
"Jadi kenapa nggak ada yang ngabarin bapak sama ibu kalo Kayra hamil?" tanya Bapak. Di ruang tamu sudah ada Azmi, Iqbal, bapak dan ibu juga Kayra.
Kayra menunduk dalam, gadis itu menautkan jari-jarinya merasa bersalah pada orang tuanya. "Maa-" baru saja dia ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi Iqbal sudah memotong kalimatnya.
"Maaf pak, kita juga nggak ada niatan sama sekali buat nyembunyiin kabar bahagia ini," kata Iqbal.
"Bapak sama ibu nggak marah sama kalian kok," kata ibu. "Tapi dikhawatirkan Kayra nggak bisa jaga kandungan dengan baik, karena ini kan kehamilan pertama dia,"
"Memang dari awal kita berniat kasih tau bapak sama ibu pas kumpul keluarga besok," kata Iqbal lagi. Pemuda yang duduk di samping Kayra itu berkali-kali melirik ke arah Azmi yang juga diam menatapnya. "Maaf ya karena kesalahan Iqbal ini bapak sama ibu jadi kaget,"
Bapak menggeleng pelan. "Nggak papa mas, cuma yang memang bapak kaget aja kenapa nggak ada satupun dari kalian yang ngomong," bapak tersenyum kecil. "Tapi ternyata memang rencana kalian mau kasih kejutan ke kita," lanjutnya lagi.
Iqbal memperbaiki ekspresi wajahnya, pemuda itu tidak perlu berbohong untuk menutupi kesalahan yang dilakukan Kayra dan Azmi. Karena meskipun anak yang dikandung Kayra ini bukan anak kandungnya, tapi Kayra adalah istrinya, jadi memang sudah sewajarnya dia melindungi istrinya sendiri.
Bapak menepuk kedua tangannya di paha. "Ya sudah bapak mau ke siap-siap ke mushola dulu," kata bapak yang diangguki oleh yang lain. "Kalian berdua sekalian sholat magrib disini kan?"
Azmi berdehem pelan, berniat untuk menolak ajakan baik bapak Kayra. "Aku pulang aja pak, kebetulan sudah ada janji di rumah,"
Bapak melirik ke jam dinding yang dipajang di ruang tamu. "Udah mepet waktunya, dari pada sholat di jalan mending sholat disini aja sekalian. Pasti nanti janjinya di undur habis magrib atau habis isya sekalian," kata bapak ditutup dengan senyum meneduhkan laki-laki paruh baya itu.
Azmi menggigit bibir bawahnya, pemuda itu melirik sebentar ke arah Iqbal yang menganggukkan kepalanya.
"Mending sekalian disini aja mi, biar gue ada temennya," kata Iqbal.
"Sekalian makan malem disini ya," kata ibu lagi. "Makan malem sebentar mas Azmi, kan jarang-jarang kumpul begini," katanya lagi mencegah Azmi yang sudah ingin memotong kalimat ibu.
Azmi mendesah pelan, akhirnya dengan berat hati pemuda itu menganggukkan kepalanya. "Iya Bu nggak papa," katanya yang disambut senyuman cerah ibu.
"Sorry ya bang," kata Azmi dalam perjalanan menuju mushola. Kebetulan bapak jalan cukup jauh dari mereka bersama Artar dan pak RW.
"Sorry buat apa,"
"Gara-gara gue elo jadi bohong sama bapak ibu,"
"Emang gue bohong?"
"Eh?"
"Kapan si gue bohong mi? kan emang bener anak di kandungan Kayra anak gue dan emang gue udah niatan mau kasih tau keluarga pas nanti kumpul keluarga besar,"
__ADS_1
Azmi menghembuskan nafasnya pelan. "Syukur deh kalo gitu,"
"Kenapa?" tanya Iqbal pelan. "Lo masih berharap sama Kayra?" tanya pemuda itu pelan, tajam namun tepat.
Azmi terkekeh pelan. "Gue lagi coba buat lupain dia kali bang,"
"Kalo elo emang lagi nyoba buat lupain dia harusnya elo nggak perlu sering-sering main ke rumah," kata Iqbal.
"Tapi bukan berarti gue juga harus jauhin keluarga Kayra kan?"
"Emang nggak," kata Iqbal. "Tapi dengan itu semua bukannya elo semakin susah buat lupain istri gue, sedangkan elo selalu dikelilingi oleh orang-orang yang pasti akan selalu bercerita tentang Kayra,"
Azmi diam cukup lama, memang benar apa yang baru saja di katakan oleh Iqbal dengan dia yang masih sering berhubungan dengan keluarga Kayra membuat dirinya sangat sulit untuk melupakan gadis cantik itu.
"Biarin gue simpen perasaan ini sendiri ya bang," kata Azmi pasrah. "Biarin gue simpan rasa sayang gue sama istri lo ini sendiri, gue nggak akan ganggu Kayra dan gue juga nggak akan ganggu keluarga elo,"
Iqbal diam, pemuda itu tidak menolak ataupun mengiyakan permintaan Azmi, sampai akhirnya mereka berdua sampai di halaman mushola.
*****
"Mas Azmi udah punya calon lain mbak?"
"Nggak tau Bu, kenapa tadi ibu nggak tanya sendiri aja," jawab Kayra. "Kalau enggak nanti pas dia pulang dari mushola,"
"Ibu khawatir,"
"Khawatir kenapa?"
"Khawatir kalo suami kamu cemburu mas Azmi sering main ke rumah,"
"Ya Allah ya enggak lah Bu, lagian mereka juga udah temenan baik dari lama,"
"Tapi mana ada si suami yang nggak cemburu mbak, dateng ke rumah mertua ternyata disana lagi ada seseorang yang pernah dekat sama istrinya," kata ibu.
Kayra menghela nafas pelan. "Pak Iqbal nggak mungkin punya pikiran jelek kaya gitu Bu,"
"Apa kita jodohin mas Azmi sama Yayuk aja ya mbak?"
"Yayuk ponakannya Bu Sur?" tanya Kayra mengerutkan keningnya bingung, pasalnya tidak ada kenalannya yang lain yang bernama Yayuk.
__ADS_1
Ibu mengangguk dengan semangat. "Meskipun dia nggak berhijab tapi kan dia perempuan baik mbak, ibunya juga nggak kata Bu Ratmi sama Bu Tuti jadi mas Iqbal nggak akan di gosipin,"
"Ah ibu mah," kata Kayra. "Sama Clara aja dia nggak mau apalagi sama Yayuk yang cuma diem di rumah. Apalagi kan dia juga masih ada hubungan sama mantannya,"
"Ah masa, kata siapa kamu?"
"Kata Artar tadi,"
"Azmi itu seleranya cewek kota Bu, lagian dia juga temen ceweknya banyak. Ibu nggak perlu khawatir sampe mau jodoh-jodohin dia,"
"Ya kan niat ibu baik mbak,"
"Apalagi dia juga udah lama di luar negeri, bisa jadi dia juga punya temen deket disana," kata Kayra.
"Ah masa sih? bukannya cewek cewek di luar negeri pakaiannya terbuka gitu ya mbak? mereka juga entah sholat atau enggak,"
"Ya gimana mau sholat Bu, orang mereka entah punya agama juga enggak,"
"Masa si mas Azmi suka sama perempuan kaya gitu?"
"Kay nggak tau ibuuuu, udah ah nanti dimarahin sama bapak gara-gara ngomongin orang lagi,"
*****
"Menantunya pak Umar yang mana ini?" tanya imam sholat yang umurnya sudah lumayan sepuh.
"Yang ini Mbah," kata bapak.
Iqbal mengulurkan tangannya. "Iqbal mbah," kata Iqbal.
"Yang ini menantunya?" tanya mbah Imam sambil menepuk pelan bahu Iqbal. "Kalo yang ini siapa?" tanya mbah Imam lagi, kali ini menatap Azmi lurus.
"Saya Azmi mbah temannya bang Iqbal dan Kayra,"
"Ohh jadi ini suaminya ini temannya?"
Mereka berdua mengangguk kompak. "Azmi sudah menikah belum?"
Azmi menggeleng pelan. "Belum mbah,"
__ADS_1
"Ko belum?" tanya mbah Imam tertawa. "Nyari yang seperti apa memang? yang seperti Kayra ta? yang seperti Kayra ya cuma ada satu disini," katanya enteng, seolah-olah dia tau pasti apa yang selalu menggangu pikiran Azmi.