PESONA GADIS BERMATA HAZEL

PESONA GADIS BERMATA HAZEL
BAB 34. KABAR KEHAMILAN


__ADS_3

"Kita kan memang nggak bisa mengontrol manusia, mau mereka berkomentar apapun ya sudah biarkan saja. Kita nggak bisa pakai dua tangan kita untuk menutup mulut mereka, tapi kita bisa menggunakan tangan kita ini untuk menutup telinga kita biar nggak denger apa yang mereka omongin," kata ibu memberikan wejangan.


"Tapi Amel kalo tutup kuping masih bisa denger ibu ngomong apa bu," jawab Amel begitu saja.


Kayra tertawa pelan. "Berarti Amel kalo ibu lagi ngomong suka tutup kuping ya?"


Amel meringis pelan. "Ya habisnya ibu kalo marahin Artar keras banget jadi kan Amel nggak fokus nonton Upin Ipinnya,"


"Tapi kalo ibu sama bapak lagi masih nasehat nggak boleh tutup kuping loh ya," kata Kayra, gadis itu kembali mencocolkan tempe mendoan ke sambal kecap yang ibu buat. "Itu sama saja kaya anak durhaka, kan Amel ngaji jadi tau kalo-" kalimat Kayra terputus ketika gadis itu mendapati ada bayangan seseorang yang sedang jalan ke arah mereka. Kedua pupilnya semakin melebar begitu dia tahu siapa pemilik sepatu berwarna putih itu.


"WAHH MAS AZMIIIIII," teriak Amel, anak itu langsung berlari ke pelukan Azmi. "Mas Azmi kenapa lama banget nggak main ke sini si?" tanya Amel polos. "Eh di rumah lagi ada mbak Kayra sama de Raissa loh, tuh," kata Amel sambil menunjuk kecil Kayra.


Azmi menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia sama sekali tidak tahu jika keputusannya ke rumah orang tua Kayra hari ini ternyata membuat dirinya harus bertemu gadis itu.


"Assalamualaikum Bu, pak," Azmi melewati Kayra begitu saja. Pemuda itu bersalaman dengan ibu dan bapak yang masih menyambutnya dengan baik. "Tumben di rumah Tar?" tanya Azmi menepuk bahu Artar pelan.


"Nggak ada temen buat keluar mas," jawab Artar asal.


"Dari mana mas?" tanya Ibu.


"Dari rumah aja bu, tadinya mau sama Tara eh malah taranya udah ada janji duluan sama temen-temennya,"


"Udah sarapan belum? sarapan dulu ya, tadi ibu buat sayur asem sama goreng ayam,"


Azmi menggeleng pelan. "Ah nggak usah Bu, tadi udah makan di rumah kok," jawab pemuda itu kikuk. Keberadaan Kayra setelah gadis itu menikah cukup mengganggunya, Azmi menahan setengah mati dirinya agar tidak menoleh pada Kayra yang asik bermain dengan Amel dan juga Raissa.


"Mau ngobrol sama bapak dulu atau sama Kayra dulu?" tanya bapak yang seolah tau apa maksud dan tujuan Azmi datang ke rumahnya.


Azmi membasahi bibir bawahnya, pemuda itu merasa salah tingkah ditatap demikian oleh Kayra. "Sebenarnya saya ke sini cuma mau main aja si pak," jawab pemuda itu. "Tapi karena kebetulan ada Kayra jadi sekalian aja," lanjutnya lagi yang membuat kening Kayra berkerut bingung.


Bapak mengangguk kecil. "Ya sudah kalo begitu bapak sama ibu masuk ya," kata bapak. "Artar sama Amel juga masuk dulu nak, biarin mas Azmi sama mbak Kayra ngobrol dulu,"


Artar dan Amel menurut, Artar masuk dengan menggendong Raissa. "Tinggal dulu ya mas," katanya lalu diangguki oleh Azmi.

__ADS_1


Azmi berdehem pelan, sudah lebih dari lima menit keduanya diam, sibuk dengan pikirannya masing-masing.


"Ada apa?" tanya Kayra memecah hening.


"Apa kabar?" Azmi bertanya tanpa menoleh sedikitpun ke arah Kayra. "Terakhir kita ketemu waktu aku gagal nikah kan?"


Kayra mengangguk kecil. "Alhamdulillah baik, pak Iqbal juga baik," jawabnya pelan, padahal Azmi sama sekali tidak menanyakan keadaan suami gadis itu.


"Kay,"


"Hem?"


"Aku masih penasaran," cicit Azmi pelan, hati-hati karena takut akan terdengar oleh orang tua Kayra.


"Penasaran?" satu alis Kayra terangkat ke atas. "Penasaran sama apa?"


Azmi melirik pelan ke perut Kayra yang sudah membesar, entah disadari oleh bapak dan ibu atau tidak. "Bapak sama ibu nggak tau kalo kamu lagi hamil?" tanya Azmi.


Kayra mengalihkan pandangannya dari Azmi, gadis itu menatapi pohon mangga yang berjejer di depannya. "Aku belum ngasih tau siapapun,"


"Kamu kesini cuma mau nanya ini?" tanya gadis itu. "Aku nggak bisa jawab, maaf,"


"Maafin aku Kay,"


"Maaf untuk kesalahan kamu yang mana?"


"Banyak banget ya kesalahan aku sampai kamu ngomong gitu," kata Azmi, pemuda itu menundukkan wajahnya. "Aku nggak tau kalau akhirnya akan kaya gini Kay,"


Kayra menghela nafas berat, dia sendiri juga tidak tahu akan seperti apa nasibnya nanti jika bapak dan ibu tahu. "Tolong jangan bahas ini dulu ya," kata Kayra.


"Tapi kamu maafin aku kan Kay?"


"Maafin untuk kamu yang udah buat aku kaya gini?" tanya Kayra sambil menatap perutnya, tangannya terangkat untuk mengelus perutnya. Memang karena pakaiannya yang selalu tertutup dan dia juga nggak menggunakan korset, perutnya yang besar ini tidak begitu terlihat. Bahkan tidak disadari oleh bapak dan ibu.

__ADS_1


Azmi mengangguk kecil. "Aku nggak tau kalau kamu hamil, aku ngga-"


"Siapa yang hamil?"


Suara ibu membuat Azmi dan Kayra terlonjak kaget. Kayra dan Azmi saling pandang menatap ibu yang berdiri disana membawa dua cangkir teh dan beberapa cemilan.


"Siapa yang hamil mbak?"


"Ahh maaf Bu," kata Azmi. Kalimat yang pemuda itu lontarkan membuat Kayra melebarkan matanya. "Aku kira Kayra sama bang Iqbal udah cerita,"


"Cerita apa?" tanya ibu yang sekarang ikut duduk di tengah-tengah mereka.


"Cerita kalau Kayra lagi hamil bu," jawab Azmi tanpa ragu. "Ternyata mereka berdua sengaja mau bikin surprise buat ibu sama bapak," kata Azmi lagi.


Kayra menatap pemuda itu dengan pandangan yang sulit di artikan, Azmi sama sekali tidak berbohong. Kayra memang sedang hamil bukan, dan ibu juga tidak bertanya siapa ayah dari anak yang ada dikandungan Kayra.


"Alhamdulilah, kenapa nggak cerita to mbak,"


"Hehe maaf Bu," jawab Kayra. Dia sendiri tidak tau harus menjawab apa.


"Jadi belum ada yang tau kalo kamu hamil? mertua kamu juga belum tau?"


Kayra menggeleng pelan. "Belum ada Bu," jawab gadis itu pelan.


"Ya sudah kalian selesaikan dulu, kalo sudah selesai nanti masuk biar kita ngobrol di dalem," kata ibu.


"Kenapa kamu ngomong gitu ke ibu?" tanya Kayra.


"Kan nggak mungkin kalo aku ngomong itu anak aku Kay,"


Kayra menghela nafas pelan, kali ini kepalanya benar-benar pusing. Dan mungkin akan terasa lebih pusing nanti ketika anak ini sudah lahir.


"Janji ya Kay jangan pernah larang aku buat ketemu sama anak aku nanti,"

__ADS_1


"aku nggak bisa janji apapun sama kamu," kata Kayra. "Aku udah sering dijanjiin macem-macem tapi nggak di tepati juga, jadi aku nggak mau buat orang lain rasain hal yang sama kaya apa yang aku rasain,"


Azmi mengangguk paham, dia tau kenapa Kayra menjadi seperti ini. "Maaf ya, tapi percaya atau enggak aku akan selalu ada untuk kamu Kay. Sama seperti aku yang dulu, aku nggak perlu janji kan? karena kamu juga nggak akan percaya sama janji yang aku buat,"


__ADS_2