PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 29. ISTRI DIMAS?


__ADS_3

"Kenapa pak? Tumben ngajak makan di luar," kata Kayra pada Iqbal. Jarang sekali Iqbal mengajaknya makan diluar seperti ini, mungkin jika dihitung ini adalah kali ketiga mereka makan diluar setelah pernikahan.


Iqbal tersenyum kecil. "Nggak papa pengen aja," katanya. "Ada yang mau aku omongin sama kamu," katanya lagi.


Kayra mengerutkan keningnya bingung, gadis itu lalu mengangguk paham begitu sadar dimana tempat mejanya sekarang, ternyata bukan tanpa alasan Iqbal memilih meja yang ada di sudut ruangan. "Apa yang mau diomongin emang pak? Emang nggak bisa di rumah aja ya?" tanyanya lagi.


"Sebenarnya bisa si," jawab Iqbal pelan. "Tapi berhubung aku pengen makan seafood juga jadi mending sekalian aja disini,"


Kayra kambali menganggukkan kepalanya. "Jadi gimana?" tanya Kayra.


Iqbal berdehem kecil. "Kay kamu tau kan secinta apa aku sama Acha?" tanya Iqbal. Pemuda itu seolah kembali menyadarkan Kayra jika dirinya sudah tidak bisa membuka hati untuk siapapun, meskipun untuk perempuan baik, cantik dan cerdasnya seperti Kayra.


"Tau pak," jawab Kayra. "Bapak mau bilang kalo nggak bisa mencintai saya kan?" tanya gadis itu menebak. "Nggak papa kok pak, saya juga nggak berusaha buat bapak cinta sama saya. Dengan bapak yang sudah bersikap baik sama saya dan anak saya nantinya aja juga sudah cukup untuk saya," jawab Kayra.


Iqbal tersenyum kecil. "Tapi bukan itu yang mau saya bicarakan sama kamu Kay," kata Iqbal. "Saya nggak tau sampai kapan saya bisa jadi suami kamu Kay, awalnya memang saya merasa biasa saja karena niatnya memang cuma untuk buat Acha lega di atas sana. Tapi lama kelamaan saya merasa hubungan ini percuma, karena pernikahan sejatinya itu untuk ibadah. Sedangkan kita?" tanya Iqbal. "Apa kita pernah beribadah?"


"Bukannya aku yang melayani pak Iqbal juga sudah termasuk ibadah?" tanya Kayra. "Meskipun mungkin aku tidak memenuhi kebutuhan biologis pak Iqbal. Tapi selain itu bukannya saya sudah melakukan yang terbaik sebagai seorang istri," kata Kayra. Gadis itu merasa kurang nyaman dengan Iqbal yang seolah memandangnya dengan sebelah mata.


"Paham Kay, saya paham sekali dengan apa yang kamu maksudkan," pemuda itu meminum kopinya sebentar. "Tapi sekali lagi bukan itu yang saya maksud,"


"Terus?"


"Begini," Iqbal berhenti sebentar, pemuda itu mengambil nafas. "Pertama saya belum bisa cinta sama kamu dan pasti begitu juga dengan kamu. Kedua saya mau mengucapkan banyak terima kasih sama kamu karena meskipun kamu tidak bisa mencintai saya tapi kamu tetap melakukan semua tugas kamu sebagai istri dengan baik," kata Iqbal. "Kay kalo pernikahan kita tetap dilanjutkan mungkin akan semakin banyak orang yang merasa tersakiti," kata Iqbal.

__ADS_1


"Mungkin kan?"


Iqbal diam sebentar, pemuda itu kembali menyesap kopinya. "Nggak Kay, kamu juga tersakiti dengan hubungan ini kan?" tanyanya.


"Terus?" tanya Kayra, gadis itu terlihat sedang menantang meskipun aslinya dia sangat ketakutan. "Jangan bilang pak Iqbal mau minta pisah,"


Iqbal mengangguk kecil. "Kamu mau kan Kay?"


Kayra menggelengkan kepalanya. Tidak menyangka dengan pertanyaan yang ditanyakan Iqbal padanya. "Istighfar pak," kata Kayra. "Bapak sendiri tau meskipun perceraian tidak dilarang rapi perceraian merupakan hal yang sangat dibenci oleh Allah SWT," kata Kayra, gadis itu benar-benar tidak percaya jika kalimat tersebut keluar dari mulut pemuda di depannya. "Bapak bilang sama aku, apa yang masih kurang dari aku sebagai seorang istri, aku pasti akan coba belajar dan perbaiki semuanya," katanya lagi.


Iqbal menggeleng pelan. "Kamu nggak ada kurangnya Kay, kamu sama baiknya sama Acha. Tapi entah kenapa saya kurang yakin bisa membimbing kamu dan menjaga kamu dengan baik," Iqbal menghembuskan nafas pelan. "Saya takutnya karena saya yang belum memiliki perasaan apapun sama kamu jadi membuat saya lalai dalam menjaga kamu Kay. Beda dengan Azmi, dia cinta sama kamu pasti dia akan lakukan semuanya agar kamu aman," kata Iqbal.


Kayra mengangkat wajahnya, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. "Jadi Azmi yang minta bapak ngomong gini ke aku?" tanya Kayra.


"Jadi ini dari bapak sendiri yang ingin cerai dari aku?"


"Saya hanya takut nggak bisa jaga kamu dengan baik Kayra,"


"Dan solusinya adalah perceraian?" tanya Kayra lagi. Hatinya terluka mendengar itu, Meskipun mereka berdua menikah tanpa adanya rasa cinta di dalamnya tapi rasanya sangat ngilu di ulu hatinya.


"Aku nggak pernah minta siapapun untuk menjaga aku pak, baik bapak ataupun Azmi," Kayra menengadahkan wajahnya, mencegah air matanya yang sudah ingin turun membasahi pipi. "Aku bisa jaga diri aku sendiri pak, nggak perlu bapak sampai memiliki keinginan seperti itu hanya dengan alasan takut nggak bisa jaga aku dengan baik. Hal itu justru semakin buat aku sakit hati pak," kata Kayra lagi.


Iqbal menggeleng pelan. "Maaf Kay, maafin saya. Saya benar-benar nggak ada niatan buat kamu sakit hati,"

__ADS_1


"Bukannya bapak sendiri yang janji sama orang tua aku buat jaga aku dengan baik?" tanya Kayra.


Iqbal menganggukkan kepalanya pelan, sebenarnya bukan hal ini yang ingin dia sampaikan, bukan berita perceraian yang ingin dia katakan dengan Kayra. Dia juga sama sekali tidak ada keinginan untuk itu, hanya satu yang dia takutkan sekarang. Ketika umurnya sudah tidak lama lagi, dan Kayra tidak tau akan hal itu. Sedangkan di sisi lain hanya Azmi yang Iqbal percaya untuk menjaga Kayra dengan baik. Acha telah menitipkan Kayra padanya, dia juga sudah berusaha menjaga Kayra dengan sangat baik. Tapi disisi lain, ketika umurnya sudah tidak lama lagi dia juga harus bersiap seperti Acha yang menjodohkannya dengan Kayra.


"Loh? Iqbal?"


Kayra menoleh ke belakangnya, disana dia melihat pemuda yang sempat menemuinya di supermarket dan menanyakan Iqbal juga Acha padanya. "Dimas?"


"Berdua aja bal?" tanya Dimas yang sudah berdiri di sisi Kayra.


"Iya ini mas," jawab Iqbal. Pemuda itu berdiri menyalami Dimas dan juga perempuan di samping pemuda itu. "Ini istri gue, Kayra," kata Iqbal.


Kayra hanya mengangguk sopan, gadis itu tidak ada keinginan untuk menyambut Dimas dengan baik seperti halnya Iqbal.


"Udah lama di indo?" tanya Iqbal.


"Lumayan ini, sekalian mau liburan sama istri," Dimas menoleh sebentar ke arah Kayra. "Kenalin Kay, istri saya. Rissa,"


Kali ini Kayra beranjak dari duduknya, gadis itu mengulurkan tangan menyambut uluran tangan perempuan bernama Rissa. "Kayra," jawab Kayra singkat.


Jika boleh menilai sedikit, Rissa ini sangatlah fashionable. Gadis itu juga kelihatan sekali tumbuh di keluarga kalangan atas, diliat dari barang-barang yang dia pakai saja sudah sangat jelas. Tapi wajahnya sangat meneduhkan, bahkan tidak ada aura antagonis yang dapat Kayra rasakan.


"Wah Kayra lagi hamil ya?" tanya Rissa. "Berapa bulan?"

__ADS_1


__ADS_2