PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 39. MAKANAN BASI


__ADS_3

Sebelas orang itu mengelilingi meja ruang tamu Kayra, mereka berdua duduk dengan wajah menegang menahan amarah, kecuali bapak. Bapak hanya diam bahkan masih sempat menyunggingkan senyum pada Bu Tuti dan Bu Ratmi yang sudah menuduh keluarganya memberikan makanan basi.


"Perlu manggil pak RT nggak pak?" tanya Artar yang suasana hatinya sudah lebih baik. "Pak RT juga tau sendiri tadi proses masak kita gimana," katanya lagi. Karena istri pak RT sendiri juga ikut membantu masak di rumah, dan sempat dikirimin makanan oleh Amel untuk pak RT siang tadi.


"Nggak usah mas," kata bapak. "Jadi gimana Bu? kenapa ibu dateng marah-marah ke rumah saya? mumpung masih ada besan saya," kata bapak.


Bu Tuti dan Bu Ratmi saling sikut, saling menyudutkan dan tidak mau menjawab pertanyaan bapak.


"Bu Sabar gimana?" tanya bapak kali ini. Memalingkan wajahnya ke Bu Sabar yang sedari tadi hanya diam menundukkan kepalanya. "Kenapa tadi dateng ke rumah saya sambil marah-marah Bu?" tanya bapak lagi.


Bu Sabar juga melakukan hal yang sama dengan Bu Ratmi dan Bu Tuti, hanya diam tanpa mau menjawab pertanyaan dari bapak.


"Apa benar makanan yang dikasih dari acara tujuh bulanan anak saya nasi bu?" tanya ayah. "Tapi kenapa hanya ibu-ibu yang datang untuk komplain ke sini? kenapa bapak bapak dan ibu ibu yang lain tidak melakukan hal yang sama?" tanya ayah lagi. "Bukannya saya mau sombong ya, ibu-ibu ini tau sendiri kan saya siapa? anak saya siapa? besan saya juga. Apa mungkin kami akan kasih makanan basi yang bahan tidak layak untuk dimakan. Saya seorang dokter Bu, tidak mungkin besan saya memberikan makanan basi ke para tetangga. Dan pak Umar sendiri? kita semua tau betapa baiknya pak Umar ini,"


Bu Sabar mengangkat wajahnya, ibu beranak tiga itu menelan ludahnya sebelum berbicara. "Maafin saya pak Umar, Bu Umar, mbak Kayra," katanya. "Jujur saya nggak tau apa-apa, saya hanya mengikuti apa yang diminta sama Bu Tuti saja pak. Saya butuh uang untuk biaya sekolah anak saya, jadi saya nggak ada pilihan lain, suami saya belum kasih uang sama sekali," katanya.


"Apa makanan yang kami kasih basi Bu?" tanya ayah lagi.


Bu Sabar menggelengkan kepalanya. "Sama sekali tidak pak, makanan yang dikasih dari keluarga pak Umar masih segar dan layak makan semuanya,"


"Bu Tuti kenapa menghasut Bu Sabar?" tanya bapak, tangannya mempersilahkan ibu untuk duduk disampingnya karena ibu dibantu bi Surti baru saja membuat minuman untuk mereka semua.


"Sebelumnya saya juga minta maaf pak Umar, saya nggak khilaf melakukan ini,"


"Khilaf gimana? apa untungnya Bu Tuti memfitnah keluarga kamu?" tanya bapak.


"Sore tadi, setelah kamu pulang dari sini. Kamu dicegat sama dua orang pemuda, dia memberikan makanan yang sangat mirip dengan yang pak Umar kasih tapi makanan yang dia kasih sudah basi semua. Dan dia minta saya dan Bu Ratmi untuk menghasut warga yang lain juga,"

__ADS_1


"Kenapa kalian berdua mau?"


"Mereka berjanji mau kasih uang pak,"


"Jadi kalian rela menumbalkan saudara kalian sendiri hanya dengan sejumlah uang yang tidak seberapa?" tanya Ayah kali ini, ayah bahkan sampai menggelengkan kepalanya. Tidak percaya masih ada manusia seperti Bu Tuti dan Bu Ratmi.


"Maafin kami pak Umar," kata Bu Ratmi.


Bapak menghela nafas pelan, meminum kopi yang baru dibuatkan oleh ibunya. "Diminum dulu monggo Bu, mumpung masih hangat," kata bapak yang membuat Ayah, bunda dan Shilla tercengang karenanya.


Bunda menyikut lengan Shilla pelan. "Pak Umar emang sebaik ini?" bisik bunda pelan di telinga Shilla.


Shilla mengangguk kecil. "Emang baik banget Bun, tapi Shilla nggak tau kalo ternyata emang sebaik ini," jawab gadis itu.


Bapak berdehem pelan. "Saya sudah memaafkan apa yang baru saja dilakukan kalian semua, begitu juga dengan keluarga saya. Saya juga minta maaf jika memang ada salah salah kata atau perbuatan yang dilakukan saya, istri saya atau anak-anak saya yang mungkin menyinggung ibu-ibu sekalian. Saya harap kejadian ini tidak akan terjadi lagi diantara kita semua," kata bapak. Kalimat yang bapak ucapkan seolah menjadi ujung dari permasalahan sore ini. Masalah selesai dengan permintaan maaf yang bapak terima dari ibu-ibu ini. Tapi tidak dengan Artar, pemuda itu terlihat masih menyimpan dendam dengan dua ibu-ibu yang selalu menyebarkan gosip tidak benar.


Bapak terkekeh pelan. "Saya kan tidak melakukan apapun pak,"


Ayah menggeleng pelan, menepuk bahu bapak. "Pak Umar ini memberikan contoh yang sangat baik untuk saya dan Iqbal sebagai seorang pemimpin rumah tangga,"


"Saya juga banyak belajar dari pak Hardi dan terima kasih banyak sudah menerima Kayra dengan baik sebagai menantu di keluarga bapak,"


Pak Hardi memeluk ayah erat. "Saya yang harusnya berterima kasih dengan pak Umar. Memberikan restu pada Iqbal untuk menikahi putri sebaik Kayra,"


*****


"Ada yang mau diceritain ke aku Kay?" tanya Iqbal. Mereka berdua sudah ada di kamar Kayra kini.

__ADS_1


Kayra berdehem pelan, gadis itu membenarkan posisi tidur Raissa. "Yang mana mas?"


"Kejadian di tukang sayur?"


"Hem itu," Kayra menyandarkan tubuhnya. "Nggak ada yang salah si, cuma mungkin waktu itu kondisi hati aku juga lagi nggak baik, jadi aku terbawa emosi aja pas Bu Tuti sama Bu Ratmi tanya,"


"Tanya apa emang mereka?"


"Apa aku diterima di keluarga kamu, padahal kan aku istri kedua," kata Kayra. Matanya menatap lekat kedua manik legam miliki suaminya. "Terus mereka juga ngomong aku ada main sama kamu di belakang Acha, makanya setelah Acha meninggal kita menikah,"


"Astagfirullah, mulutnya pedes banget mereka. Pantesan Artar dari tadi sinis banget,"


"Artar juga nggak suka sama mereka berdua,"


"Usil ya?"


Kayra mengangguk kecil. "Suka nyebarin gosip nggak bener," kata Kayra. "Artar sendiri juga pernah digosipin makanya dia selalu panas kalo ada Bu Tuti sama Bu Ratmi,"


"Tapi kata bapak mereka masih keluarga?"


"Iya," jawab Kayra singkat. "Keluarga jauh," lanjutnya lagi.


"Tapi bisa begitu ya?"


"Emang terkadang yang saudara kita sendiri atau orang terdekat kita yang dengan mudah menancapkan pisau dari pada orang lain atau tetangga biasa," kata Kayra. "Ibu juga nggak deket sama mereka," kata Kayra lagi.


"Tapi kamu nggak papa kan Kay?" tanya Iqbal terlihat khawatir. "Kamu tau sendiri kan keluarga besar aku menerima kamu dengan baik?"

__ADS_1


Kayra tersenyum tulus, gadis itu menganggukkan kepalanya. "Iya mas, aku juga udah lupa sama kejadian itu,"


__ADS_2