
"Ohh jadi lo lulusan tahun ini Kay?" tanya Rissa, gadis berparas cantik itu sudah langsung akrab dengan Kayra. Dia bahkan sudah meminta nomor hp Kayra dan mengajak gadis itu untuk membuat kue bersama. "Terus toko roti lo itu? yang jaga orang tua ya?" tanya Rissa lagi.
Kayra mengangguk kecil. "Iya yang jaga orang tua gue," jawab Kayra. "Lo suka bikin kue juga?" tanya Kayra.
Rissa berdehem kecil, gadis itu sedikit melirik ke arah Dimas yang juga sudah asyik dengan Iqbal, entah pemuda itu peduli atau tidak dengan obrolan dirinya dan juga Kayra. "Nggak juga si Kay," jawab Rissa. "Awalnya enggak," ralatnya.
Kayra mengangkat satu alisnya ke atas. "Terus sekarang jadi suka gitu?" tanya gadis itu. "Dulu kenapa nggak suka emang?"
Rissa mengulum bibirnya. "Gue udah suka masak dari masih sekolah si, tapi masak makanan tradisional gitu loh. Bukan yang kue kue gitu," jelas Rissa. "Tapi karena mas Dimas suka makan kue dan suka perempuan yang bisa buat kue jadinya gue belajar," katanya lagi. Gadis itu tersenyum kecil, menoleh sebentar pada Dimas yang juga sedang melihat ke arahnya. "Iya kan mas?" tanya Rissa.
Dimas mengacak rambut Rissa gemas. "Karena gue biasa diluar kan Kay, jadi emang lebih sering makan kue dan lidah gue juga masih kurang cocok sama masakan tradisional gitu," jelas Dimas. Padahal pemuda itu juga tidak perlu menjelaskan hal tersebut pada Kayra. "Tapi beruntungnya gue dapet istri kaya Rissa gini, dia mau belajar hanya untuk sekedar nyenengin gue," kata Dimas lagi.
"Eh Kay, biasanya kalian ngapain aja si kalo lagi berdua?" tanya Rissa tiba-tiba.
Kayra mengerutkan kening bingung, gadis itu menoleh ke Iqbal yang menggaruk tengkuknya. "Maksudnya?"
"Quality time kalian, biasanya ngapain?"
"Ngapain ya?" tanya Kayra pada Iqbal.
Iqbal berdehem kecil. "Kaya pasangan pada umumnya lah, makan di luar gini atau kalo nggak nonton, atau masak bareng"
Kayra mengangguk kecil, ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba hinggap di hatinya. Mungkin yang baru saja disebutkan Iqbal adalah quality time pemuda itu dengan Acha, bukan dirinya. "Nggak jauh beda sama kalian kok," jawab Kayra.
Rissa tertawa kecil, gadis itu menoleh sebentar ke arah Kayra. "Kayaknya kita harus pulang deh mas," kata Rissa pada Iqbal. "Nggak enak ini kita ganggu quality time merek terlalu lama," lanjutnya sambil terkekeh kecil.
"Apaan si," kata Kayra. "Nggak papa kali, sini aja," kata gadis itu. Setidaknya dengan adanya Raissa dan Dimas dia jadi terbebaskan dari topik yang bertema perceraian itu. "Atau kalian lagi buru-buru ya?" tanya Kayra lagi.
Rissa berdehem kecil, gadis itu melirik Dimas yang hanya diam. "Mas Dimas mau ada keperluan lain lagi kayaknya ya mas?"
"Eh? gimana?"
"Kamu katanya ada janji lain kan?" kata Rissa mengulang pertanyaannya.
__ADS_1
"Oh iya ini, kebetulan dia juga udah nunggu," kata Dimas. Pemuda itu lalu beranjak dari duduknya. "Gue duluan ya Bal, Kay," katanya.
"Kapan-kapan kita obrolin lagi ya Dim," kata Iqbal. "Kebetulan gue ada kenalan juga di Jogja, siapa tau bisa bantu,"
"Pasti Bal,"
"Kapan-kapan gue main ke toko lo ya?" kata Rissa sebelum berpelukan dengan Kayra.
"Kabarin aja ya," jawab Kayra.
"Be carefull Kay," bisik Rissa pelan di telinga Kayra. Kayra mengerutkan keningnya bingung, gadis itu semakin tidak paham dengan apa yang dikatakan Rissa padanya. Siapa yang harus hati-hati? Kayra? dari siapa?
"Kenapa Kay?" tanya Iqbal.
Kayra menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran negatif dari kepalanya. "Nggak papa," jawab gadis itu.
"Bima?" gumam Kayra pelan, gadis itu bahkan belum turun dari mobil. Tapi sudah dibuat bingung dengan adanya tetangga yang berkunjung ke rumahnya. "Ngapain Bima kesini malem-malem?" tanya Kayra.
Kayra melepas seatbeltnya, lalu menoleh sebentar ke arah Iqbal. "Nggak papa," jawab Kayra.
"Kamu masih marah sama saya Kay?" tanya Iqbal.
Kayra terkekeh kecil. "Ini bener bapak nanyain itu ke aku?" tanya gadis itu. "Nggak salah? apa bapak sama sekali nggak punya empati? hanya karena bapak tidak mencintai aku bukan berarti bapak bisa memperlakukan aku seperti itu loh pah. Aku juga punya hati, setelah tadi bapak minta pisah dan sekarang dengan entengnya bapak tanya apa aku marah atau enggak," kata Kayra.
"Kan saya juga sudah minta maaf Kay," kata Iqbal. Tampak jelas raut bersalah di wajah pemuda itu.
"Sakit hati dibalas minta maaf itu curang pak," kaya Kayra. Gadis itu bergegas turun dari mobil tanpa mau mendengar balasan dari Iqbal.
Iqbal mengacak rambutnya, pemuda itu menghela nafas berkali-kali, lalu dia turun dan menghampiri Bima yang sedang mengobrol dengan pak Kusnan.
"Waduh yang habis malam mingguan ini baru pulang," kata pak Kusnan.
Iqbal terkekeh kecil. "Cuma makan pak," katanya. "Tolong bawa ini ke dalem ya pak," kata Iqbal menyerahkan paper bag berisi beberapa makanan yang tadi mereka beli.
__ADS_1
"Siap mas," jawab pak Kusnan tanpa diminta dua kali.
"Gimana Bal?" tanya Bima.
"Gimana apanya?"
"Lo habis malem mingguan tapi muka lo kusut gitu," kata Bima, pemuda itu terkekeh kecil.
Iqbal tersenyum, pemuda itu menyalakan rokoknya. "Ternyata ada juga perbedaan Kayra sama Acha yang lain," katanya terkekeh pelan.
"Jangan bilang elo nyamain Kayra sama Acha?"
"Nggak lah,"
"Tapi secara tidak langsung lo sedang membandingkan istri lo dan mantan istri lo bal," kata Bima.
Meskipun Iqbal tidak suka dengan apa yang dikatakan Bima tentang dirinya, tapi mau tidak mau dia juga membenarkan apa yang dikatakan oleh pemuda di depannya ini. "Lo dulu suka sama istri gue kan?" tanya Iqbal. Pertanyaan yang sama sekali tidak disangka akan keluar dari mulutnya.
"Kenapa lo tanya begitu?"
"Udah jawab aja,"
Bima berdehem pelan. "Bukan suka si, tapi lebih ke kagum aja,"
"Kalo gitu harusnya nggak susah kan buat lo untuk kagum sama Kayra juga?"
Bima mengerutkan keningnya bingung, masih belum paham dengan apa yang ditanyakan Iqbal. "Maksudnya gimana si?"
"Banyak orang yang bilang kalo Acha sama Kayra sangat mirip, apa lo juga mikir gitu?"
Bima menganggukkan kepalanya. "Iya si," jawab Bima tanpa ragu. "Tapi Kayra lebih berani dari Acha, dia lebih bisa menunjukkan emosinya. Jadi kalo dia marah atau lagi dalam situasi yang kurang cocok sama dia akan keliatan banget perubahan ekspresinya," jelas Bima.
Iqbal mengangkat satu alisnya ke atas. "Ko lo lebih tau dari gue?"
__ADS_1