PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 46. BACK HUG


__ADS_3

Seminggu sudah Iqbal merasakan sakit-sakit di sekujur badannya, akhirnya berkat ketekunan Kayra merawat dirinya yang sering kali mengeluh sakit dia bisa berjalan mengelilingi kompleks kembali.


"Udah baikan mas Iqbal?" tanya pak Munawar selaku imam di mushola yang biasa didatangi Iqbal.


"Alhamdulillah sudah ini pak,"


"Berkat istri ini ya," ledek pak Rasam. Rumahnya juga tidak begitu jauh dari rumah Iqbal dan Kayra. "Apa karena ayahnya dokter jadi dikasih obat paling mujarab makanya cepet sembuh gini,"


Iqbal terkekeh geli. "Alhamdulillah karena punya dokter pribadi si pak,"


"Beruntung banget mas Iqbal ini, punya istri seperti mbak Kayra. Udah cantik, pinter, telaten, jago bikin kue lagi," kata pak Rasam memuji Kayra. "Nggak kalah sama mbak Acha lah," lanjutnya lagi. Tidak ingin membuat Iqbal merasa tidak enak karena pujiannya kepada istri kedua pemuda itu.


"Alhamdulillah pak, rezeki Allah tidak pernah salah alamat," jawab Iqbal apa adanya. "Kalo gitu saya pamit pulang dulu ya pak, udah cukup berkeringat ini. Kebetulan udah sore," kata pemuda itu.


"Udah pulang mas?" tanya Kayra yang sedang merajut di halaman ruma mereka.


Tanpa menjawab Iqbal berjalan pelan mendekati istrinya.


"Kanapa?" tanya Acha karena Iqbal datang-datang dengan wajah cemberut. "Kalah mainnya makanya pulang mukanya di tekuk gini,"


"Nggak," jawab Iqbal singkat padat dan jelas.


"Terus?"


"Mereka muji kamu Kay?"


Kayra mengerutkan keningnya, tidak mengerti apa yang dimaksud Iqbal. Lantas kenapa jika dirinya dipuji. "Masalahnya dimana si? kamu marah gara-gara aku dipuji bapak bapak komplek? terus kamu lebih seneng kalo aku dijelek-jelekin gitu? kata Bu Ratmi sama Bu Tuti?" tanya Kayra yang kembali ingat dengan dua tetangganya yang sangat menyebalkan.


"Ya nggak juga Kay,"


"Terus?"


"Nggak ada terusannya, aku nggak suka aja kalo kamu dipuji,"


"Iya, jadi kamu lebih suka kalo aku dihina?" tanya Kayra lagi. "Lagian kan mereka emang gitu mas? emang mereka muji aku gimana si?"


"Ya biasa bilang kalo kamu cantik, pinter, jago bikin kue, telaten,"


"Terus menurut kamu itu salah nggak?" tanya Kayra memancing.

__ADS_1


Iqbal menggeleng pasrah. "Ya nggak si,"


"Kalo salah menurut kamu aku gimana dong?"


"Nggak salah sayang mereka semua bener," jawab Iqbal. "Tapi tetep aja aku nggak suka," kata Iqbal lagi, lalu pemuda itu masuk saja ke rumahnya. Membuat Kayra semakin menyipitkan matanya bingung.


"Padahal kan gue yang hamil, kenapa jadi dia yang ngambekan?"


*****


"Gue ngerasa akhir-akhir ini ada yang ngawasin gue deh mbak," kata Shilla. Setelah berdebat cukup lama dengan Iqbal akhirnya dia bisa membawa Kayra ikut serta dengannya. "Nggak tau kenapa gue ngerasa orang itu deket sama gue, entah niat dia emang baik atau enggak gue nggak tau ya. Tapi jujur gue takut si,"


"Ayah sama bunda tau? mas Iqbal?"


Kayra menggeleng pelan. "Nggak lah mbaa, mana berani gue kasih tau mereka,"


"Lo ngerasa gitu dari kapan?"


"Bisa dibilang dari dua minggu yang lalu si," jawab Shilla mencoba mengingat kembali keanehan yang dirasakan.


"Wait, hubungan elo sama Alvin sekarang gimana? aman?"


Kayra melebarkan matanya, firasatnya ternyata benar jika Shilla sudah tidak ada hubungan dengan Alvin. "Dari kapan? ko lo nggak ada cerita ke gue?"


"Semingguan yang lalu lah, bagi gue nggak penting mbak makanya gue juga nggak cerita ke siapapun. Sama bunda sama ayah juga nggak,"


"Tapi mereka tau?"


"Pada akhirnya juga mereka akan tau sendiri," jawab Shilla.


"Apa mungkin ini semua ada hubungannya sama Alvin?"


"Kenapa Alvin?" tanya Shilla bingung. "Dia udah terbang ke Paris mbak, tiga hari setelah putus dari gue dia pergi,"


"Lo yakin dia bener-bener pergi?"


Shilla mengangguk yakin. "Emang apa yang buat gue nggak yakin?" katanya. "Dia emang pergi, dan gue juga ikut dia,"


Kayra mengangguk paham. "Gini," katanya. "Sejauh ini apa lo ngerasa terganggu sama dia?"

__ADS_1


Shilla menggeleng. "Nggak juga si," katanya pelan. "Cuma gue penasaran aja sama dia, apa niat dia, apa dia bermaksud baik sama gue atau ada maksud terselubung," kata Shilla. "Kan nggak enak ya mbak punya firasat begini,"


Kayra terkekeh geli. "Tapi kenapa elo bisa tenang-tenang aja ya?" tanya gadis itu bingung sendiri. Pasalnya Shila mengatakan jika gadis itu tidak merasa terganggu sedikitpun dengan seseorang yang mungkin sedang menguntitnya.


"Nggak tau gue rasa dia orang baik deh," jawab Shilla asal.


*****


Iqbal mendekat ke Kayra yang sedang sibuk bereksperimen dengan resep barunya. Gadis itu terlihat sangat fokus mencampurkan bahan menjadi satu, tidak jarang juga Kayra berdecak kesal jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi.


Iqbal berjalan mengendap-endap ke arah Kayra, bibirnya tersenyum senang karena istri cantiknya tidak menyadari kedatangan dirinya. Pelan, tangan Iqbal menyelinap masuk ke sela-sela lengan Kayra. Memeluk gadis itu dari belakang, meletakan dagunya di bahu Kayra yang diam membatu.


Bukan lagi syok yang Kayra rasakan, dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun. Perlakuan Iqbal padanya sangat tidak terbaca olehnya. Bagaimana bisa Iqbal tiba-tiba bersikap romantis seperti ini padanya.


"Kok diem?" tanyanya tanpa dosa. Apa pemuda ini sama sekali tidak tahu jika gadis yang di peluk sedang ambyar, bahkan Kayra sendiri tidak yakin jika kakinya masih menapaki lantai.


"Mas ngapain kaya gini?" tanya Kayra, suaranya pelan hampir tidak terdengar jika saja Iqbal sedikit lebih jauh darinya. Tapi karena wajah pemuda itu berada tepat di samping wajah Kayra -bahkan pipi keduanya saling bersentuhan, jadi dia bisa mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Kayra.


"Emang kenapa?" tanyanya lagi. Seakan mereka sudah terbiasa melakukan ini, padahal ini yang pertama kali ya sejak menikah.


"Aku kan lagi masak,"


"Kan aku nggak ganggu kamu masak Kay," balas Iqbal, kali ini tangan besarnya mengusap lembut perut Kayra. Gadis itu seakan merasakan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Mungkin anaknya senang dengan perlakukan ayahnya ke bundanya.


Kayra melepaskan pelukan Iqbal, gadis itu kini berhadap-hadapan dengan suaminya. "Mas mending tunggu aja deh di ruang televisi," usul Kayra. "Aku bentar lagi juga selesai kok," katanya lagi.


"Emang aku nggak boleh bantuin?"


"Emang kamu bantuin?"


"Kan aku bantu kamu," kata Iqbal pemuda itu mengerlingkan matanya. "Biar kamu makin semangat eksperimennya,"


Kayra menghela nafas berat. Membantu apanya, adanya dia merusak ide ide yang sudah Kayra dapatkan.


"Duduk aja deh ya,"


Iqbal tersenyum geli, pemuda berdehem pelan. "Tapi kamu seneng dipeluk dari belakang?" tanyanya tanpa dosa.


Kayra memejamkan matanya, menahan agar tidak terlihat salah tingkah mendengar pernyataan polos suaminya itu.

__ADS_1


"NGGAK,"


__ADS_2