
"Apa kabar Kay?" tanya Clara. Gadis itu tersenyum manis pada seseorang yang sudah banyak membantunya. Ya, Kayralah seseorang yang ingin dia temui setelah dia bertemu dengan Bima siang tadi.
Kayra tersenyum kecil, gadis itu mengaduk coffee lattenya. "Alhamdulillah sehat, kamu gimana kabar?"
"Seperti yang lo liat," jawab Clara.
Kayra mengangguk kecil. "Jadi gimana? kenapa mau ketemu gue disini?" tanya Kayra.
Clara berdehem kecil, gadis itu memperhatikan sekelilingnya. "Nggak ada hal penting yang mau gue omongin si, but i just wanna say thank you so much. Krena lo gue dan mamah masih bisa hidup sampai detik ini, coba kalo waktu itu lo nggak nolong gue," Clara menghela nafas pelan. "Nggak tau deh nasib gue bakal kaya gimana,"
Kayra tersenyum kecil. "Sebenarnya Acha si yang bantu elo. Gue cuma ikut-ikutan aja apa yang di lakuin,"
"Gue kayaknya mau pindah ke Jakarta lagi deh Kay,"
"Oh ya?" Kayra melebarkan matanya, antara yakin dan tidak yakin dengan apa yang baru saja di dengar. "Lo yakin udah aman kalo lo balik sekarang?" tanya Kayra lagi.
Clara mengangkat bahunya, dia juga belum begitu yakin apa orang yang pernah meneror mereka masih ada di Indonesia dan sudah berhenti mengawasi mereka atau orang itu yang menunggu mereka lengah. "Sejauh ini aman-aman aja si Kay," kata Clara.
"Tapi Ra," sanggah Kayra. Gadis itu melipat tangannya di atas meja, mendekatkan tubuhnya dengan Clara yang duduk terpisah meja kecil dengannya. "Bukannya pas hari pernikahan elo sama Azmi, Azmi dapet bueqet dari Mr. x itu?"
"Lo yakin itu dari dia?"
"Gue juga pernah di kirimin paket sama seseorang, udah lumayan lama si. Tapi sampai sekarang gue nggak tau maksud dia ngirim itu ke gue untuk apa,"
"Paket apa?"
"Foto,"
"Foto?" tanya Clara bingung. "Foto apaan?"
"Foto gue pas di perpustakaan, kalo dia emang orang iseng kenapa bisa sampe tau alamat rumah gue?"
Clara menyandarkan punggungnya. "Orang yang dulu suka neror kita udah pergi Kay, dia juga udah janji sama gue nggak akan melakukan itu lagi sama kita,"
Kayra melebarkan matanya, gadis itu mendadak merasakan takut seperti beberapa bulan yang lalu. "Terus itu siapa dong?"
"Ko jadi banyak yang ngejar-ngejar elo ya?" kata Clara heran. "Lo nggak punya musuh kan Kay?"
"Nggak lah,"
"Siapa aja yang tau?"
__ADS_1
"Ya cuma gue, pak Iqbal sama elo,"
"Azmi?"
"Dia nggak tau, gue nggak ngasih tau dia. Tapi nggak tau juga apa pak Iqbal cerita atau enggak," kata Kayra. "Lo serius orang yang dulu udah nggak ada sangkut pautnya sama yang sekarang?"
Clara menganggukkan kepalanya yakin. "Iya gue yakin banget, alasan dia kaya gitu kan karena nyokap gue. Dan dia merasa sekarang nyokap gue udah mendapatkan balasan yang setimpal sama rasa sakit yang dia rasain dulu," kata Clara. "Mending sekarang elo mulai hati-hati deh Kay, jangan mudah percaya sama orang lain. Siapapun itu, seyakin apapun itu. Meskipun di depannya keliatan baik tapi kan belum tentu di belakang dia baik juga,"
*****
Kayra pulang ke rumah dengan keadaan kepala yang penuh tanda tanya. Kenapa Mr x masih mengejar-ngejar dia sedangkan dia tidak melakukan kesalahan apapun. Setidaknya Kayra tidak merasa berbuat salah pada orang lain. Awalnya Mr X melakukan itu karena dendamnya pada keluarga Clara, dan akhirnya merambat ke Acha. Entah apa yang dilakukan Acha dia akhirnya berpindah haluan dan menjadi sering meneror Acha, dan setelah Acha tiada orang itu sekarang mentargetkan dirinya.
"Padahal gue bukan dari keluarga konglomerat, bisnis gue juga bukan bisnis gede yang buat pengusaha lain jadi merasa tersaingi, gue juga nggak merasa berbuat salah ke orang lain. Tapi kenapa seolah-olah dia sedang ingin menunjukkan kalo dari awal memang gue yang dia kejar," Kayra menatap pantulan dirinya di depan cermin. Wajahnya cantik meskipun hanya menggunakan make up tipis yang menutupi flek hitam diwajahnya, dia juga hanya menggunakan lip balm dengan warna yang tidak begitu mencolok. "Nggak mungkin juga kan dia musuh bapak dan sekarang menjadikan gue sebagai alat balas dendam,"
"Kenapa ngomong sendiri Kay?" tanya Iqbal yang ternyata sudah berdiri di belakang Kayra. "Kamu habis ketemu sama siapa si? ko ngomongnya jadi kemana-mana gini?"
"Eh tadi aku ngomong ada suaranya ya?" tanya Kayra yang bingung sendiri. Inilah kebiasaan yang sangat dia benci, dia sering ngomong sendiri karena sebelumnya terbiasa menggunakan masker jadi dia merasa aman kalo ngomong sendiri. Dan terkadang juga dua lupa apakah yang dia ucapkan hanya di dalam hati atau juga keluar dari mulutnya.
Iqbal terkekeh kecil. "Emang ada orang ngomong tapi nggak ada suaranya?" tanya pemuda itu bingung.
"Ada,"
"Kalo ngomongnya dalam hati," gadis itu meringis kecil. "Mau keluar?"
"Enggak,"
"Terus?"
"Nggak papa Kay, kan ini udah sore juga. Si Bima juga katanya mau main kesini,"
"Sekarang jadi akrab banget sama kak Bima ya," ledek Kayra.
"Dari dulu emang udah akrab kali," balas Iqbal sambil tersenyum kecil. "Kamu nggak keluar-keluar lagi?"
Kayra menggeleng pelan. "Enggak deh," jawabnya. "Kaya udah capek banget badan,"
"Mau aku bikinin susu?"
"Nggak usah pak,"
"Atau mau makan apa?"
__ADS_1
Gadis itu kembali menggelengkan kepalanya. "Ngga juga si,"
"Kok kayaknya kamu nggak pernah ngidam ya Kay?" tanya Iqbal pelan.
"eh?"
"Kamu nggak pernah minta beliin apapun sama aku,"
"Aku nggak enak," jawab Kayra pelan.
"Kenapa nggak enak?" tanya Iqbal. "Kan anu kamu juga anak aku Kay," Iqbal mengusap bahu Kayra pelan. "Jadi selama ini kalo pengen apa-apa emang ditahan?"
Kayra meringis pelan, kemudian gadis itu menganggukkan kepalanya. "Maaf,"
"Ini yang terakhir ya Kay, lain kalo kamu pengen sesuatu ngomong aja sama aku," kata Iqbal. Untuk yang pertama kalinya pemuda itu mengusap kepala Kayra yang masih tertutupi hijabnya.
*****
"Kenapa diem aja? perasaan dari kemaren elo diem aja?" kata Tara. "Kemaren elo dari rumah mbak Kay kan?"
"He'em,"
"Terus?"
"Terus apanya?"
"Kenapa elo balik dari sana jadi pendiem gini? tertampar ya lo?" ledek Tara. "Udah dibilang move on, jangan stuck di cewe yang udah punya suami,"
"Kemaren gue ketemu Kayra Ta," kata Azmi tanpa diminta. "Ketemu bang Iqbal juga,"
"Terus?"
"Nggak ada terusannya. Tapi gue masih ngerasa nyesek banget Ta,"
"Udah deh lo ikut gue balik ke Aussie aja, sapa tau elo bisa move on sama bule sana kan,"
"Nggak bisa Ta,"
"Nggak bisa kenapa lagi?" tanya Tara mulai kesal.
Azmi menoleh pelan ke arah Tara. "Orang itu udah balik sini lagi," katanya.
__ADS_1