permisi," kata kata untuk yang kesekian kalinya.
"Salam ya untuk suami kamu,"
Deg. Dari mana dia tau?
*****
"Kenapa Kay?" tanya Iqbal, pemuda itu mendapati Kayra yang terus diam sejak dirinya masuk ke kamar. "Masih kepikiran sama Clara?" tanya Iqbal.
Ah iya, bahkan Kayra sampai lupa dengan Clara karena pemuda bernama Dimas itu.
Kayra menggeleng pelan. "Aku mau tanya sesuatu boleh pak?" tanya Kayra.
Iqbal mengangguk pelan. "Boleh," jawabnya. "Tentang apa?"
"Apa bapak punya temen yang namanya Dimas?"
"Temennya Bima?" kali ini justru Kayra yang terlihat bingung.
"Kenapa kamu tiba-tiba tanya tentang Dimas?"
"Ternyata cowok yang waktu itu aku ceritain itu namanya Dimas, yang ketemu di perpustakaan. Dan sore tadi aku ketemu dia lagi di supermarket," jelas Kayra.
"Dia tau nama kamu?"
Kayra mengangguk. "Mungkin Bima yang cerita ke dia ngga si?"
Iqbal mengangguk. "Bisa jadi juga si,"
"Jadi, bisa jadi juga Bima yang kasih tau dia kalo bapak menikah sama aku?" tanya Kayra.
Iqbal terlihat tidak begitu kaget dengan apa yang ditanyakan Kayra, karena hubungan pernikahan mereka berdua sudah menjadi rahasia umum dan memang sudah tidak perlu untuk ditutup-tutupi lagi. "Kamu khawatir sama apa Kay?" tanya Iqbal pada istrinya. "Kamu takut kalo orang-orang kembali menghujat kamu?" tanya Iqbal lagi.
__ADS_1
Kayra menggeleng pelan, gadis itu mengambil nafas pelan. "Feeling aku nggak enak banget pak," kata Kayra jujur.
"Kamu takut sama Dimas?"
Antara ragu dan yakin Kayra menggelengkan kepalanya. "Nggak juga, tapi kenapa seakan hal-hal dulu yang kita takutkan kejadian lagi bersamaan dengan adanya Bima?"
Iqbal mengerutkan keningnya. "Kamu juga curiga sama Bima?"
"Aku tau ini akan jadi fitnah jatohnya pak, tapi kenapa momennya bisa pas banget. Kita dapet paket itu nggak jauh sebelum Bima dateng kan? Dan Azmi? Dia juga dapet kiriman, dan siapa lagi yang tau selain kita kalo bukan Bima kalo aku lagi hamil?"
Iqbal menggeleng pelan. "Nggak Kay, Bima orang baik kok. Mungkin kamu curiga karena kamu dulu memang sempet cari tau tentang dia sama Azmi kan?"
"Tapi aku takut," kata Kayra sambil mengelus perutnya yang kian membesar. "Aku takut kejadian dulu terulang lagi," katanya lagi. Traumanya belum sembuh, dia bahkan masih mengingat ketika dia diculik.
"Saya janji saya akan jaga kamu Kay, sesuai janji saya ke Acha,"
*****
"Kenapa diem?" tanya Tara pada kakaknya. Dia baru sampai Jakarta siang tadi, setelah menghabiskan waktu selama tiga hari di rumah Clara. Melihat keseharian Clara membuat setengah dari dirinya merasa tidak tega dengan gadis beranak satu itu.
"Gue harus jawab apa Ta?" tanya Azmi pasrah. "Apa yang harus gue jelasin ke elo? Apa elo bakal ada pihak gue?" tanya Azmi. "Nggak juga kan?" tanyanya lagi.
Tara menghembuskan nafasnya kesal. "Ya elo seenggaknya ngomong apa ke kek gue, tanya keadaan Clara kek atau apa gitu," kata Tara.
"Clara udah ngabarin gue sendiri," jawab Azmi.
Tara melebarkan bola matanya, dia sendiri tidak percaya jika Clara akan menghubungi kakaknya sendiri. "Ko bisa?" tanya Tara bingung. "Kan dia harusnya marah sama lo, harusnya dia maki-maki lo bukan malah telfon lo dan seolah-oleh nggak ada kejadian apapun antara elo sama dia," kata Tara mengacak rambutnya frustasi.
"Gue juga nggak tau kalau akhirnya akan kaya gini Ta, tapi seenggaknya gue lega meskipun gue nyesel karena sudah memperlakukan Clara dan keluarga dia,"
"Apa lo bilang?!" Tara mengangkat wajah Azmi agar melihat ke arahnya. "Lo bilang apa barusan? Lega? Lo lega udah menggagalkan pernikahan elo sendiri? Dengan alasan yang nggak jelas,"
"Ta," panggil Azmi pelan. "Lo sendiri yang ngebiarin gue buat ambil keputusan sendiri kan? Terus kenapa sekarang jadi elo yang marah-marah ke gue? Gue juga tau kalo posisi gue salah disini, tapi elo nggak tau apapun Ta. Elo nggak tau cerita apapun tentang gue,"
"KALO GITU CERITA SAMA GUE!"
"Nggak bisa Ta," kata Azmi. "Gue udah nggak bisa cerita ke siapapun lagi,"
__ADS_1
Tara jongkok di hadapan Azmi, gadis itu mengambil kedua tangan kakaknya. "Berapa kalo si gue bilang kalo elo punya gue hem? Elo punya gue, elo boleh cerita apapun sama gue kak," kata Tara, entah sudah sejak kapan air matanya keluar. Mungkin sejak dia berteriak di hadapan kakaknya. "Ini yang terakhir ya," kata Tara. "Ini yang terakhir lo boleh lukai diri lo sendiri," kata Tara lagi sebelum memeluk tubuh kakaknya.